Puasa selama ini identik dengan kewajiban spiritual dan ibadah bagi umat Islam untuk melatih pengendalian diri sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun, di balik dimensi keagamaan tersebut, aktivitas menahan lapar dan haus ini menyimpan mekanisme biologis yang menyehatkan tubuh.
Dilansir dari Katanetizen, salah satu konsep medis yang berkaitan erat dengan aktivitas ini adalah autophagy. Proses alami ini berfungsi sebagai sistem pembersihan internal yang menghancurkan komponen sel rusak demi menjaga keseimbangan tubuh.
Istilah autophagy sendiri mulai dikenal dalam dunia kesehatan dan genetika sejak era 1960-an. Melalui mekanisme ini, sel tubuh akan mengeliminasi protein yang rusak, organel yang tidak lagi berfungsi optimal, serta patogen tertentu agar tidak terjadi penumpukan zat berbahaya.
Memasuki dekade 1970-an, para ilmuwan mulai memahami cara kerja autophagy secara lebih mendalam. Peneliti menemukan bahwa hormon seperti glukagon bertindak sebagai pemicu, sementara asam amino tertentu justru menghambat proses pembersihan tersebut.
Penelitian mengenai mekanisme ini mencapai puncaknya berkat kontribusi ilmuwan asal Jepang, Yoshinori Ohsumi. Sejak tahun 1990-an, ia melakukan penelitian mendetail yang membuatnya dianugerahi Hadiah Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran.
Bagaimana Puasa Memicu Autophagy
Secara ilmiah, pembatasan asupan makanan menjadi stimulus efektif untuk mengaktifkan autophagy. Ketika tubuh tidak menerima pasokan energi dari luar, prioritas metabolisme akan mengalami pergeseran secara signifikan.
Energi yang semula dialokasikan untuk pertumbuhan dan penyimpanan lemak akan dialihkan guna memperbaiki jaringan. Kajian medis menunjukkan bahwa proses daur ulang ini meningkat setelah tubuh berpuasa dalam jangka waktu tertentu.
Saat berada dalam fase puasa, kadar insulin dan glukosa dalam darah akan menurun drastis. Penurunan ini menjadi sinyal bagi tubuh untuk memanfaatkan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak sebagai sumber energi alternatif.
Manfaat Biologis bagi Kesehatan Fisik
Pembersihan seluler yang melibatkan eliminasi mitokondria tidak optimal dan protein salah lipat ini berdampak positif bagi tubuh. Aktivitas tersebut terbukti meminimalkan risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan penuaan.
Melalui berkurangnya stres dan peradangan di tingkat sel, kesehatan organ tubuh dapat lebih terjaga. Puasa juga merangsang peningkatan hormon pertumbuhan secara temporer yang berfungsi mempertahankan massa otot yang sehat.
Selain itu, sensitivitas insulin akan meningkat seiring penurunan kadar gula darah selama berpuasa. Regenerasi sel imun yang dipicu oleh autophagy juga membuat sistem kekebalan tubuh bekerja lebih efektif dalam menangkal penyakit.
Daur ulang protein yang rusak terbukti menurunkan risiko penyakit degeneratif dan meredakan inflamasi. Ditambah lagi, momen ini memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan, membantu stabilitas tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, serta mengoptimalkan fungsi ginjal.