Mencegah Stres Hewan Kurban untuk Menjaga Kualitas Daging

Mencegah Stres Hewan Kurban untuk Menjaga Kualitas Daging
Foto: Ilustrasi Mencegah Stres Hewan Kurban untuk Menjaga Kualitas Daging.

Ibadah kurban pada 10 Dzulhijjah merupakan momen penting bagi umat Islam yang harus dilakukan dengan memperhatikan aspek kesejahteraan hewan. Penanganan yang keliru terhadap hewan ternak dapat memicu kondisi stres yang merusak mutu daging hasil sembelihan.

Proses mematikan hewan harus dilakukan secara benar hingga mencapai kematian sempurna sesuai kaidah syariat dan kesejahteraan hewan, sebagaimana dikutip dari Cahaya. Terdapat standar ketat yang harus dipenuhi dalam proses ini untuk memastikan hasil yang optimal.

Dr. Ir. Henny Nuraini, MSi, selaku Dosen Fakultas Peternakan IPB University dan auditor halal senior LPH LPPOM, menjelaskan persyaratan penting dalam penyembelihan. Ia menegaskan bahwa aspek kesehatan dan kondisi hidup hewan menjadi prioritas utama.

"Dalam proses ini, terdapat lima persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya yaitu standar hewan harus halal, dalam keadaan hidup, dan sehat," ujar Henny.

Mencegah stres sebelum proses penyembelihan menjadi bagian krusial dari perlakuan terhadap hewan kurban. Faktor pemicu stres pada ternak bisa muncul dari sisi fisik maupun psikologis selama masa penampungan atau perjalanan.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, drh. Supratikno, M.Si., PAvet., memaparkan bahwa kelelahan akibat transportasi jauh dapat memicu stres fisik. Sementara itu, rasa takut, lapar, dan cuaca panas menjadi pemicu stres dari sisi psikologis.

"Stres menyebabkan glikogen dalam otot menurun sampai level yang sangat rendah. Hal ini membuat terjadinya perubahan komposisi biokimia dalam daging. Akibatnya, saat penyembelihan, kualitas daging menjadi DFD (Dark ÔÇô Firm ÔÇô Dry) atau bisa diartikan kualitas daging jelek," terang Supratikno.

Pada kondisi stres akut yang berat, hewan akan mengalami respirasi anaerob yang memproduksi asam laktat secara berlebih. Tingginya kadar asam laktat saat penyembelihan memicu penurunan pH secara drastis pada jaringan tubuh hewan.

Dampaknya, darah akan banyak tertinggal di area otak, otot, serta pembuluh darah karena proses pengeluaran darah tidak berjalan tuntas. Hal ini berisiko menurunkan nilai guna daging yang akan dibagikan kepada masyarakat.

"Kedua hal tersebut menyebabkan ketidaksempurnaan pengeluaran darah. Kualitas daging menjadi pucat, lembek, dan berair. Daging seperti ini akan mudah busuk dan susut masaknya tinggi," jelas Supratikno.

Panitia kurban perlu mengatur lokasi penyembelihan dengan cermat untuk menekan tingkat stres pada hewan ternak. Pengaturan area yang tenang dan tertata membantu menjaga perilaku hewan tetap terkendali sebelum dipotong.

Beberapa poin utama yang harus diperhatikan di lokasi penyembelihan meliputi pembatasan akses area hanya untuk petugas dan pihak berkepentingan. Suasana di sekitar lokasi juga harus diupayakan tetap kondusif dan jauh dari kebisingan yang mengganggu.

Area penampungan harus dipisahkan secara fisik dari tempat penyembelihan agar hewan yang masih hidup tidak merasa terancam. Hewan kurban dilarang melihat proses penyembelihan hewan lain atau melihat pemisahan kepala hewan yang sudah disembelih.

Petugas juga harus memastikan seluruh peralatan telah siap sepenuhnya sebelum membawa hewan ke meja sembelih. Kesiapan alat yang matang akan mempercepat proses kematian sehingga hewan tidak menderita terlalu lama dalam kondisi sadar.

Artikel terkait

Rekomendasi