Penurunan Estrogen Saat Menopause Picu Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut

Penurunan Estrogen Saat Menopause Picu Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut
Foto: Ilustrasi Penurunan Estrogen Saat Menopause Picu Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut.

Penurunan kadar hormon estrogen pada perempuan yang memasuki masa menopause memicu berbagai gangguan kesehatan gigi dan mulut yang serius. Kondisi ini sering kali ditandai dengan berkurangnya aliran air liur yang berisiko menyebabkan peradangan gusi hingga pengeroposan tulang penyangga gigi, Rabu (13/5/2026).

Kesehatan rongga mulut menjadi rentan karena fungsi perlindungan alami dari air liur menurun drastis, sebagaimana dilansir dari Lifestyle. Masalah mulut kering yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi komplikasi jangka panjang bagi perempuan lanjut usia.

"Aliran air liur berperan besar dalam mencegah gigi berlubang dan mencegah penumpukan biofilm bakteri pada gigi," kata dokter gigi kosmetik di San Mateo, California, AS, Lior Tamir.

Dokter gigi kosmetik di New York City, Michael J. Wei menjelaskan bahwa minimnya air liur merupakan faktor utama penyebab sensitivitas gigi. Selain itu, kondisi ini menjadi pemicu munculnya penyakit gusi yang signifikan.

Sementara itu, Richard Lipari dari Lipari & Mangiameli Dentistry menyoroti adanya risiko kerusakan struktur tulang yang mendukung posisi gigi. Penurunan hormon tersebut berdampak langsung pada stabilitas gigi di dalam mulut.

"Pendorong utamanya adalah penurunan estrogen, dan pada tingkat yang lebih rendah, progesteron," kata Richard Lipari.

Estrogen diketahui memiliki fungsi krusial dalam menjaga kepadatan tulang dan mengatur produksi saliva. Ketika kadar hormon ini merosot, mikrobioma di dalam mulut mengalami pergeseran yang merugikan.

"Saat kadarnya menurun, aliran air liur berkurang, mikrobioma mulut bergeser, dan respons peradangan menjadi lebih jelas, membuat jaringan gusi lebih rentan," ujar Richard Lipari.

Gejala gangguan mulut ini sebenarnya sudah bisa dideteksi jauh sebelum masa menopause benar-benar dimulai. Fase perimenopause menjadi periode awal fluktuasi hormon yang memengaruhi kondisi fisik pasien.

"Perubahan-perubahan ini belum tentu dimulai pada hari menopause dimulai karena sering muncul selama perimenopause, ketika kadar hormon berfluktuasi," kata Richard Lipari.

Pasien disarankan untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal seperti gusi yang mudah berdarah. Intervensi dini sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan permanen pada jaringan mulut.

"Banyak perempuan mulai menyadari gejala seperti mulut kering, gusi sensitif, atau peningkatan pendarahan pada usia 40-an, sebelum menopause dicapai," sambung Richard Lipari.

Untuk meminimalkan dampak tersebut, para ahli menyarankan penggunaan produk perawatan khusus seperti pasta gigi yang mengandung nano-hydroxyapatite (nHA). Penggunaan sikat gigi elektrik juga direkomendasikan untuk pembersihan plak yang lebih efektif.

"Kekuatan getar sikatnya membuat mulut terasa seperti gigi telah dibersihkan secara menyeluruh, seolah-olah dilakukan di klinik gigi," ucap dokter gigi kosmetik Brian Kantor.

Selain peningkatan kebersihan mandiri, frekuensi pemeriksaan ke dokter gigi sebaiknya ditingkatkan menjadi setiap tiga hingga empat bulan sekali. Konsumsi air putih yang cukup serta pembatasan kafein dan alkohol menjadi langkah tambahan untuk menjaga kelembapan rongga mulut.

Artikel terkait

Rekomendasi