Memahami Jumlah Kerikil dan Makna Spiritual Lempar Jumrah saat Haji

Memahami Jumlah Kerikil dan Makna Spiritual Lempar Jumrah saat Haji
Foto: Ilustrasi Memahami Jumlah Kerikil dan Makna Spiritual Lempar Jumrah saat Haji.

Jutaan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia memadati kawasan Mina untuk melaksanakan ritual lempar jumrah. Prosesi yang menjadi bagian dari wajib haji ini melibatkan pelemparan batu kerikil ke tiga titik tertentu.

Dikutip dari Cahaya, ritual ini bukan sekadar tindakan fisik, melainkan simbol perlawanan terhadap godaan setan. Ibadah ini meneladani keteguhan iman Nabi Ibrahim AS saat diuji untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

Berdasarkan buku Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah karya Agus Arifin, lempar jumrah melambangkan keteguhan iman kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS dikisahkan melempar batu ke arah setan yang mencoba menggoyahkan niatnya menjalankan perintah Tuhan.

Pelaksanaan lempar jumrah berpusat di Mina, sebuah wilayah strategis di dekat Mekkah. Di lokasi ini, terdapat tiga pilar utama yang menjadi sasaran lemparan jemaah haji.

Titik pertama adalah Jumrah Ula yang dilempar pada hari-hari tasyrik. Titik kedua disebut Jumrah Wustha yang berada di posisi tengah, sedangkan yang terakhir adalah Jumrah Aqabah sebagai titik terbesar.

Pemerintah Arab Saudi telah melakukan modernisasi pada infrastruktur Jamarat guna mengantisipasi kepadatan. Hal ini bertujuan untuk menjamin keselamatan jemaah yang berkumpul dalam jumlah masif di waktu yang bersamaan.

Rincian Jumlah Kerikil yang Dibutuhkan

Kebutuhan jumlah batu kerikil bagi setiap jemaah ditentukan oleh pilihan nafar yang diambil. Ketentuan ini merujuk pada Buku Pintar dan Praktis Haji & Umrah karya Ratih Puspitawati.

Pada tanggal 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha, jemaah hanya diwajibkan melempar tujuh butir kerikil ke Jumrah Aqabah. Prosesi ini umumnya dilakukan setelah jemaah bermalam di Muzdalifah.

Memasuki hari tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, jemaah melempar ketiga jumrah sekaligus. Setiap titik masing-masing dilempar sebanyak tujuh kali, sehingga total kebutuhan mencapai 21 kerikil per hari.

Perbedaan Kebutuhan Nafar Awal dan Nafar Tsani

Bagi jemaah yang memilih nafar awal atau meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam, total kerikil yang diperlukan adalah 49 butir. Jumlah ini merupakan akumulasi dari lemparan tanggal 10 hingga 12 Dzulhijjah.

Sementara itu, penganut nafar tsani yang menetap hingga 13 Dzulhijjah membutuhkan total 70 butir kerikil. Tambahan 21 kerikil diperlukan untuk prosesi lempar jumrah pada hari terakhir di Mina tersebut.

Ukuran batu yang digunakan idealnya tidak terlalu besar, melainkan seukuran biji kacang atau ujung jari. Kerikil biasanya dikumpulkan saat jemaah berada di Muzdalifah, namun diperbolehkan mengambil dari area suci lainnya di Mina.

Filosofi dan Nilai Kesabaran

Imam Al-Ghazali dalam buku Rahasia Haji dan Umrah menjelaskan bahwa lempar jumrah adalah simbol membuang sifat buruk dan hawa nafsu. Ritual ini menuntut jemaah untuk membuang bisikan negatif dari dalam diri.

Selain dimensi spiritual, prosesi ini juga menjadi ujian kesabaran dan disiplin bagi jemaah di tengah keramaian. Syaikh Sayyid Sabiq menekankan pentingnya menjaga keselamatan jiwa dan mengikuti arahan petugas selama di Jamarat.

Para ulama mengingatkan bahwa esensi utama bukanlah kerasnya lemparan batu secara fisik. Nilai sesungguhnya terletak pada kemampuan seseorang untuk menaklukkan ego, kesombongan, dan amarah dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel terkait

Rekomendasi