Melampui Kecemasan Dolar: Membangun Ekonomi Berdikari yang Tangguh dan Berdaulat

Melampui Kecemasan Dolar: Membangun Ekonomi Berdikari yang Tangguh dan Berdaulat
Foto: Ilustrasi Melampui Kecemasan Dolar: Membangun Ekonomi Berdikari yang Tangguh dan Berdaulat.

Melampui Kecemasan Dolar: Membangun Ekonomi Berdikari yang Tangguh dan Berdaulat

Jerry Marmen, Ketua Lembaga Sertifikasi GRC, Komisaris Utama KB Bank, dan Dosen FEB UPN Veteran Jakarta.

Pidato Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengenai dinamika nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah memunculkan berbagai respons dan perdebatan di ruang publik. Sebagian menanggapinya secara literal dan kritis, terutama karena pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa dinamika kurs dolar tidak lagi dipandang sebagai faktor penting dalam perekonomian nasional. Di sisi lain, terdapat pula pandangan bahwa pernyataan tersebut perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait upaya menjaga stabilitas psikologis publik di tengah ketidakpastian ekonomi global yang makin kompleks.

Dolar Penting, Tetapi Tidak Boleh Menjadi Pusat Kecemasan Bangsa

Dalam lanskap ekonomi modern, stabilitas psikologis, ekspektasi publik, dan kepercayaan pasar adalah faktor krusial. Rumor, persepsi negatif, dan kepanikan massal sering kali justru menciptakan tekanan ekonomi yang jauh lebih destruktif daripada guncangan pada fundamental ekonomi itu sendiri. Oleh karena itu, penguatan komunikasi strategis menjadi mutlak diperlukan guna mengelola pesan dan memancarkan sinyal positif bagi publik serta pasar.

Di samping itu, momen ini perlu menjadi ruang refleksi mendalam mengenai arah pemikiran ekonomi kita untuk beberapa dekade ke depan. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar elite ekonom dengan pendekatan neo-klasik modern cenderung menempatkan indikator ekonomi dan finansial sebagai pusat evaluasi kesehatan ekonomi nasional. Nilai tukar dolar, arus modal asing, peringkat internasional, indeks pasar modal, hingga persepsi investor jangka pendek sering kali diperlakukan seolah-olah merupakan determinan utama, bahkan nyaris menjadi paket ukuran tunggal, dalam menilai kesehatan ekonomi suatu bangsa. Akibatnya, cara pandang kita perlahan menjadi terlalu berorientasi pada validasi eksternal dan sangat sensitif terhadap persepsi pasar global jangka pendek.

Dolar dan variabel finansial tersebut memang sangat penting, namun ekonomi sebuah bangsa sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar dinamika pasar keuangan. Ekonomi yang sejati sering kali justru bertumpu pada sektor-sektor riil yang berada di luar pusat perhatian ekonomi formal: di kebun rakyat dan pekarangan, di tambak dan pesisir pantai, serta di nadi UMKM informal, di rantai pasok domestik yang minim komponen impor, pada ketahanan pangan dan energi, serta pada kemampuan masyarakat mempertahankan keberlangsungan hidupnya melalui solidaritas sosial, gotong royong, dan dukungan keluarga. Bangsa yang kuat tidak dibangun hanya melalui stabilitas angka-angka finansial, melainkan melalui berbagai katup pengaman sosial-ekonomi dan kapasitas domestik yang tahan terhadap tekanan eksternal.

Terlepas dari peran pentingnya, dolar tidak boleh menjadi pusat kecemasan bangsa. Bangsa yang terlalu menjadikan dinamika eksternal sebagai sumber utama rasa percaya dirinya akan mudah mengalami kepanikan setiap kali dunia mengalami gejolak. Ketahanan ekonomi pada akhirnya bukan hanya soal kecukupan cadangan devisa atau stabilitas kurs, melainkan juga tentang ketahanan mental kolektif dan kemampuan suatu bangsa menjaga kepercayaan diri dan kedaulatan berpikirnya sendiri.

