Makaila Haifa Libatkan Pengungsi Luar Negeri Jadi Model Busana Muslim

Makaila Haifa Libatkan Pengungsi Luar Negeri Jadi Model Busana Muslim
Foto: Ilustrasi Makaila Haifa Libatkan Pengungsi Luar Negeri Jadi Model Busana Muslim.

Brand busana muslim lokal Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar trunk show bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving guna memperingati Hari Perempuan Internasional 2026. Acara yang digelar di The Westin Hotel Jakarta ini menampilkan pengungsi wanita asal Palestina, Somalia, hingga Afghanistan sebagai peraga busana dan seniman.

Dilansir dari Wolipop, inisiatif ini merupakan bagian dari Mishka Project Batch V yang memberikan pelatihan intensif selama tiga bulan kepada para pengungsi. Sebanyak lima wanita pengungsi dari Irak, Palestina, dan Somalia tampil di panggung bersama model asal India, Revathi Prabaharan, untuk menunjukkan bakat mereka setelah mengikuti kursus modeling profesional.

Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjelaskan bahwa proyek ini muncul dari rasa empati pribadi serta keinginan untuk memberikan platform bagi perempuan yang mengalami kesulitan hidup. Melalui sentuhannya, para pengungsi didorong untuk menjadi sosok yang berdaya di tengah industri mode yang biasanya identik dengan kemewahan.

"Makaila bergerak dari rasa empati dan latar belakang saya yang pernah merasakan kekerasan berbasis gender. Kondisi sekarang, fashion identik dengan glamour dan fancy, tapi saya merasa di luar sana banyak wanita yang serba kesulitan. Melihat di luar sana seorang ibu bersusah payah memberikan makan bagi anaknya, saya ingin tunjukkan empati dan bekerja nyata," ungkap Ling Hida, Pendiri Makaila Haifa.

Koleksi terbaru bertema Metamorfosis yang ditampilkan dalam acara ini menonjolkan warna hitam dan emas pada pakaian bergaya kantor serta busana harian. Keunikan koleksi ini terletak pada teknik fashion painting yang diaplikasikan langsung oleh para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan pada kain busana, tas, hingga syal.

"Setiap pakaian punya cerita sendiri, saya mewadahi emosi dan mimpi mereka dalam karyanya. Produknya juga memiliki nilai. Tantangannya, di Eropa karya seperti ini sudah sangat diapresiasi, sementara di sini kita masih berjuang karena banyak orang belum paham. Namun, semakin kita konsisten, semakin banyak apresiasi yang datang untuk karya mereka," kata Hida, Pendiri Makaila Haifa.

Hida mengakui adanya tantangan besar dalam melatih para pengungsi karena kompleksitas situasi kehidupan yang mereka hadapi selama mencari suaka di Indonesia. Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi para peserta untuk mendapatkan peluang kerja yang lebih layak di masa depan.

"Tantangan hidup pengungsi itu sudah kompleks, jadi untuk bisa konsisten ikut workshop itu sulit. Setiap karya mereka mungkin terlihat sederhana, tapi value-nya besar. Kita mendukung mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup di sini. Ada isu negatif karena ketidaktahuan apa itu pengungsi, melalui acara ini, saya ingin kita sama-sama lebih peduli," jelas Hida, Pendiri Makaila Haifa.

Selain fokus pada pengungsi, produksi koleksi seharga Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta ini melibatkan penjahit lokal dari Tasikmalaya. Langkah ini diambil guna memulihkan ekonomi penduduk lokal yang terdampak pasca pandemi melalui pemasaran produk secara daring.

"Targetnya balik lagi, pure ingin membantu. Panggilan hati dan saya tidak bisa diam. Saya punya empati ikut menyuarakan. Ada ibu yang punya anak dan pernah merasakan hal yang sama. Harapannya sektor pemerintah dan embassy sama-sama lebih peduli dan support refugee wanita," jelas Hida, Pendiri Makaila Haifa.

Artikel terkait

Rekomendasi