Kapten Persib Bandung Marc Klok membantah secara tegas tuduhan rasisme yang diarahkan kepadanya pascapertandingan pekan ke-30 melawan Bhayangkara FC di Lampung pada Kamis (30/4/2026). Dilansir dari Bola, Klok memberikan pembelaan melalui media sosial pada Sabtu (2/5/2026) setelah dilaporkan ke Komisi Disiplin PSSI.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas tindakan manajemen Bhayangkara FC yang membawa masalah tersebut ke ranah formal melalui Match Commissioner. Klok menekankan bahwa penyebaran informasi yang tidak benar mengenai insiden di lapangan telah merugikan nama baiknya sebagai pesepak bola profesional.
"Saya dengan tegas membantah tuduhan rasisme yang ditujukan kepada saya," tutur Klok lewat media sosialnya.
Gelandang naturalisasi ini menyatakan bahwa sepanjang kehidupan dan karier profesionalnya, ia selalu memegang teguh prinsip kesetaraan. Penolakan atas tuduhan tersebut ia sampaikan untuk mengklarifikasi kejadian sebenarnya yang sempat memanas di area stadion.
"Penyebaran informasi yang tidak benar mengenai sesuatu yang tidak pernah terjadi merupakan hal yang tidak dapat diterima dan merugikan nama baik saya," kata Klok.
Klok menambahkan bahwa dirinya tidak memiliki rekam jejak perilaku diskriminatif karena terbiasa bekerja dalam lingkungan yang multikultural. Hal ini ditegaskannya sebagai bukti integritas dirinya di dalam maupun di luar lapangan hijau.
"Sepanjang hidup, saya selalu menjunjung tinggi nilai rasa hormat, kesetaraan, profesionalisme, dan anti-rasisme," ujar Klok.
Keyakinan ini didasari oleh pengalaman panjangnya merumput bersama rekan setim dari berbagai belahan dunia selama bertahun-tahun. Klok merasa orang-orang terdekatnya sangat memahami karakter aslinya yang jauh dari sikap rasis.
"Sepanjang karier, saya telah berbagi ruang ganti dengan pemain dari berbagai latar belakang, budaya, dan kebangsaan. Rasa hormat selalu menjadi nilai utama bagi saya, baik di dalam maupun di luar lapangan," ucap Klok.
Pemain bernomor punggung 23 ini juga menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi sosok pemimpin yang positif bagi rekan-rekan setimnya di Persib Bandung. Ia merasa tidak perlu meragukan prinsip yang selama ini ia jalankan.
"Orang-orang yang mengenal saya, termasuk rekan setim, pelatih, dan orang-orang terdekat, mengetahui siapa saya dan nilai-nilai yang saya pegang," lanjut Klok.
Klok menutup bagian pembelaan nilai pribadinya dengan menekankan pentingnya memberikan contoh yang baik sebagai seorang kapten tim di atas lapangan.
"Satu hal yang pasti, saya selalu memimpin dengan memberi teladan," tegas Klok.
Mengenai kronologi kejadian, Klok menjelaskan bahwa ia sudah mencoba berkomunikasi dengan pihak lawan untuk meluruskan kesalahpahaman yang melibatkan Henri Doumbia. Dialog tersebut diklaim telah berlangsung secara tenang guna meredakan tensi pertandingan.
"Saya telah berbicara dengan beberapa pihak dari Bhayangkara Presisi Lampung FC, baik selama maupun setelah pertandingan, untuk memahami situasi yang terjadi serta mengklarifikasinya dengan sikap hormat dan tenang," ujar Klok.
Kejadian bermula saat Persib mencetak gol kedua, di mana terjadi perebutan bola antara Klok dan Doumbia yang memicu adu mulut singkat. Klok mengklaim bahwa dirinya hanya meminta bola agar permainan bisa segera dilanjutkan untuk mengejar skor.
"Saat kami mencetak gol menjadi 2-1, Henri Doumbia menahan bola alih-alih melanjutkan kick-off. Kami berusaha segera melanjutkan permainan untuk mengejar ketertinggalan. Saya mengatakan dengan jelas kepadanya, 'Give me the ball back'," tutur Klok.
Menurut Klok, Henri Doumbia sebenarnya sudah menyadari bahwa ada kesalahan dalam pendengaran dan telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa isu tersebut sempat dianggap selesai di antara kedua pemain.
"Kami kemudian membicarakan hal tersebut. Ia meminta maaf kepada saya karena sebelumnya mengira saya mengatakan kata 'black'," kata Klok.
Klok juga mengklaim bahwa para pemain dan jajaran pelatih Bhayangkara FC lainnya memahami situasi tersebut sebagai sebuah kekeliruan komunikasi semata.
"Ia mengakui kesalahpahaman tersebut, begitu pula rekan-rekan setimnya dan pelatih mereka, yang memiliki hubungan baik dengan saya," ungkap Klok.
Namun, situasi kembali memanas karena adanya intervensi dari Manajer Bhayangkara FC, Sumardji, yang disebut Klok terus melontarkan tuduhan rasisme meski tidak berada di lokasi kejadian secara langsung. Klok merasa serangan verbal tersebut sudah tidak lagi berkaitan dengan esensi sepak bola.
"Manajer mereka, Sumardji, yang tidak berada di dekat lapangan, terus menyebut saya sebagai rasis, baik di dalam lorong stadion, dekat ruang ganti, maupun di lapangan setelah pertandingan," tulis Klok.
Atas tindakan tersebut, Klok merasa sangat terluka dan meminta pihak manajemen lawan untuk menghentikan narasi negatif yang tidak berdasar tersebut.
"Saya telah memintanya untuk berhenti dan menyampaikan bahwa saya merasa terluka atas tuduhan yang tidak benar tersebut. Saya menilai perilaku ini telah melampaui batas sepak bola dan esensi dari permainan ini," pungkas Klok.