Memasak di Rumah Tekan Risiko Penurunan Fungsi Otak Lansia

Memasak di Rumah Tekan Risiko Penurunan Fungsi Otak Lansia
Foto: Ilustrasi Memasak di Rumah Tekan Risiko Penurunan Fungsi Otak Lansia.

Aktivitas mengolah makanan di dapur secara mandiri ditemukan efektif menurunkan risiko penurunan fungsi otak atau demensia pada kelompok lanjut usia secara signifikan. Temuan ini dipublikasikan melalui Journal of Epidemiology & Community Health pada Maret 2026 berdasarkan pengamatan terhadap hampir 11.000 lansia di Jepang.

Data penelitian menunjukkan bahwa pria yang rutin meracik makanan memiliki potensi risiko demensia 23 persen lebih rendah, sementara pada wanita angka penurunan risiko mencapai 27 persen. Studi yang dilansir dari Lifestyle ini menekankan pentingnya kemandirian di dapur bagi mereka yang berusia 65 tahun ke atas.

Profesor di Departemen Kesehatan Masyarakat di Institut Sains Tokyo, Yukako Tani, PhD, menjelaskan bahwa fokus penelitian ini didasari oleh laporan Lancet Commission tahun 2020 mengenai faktor gaya hidup. Faktor tersebut diyakini mampu mencegah sekitar 40 persen kasus demensia di dunia.

"Kami berfokus pada memasak di rumah karena laporan Lancet Commission pada tahun 2020 mengidentifikasi bahwa sekitar 40 persen kasus demensia dapat dicegah dengan mengubah faktor gaya hidup, seperti diet dan aktivitas fisik," ucap Tani.

Menurut Tani, kebiasaan ini secara otomatis meningkatkan asupan nutrisi berkualitas karena konsumsi sayur dan buah cenderung naik dibandingkan makanan olahan. Selain aspek gizi, kegiatan belanja bahan makanan juga memberikan porsi olahraga ringan bagi pensiunan.

"Memasak di rumah juga melibatkan aktivitas fisik seperti berbelanja dan menyiapkan makanan, yang merupakan sumber olahraga penting bagi orang dewasa yang lebih tua, terutama setelah pensiun," lanjut Tani.

Penelitian tersebut menggarisbawahi bahwa frekuensi menyiapkan hidangan sederhana dari tahap awal, seperti mengolah bumbu, berkaitan erat dengan terjaganya kesehatan kognitif. Tani menilai memasak adalah pola hidup yang berkelanjutan untuk menjaga otak.

"Hal ini menyoroti memasak di rumah sebagai perilaku gaya hidup yang potensial, sederhana, dan berkelanjutan, yang dapat berkontribusi pada pemeliharaan kesehatan kognitif," papar Tani.

Fakta unik ditemukan pada kelompok pemula yang belum mahir mengolah makanan, di mana manfaat yang diperoleh justru lebih besar. Memasak minimal satu kali dalam sepekan mampu menekan risiko demensia hingga 67 persen bagi mereka yang baru belajar.

"Hasil ini sangat menarik, karena menunjukkan bahwa tindakan memasak itu sendiri dapat memberikan stimulasi kognitif dan peluang belajar yang bermanfaat bagi kesehatan otak," ucap Tani.

Chief Medical Officer di Healthy Brain Clinic California, dr. Dung Trinh, MD, turut menyoroti adanya hubungan logis antara rutinitas harian dengan kemampuan memori seseorang. Ia menekankan pentingnya proses mempelajari keterampilan baru bagi otak dewasa.

"Sinyal yang paling menarik adalah bahwa asosiasi tersebut tampak paling kuat di antara orang dewasa yang lebih tua dengan keterampilan memasak yang lebih rendah, yang menimbulkan pertanyaan penting tentang pentingnya mempelajari keterampilan baru, stimulasi kognitif, dan fungsi sehari-hari," tutur dr. Trinh.

Meskipun hasilnya positif, dr. Trinh memberikan catatan agar masyarakat tidak menyimpulkan hasil penelitian ini secara berlebihan. Penelitian tersebut saat ini masih pada tahap membuktikan adanya kaitan, bukan bukti pencegahan mutlak.

"Kendati demikian, ia turut mengingatkan untuk tidak terlalu melebih-lebihkan studi tersebut. Sebab, studi ini hanya menunjukkan kaitan antara memasak di dapur dengan penurunan risiko demensia, bukan bukti bahwa memasak bisa mencegah demensia," kata dr. Trinh.

Ahli gizi diet terdaftar, Monique Richard, MS, RDN, LDN, menyarankan agar lansia memulai kebiasaan ini dari langkah-langkah yang sangat mendasar. Membangun kepercayaan diri lebih diutamakan daripada langsung mencoba teknik memasak yang sulit.

"Tujuannya bukanlah untuk menjadi koki ahli, tetapi untuk membangun kepercayaan diri dan konsistensi di dapur, sebagaimana sesuai dan dapat diterapkan per individu, dengan mengutamakan keselamatan dan aksesibilitas," terang Richard.

Penggunaan bahan praktis seperti sayuran potong atau ayam yang sudah matang tetap diperbolehkan untuk mempermudah pekerjaan di dapur. Richard menegaskan bahwa meningkatkan kemampuan kuliner sangat krusial untuk kemandirian dan kesejahteraan jangka panjang.

"Terutama ketika keterampilan ini sangat penting untuk otonomi, kesenangan, dan kesehatan, serta kesejahteraan secara keseluruhan," tutur Richard.

Aktivitas memasak dinilai sebagai paket lengkap yang mengintegrasikan fungsi tubuh, kognitif otak, dan asupan nutrisi secara bersamaan.

"Memasak adalah satu dari sedikit aktivitas sehari-hari yang melibatkan otak, tubuh, dan nutrisi sekaligus. Ini secara harfiah memberi 'makan' otakmu dan menghemat uangmu," pungkas Richard.

Artikel terkait

Rekomendasi