Smart Dynamic Autarky Economy: Jalan Rasional Ekonomi Berdikari

Gagasan Smart Dynamic Autarky Economy (SDAE) menjadi sangat relevan untuk dipertimbangkan sebagai kerangka berpikir ekonomi yang lebih seimbang, realistis, dan berorientasi jangka panjang. Konsep ini bukanlah ajakan untuk menutup diri dari globalisasi, bukan pula romantisme ekonomi tertutup yang antiperdagangan global. Dunia modern kini makin terhubung sehingga hampir mustahil dipisahkan secara absolut. Namun di sisi lain, globalisasi yang berlebihan dan tanpa kendali dapat menciptakan kerentanan struktural yang fatal apabila sebuah negara kehilangan kapasitas strategisnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, SDAE pada dasarnya merupakan upaya membangun ekonomi berdikari modern yang adaptif dalam dinamika hubungannya dengan ekonomi global, namun tetap memiliki ruang manuver strategis yang memadai. Konsep ini bertumpu pada prinsip bahwa negara harus memiliki kemampuan, integritas, dan disiplin strategis dalam memilih dan mengelola tingkat ketergantungannya terhadap ekonomi global secara cerdas, terukur, dan selektif.

Negara tidak harus memproduksi seluruh kebutuhan ekonominya secara mandiri, tetapi harus memastikan bahwa sektor-sektor strategis yang menentukan keberlangsungan hidup bangsa tidak sepenuhnya bergantung pada dan didikte oleh faktor eksternal. Ketahanan pangan, energi, kesehatan, teknologi digital strategis, infrastruktur data nasional, hingga industri pertahanan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada logika pasar global jangka pendek.

Pendekatan ini sekaligus menolak pandangan bahwa efisiensi ekonomi global selalu sejalan dengan ketahanan ekonomi nasional. Pengalaman pandemi, ketegangan geoekopolitik, krisis energi, dan gangguan rantai pasok internasional membuktikan bahwa sistem yang terlalu mengejar efisiensi melalui ketergantungan global yang ekstrem justru menjadi yang paling rapuh ketika krisis besar melanda. Dalam situasi tertentu, kapasitas cadangan nasional, redundansi strategis, perlindungan selektif terhadap industri domestik, serta penguatan kemampuan produksi nasional justru menjadi instrumen vital untuk menjaga stabilitas negara.

Kerangka GRC dan Prinsip TARIFES

Konsep SDAE berbeda dari proteksionisme konvensional karena bertumpu pada pendekatan yang dinamis, adaptif, dan berbasis pada kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC). Dalam SDAE berbasis GRC, hubungan ekonomi internasional dikelola secara cerdas dan terukur melalui penguatan tata kelola nasional, manajemen risiko strategis, disiplin kebijakan jangka panjang, serta pembangunan kelembagaan yang kuat dan berintegritas. Negara tetap membuka ruang bagi investasi asing, perdagangan internasional, dan transfer teknologi, namun seluruh keterbukaan tersebut tidak boleh bersifat dogmatis tanpa kalkulasi risiko strategis.

Pengembangan SDAE berbasis GRC ini perlu ditopang oleh penerapan prinsip TARIFES (Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, Fairness, Etika, dan Sustainabilitas) sebagai fondasi fundamental ketahanan strategis. Dalam jangka panjang, kekuatan ekonomi suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh ukuran pasar atau pertumbuhan ekonomi semata, melainkan oleh kualitas tata kelola, integritas institusi, dan kredibilitas kebijakan dalam menjaga kepercayaan publik dan investor, memperkuat keadilan ekonomi, serta melindungi kepentingan nasional jangka panjang.

Atas dasar itu, negara harus memiliki fleksibilitas strategis untuk menentukan kapan perlu membuka diri secara lebih luas, kapan melakukan akselerasi hilirisasi yang berintegritas, kapan memperkuat industri domestik, dan kapan harus melakukan intervensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang kontekstual, terukur, dan bertanggung jawab. Keterbukaan ekonomi bukan dijalankan sebagai ideologi yang absolut, melainkan sebagai instrumen strategis yang bermuara pada ketahanan nasional yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, Smart Dynamic Autarky Economy merupakan peta jalan menuju sistem ekonomi yang lebih tangkas, tangguh, dan adaptif. Kemandirian ekonomi modern bukan berarti mengisolasi diri, melainkan kemampuan sebuah bangsa untuk tetap berdiri tegak, tenang, dan proaktif dalam merespons dinamika strategis saat tatanan global mengalami turbulensi berat. Dalam konteks itulah, fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah harus diantisipasi secara cermat dan direspons dengan bijak, tanpa harus menjadi sumber kecemasan yang mendominasi cara berpikir serta menggerus rasa percaya diri kita sebagai bangsa yang berdikari dan berdaulat.

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Artikel terkait

Rekomendasi