Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari pilihan yang sepenuhnya diinginkan. Bagi Ruth Estika Ave Haryono, jalan menuju karier di Tesla Belanda justru berawal dari keputusan yang sempat terasa bukan miliknya.
Di balik perjalanan karier di perusahaan otomotif global, tersimpan kisah panjang tentang keraguan, kegagalan, hingga keberanian untuk menemukan arah hidup sendiri. Satu per satu mimpinya bisa tercapai dengan salah satu fondasi yang tak pernah goyah, yaitu didikan orangtua. Perempuan 29 tahun sekaligus ibu dua anak ini membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh awal yang sempurna, melainkan oleh bagaimana seseorang bertahan dan terus melangkah di tengah proses yang tidak mudah.
Tanggung Jawab di Dunia Medis
Sejak awal, Ruth tumbuh dalam lingkungan keluarga yang lekat dengan dunia medis. Arah hidupnya pun seolah sudah tergambar sejak dini. Ia menempuh pendidikan S1 Farmasi di Universitas Sanata Dharma, mengikuti jejak yang dianggap paling aman oleh keluarga.
"Mama aku perawat, kakak aku juga sekolah dokter. Jadi memang kecenderungan pilihan keluarga lebih ke medis karena mereka sudah tahu marketnya," jelas Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Namun, di balik rutinitas perkuliahan, muncul kegelisahan yang perlahan menguat. Ia mulai merasa tidak berada di tempat yang tepat pada saat memasuki masa-masa awal perkuliahan di Yogyakarta tersebut.
"Ketika semester 2 atau 3 aku sudah merasa tidak cocok dan minta ganti jurusan ke orangtua, tapi tidak disetujui. Mereka mengajarkan aku untuk bisa bertanggung jawab menyelesaikan satu hal," ujarnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Alih-alih menyerah, Ruth memilih bertahan. Ia menyelesaikan studinya hingga akhir, meski dengan IPK di bawah 3. Bagi keluarganya, proses menyelesaikan sesuatu jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir yang tertera di atas kertas.
Badai Adaptasi di Negeri Kincir Angin
Perjalanan hidup Ruth berlanjut ke babak yang sangat baru ketika ia menikah dan harus pindah ke Belanda. Negeri dengan budaya, bahasa, dan ritme hidup yang berbeda membuatnya harus kembali belajar dari nol. Hari-hari yang awalnya penuh harapan perlahan berubah menjadi fase penuh tekanan. Jarak dari keluarga, keterbatasan adaptasi, dan rasa kehilangan arah membuatnya terpuruk.
"Aku sempat hampir depresi, dnggak mau ketemu orang, rasanya pengin pulang ke Indonesia aja. Di momen seperti ini, orangtua aku support aku untuk tidak impulsif mengambil keputusan," ungkapnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Di titik terendah itulah, peran suami dan orangtua kembali menjadi penopang utama. Mereka tidak hanya memberi dukungan emosional, tetapi juga membantu Ruth melihat situasi dengan lebih jernih di tengah keputusasaan.
"Mereka mengajarkan aku untuk meregulasi emosi dan pikiran, kemudian mendukung aku untuk bertahan karena aku sudah punya keluarga baru juga di Belanda," lanjutnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Seiring waktu, Ruth mulai memahami bahwa jalan hidupnya tidak harus selalu lurus sesuai rencana awal. Orangtuanya pun tidak memaksanya untuk tetap berada di jalur yang sama, melainkan mendorongnya untuk menemukan arah sendiri demi masa depannya.
"Orangtuaku bilang gini, ÔÇÿKalau memang ini bukan jalanmu, ya sudah, kamu lulus buat mama dan papa saja. Tapi untuk dirimu sendiri kamu harus cari jalan sendiri untuk survive di dunia iniÔÇÖ," tuturnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Nilai-nilai sederhana yang ditanamkan sejak kecil, tentang rasa syukur, ketekunan, dan keberanian mencoba, perlahan membentuk mentalnya menjadi lebih tangguh dalam menghadapi kerasnya perantauan.
"Aku bersyukur banget punya suami dan keluarga yang suportif sama apapun keadaan aku. Orangtuaku juga bilang untuk selalu bersyukur terhadap hal kecil, karena banyak yang ingin di posisiku sekarang," katanya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Didikan tersebut juga membangun kepercayaan diri yang kuat dalam dirinya. Ketegaran orangtuanya dalam melihat hasil belajar Ruth menjadi kunci utama kepercayaan dirinya tumbuh pesat.
"Mereka tidak pernah protes kalau nilaiku turun, tapi justu memberi refleksi ke aku supaya aku bisa bangkit dan menghargai setiap progres. Hal ini yang bikin self-esteem dan self confident aku tinggi," imbuhnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Titik Balik dan Prestasi Akademik
Keputusan besar akhirnya diambil. Ruth memilih keluar dari zona nyaman dan memulai ulang dengan mengambil pre-master untuk beralih dari farmasi ke bidang bisnis. Langkah ini menjadi titik balik penting dalam hidupnya di Belanda.
"Sebelum S2 aku ambil pre-master untuk switch major dari farmasi ke bisnis. Setelah selesai setahun, aku langsung masuk ke program master dan aku hamil anak pertama," ujarnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Di tengah kehamilan, ia tetap melanjutkan studi dengan disiplin tinggi. Ia menetapkan target yang jelas untuk dirinya sendiri agar kewajibannya sebagai mahasiswa dan calon ibu tidak saling bertabrakan.
"Aku memberikan deadline ke diriku untuk menyelesaikan tesis ini sebelum aku melahirkan, karena aku tahu kalau tidak mudah menjadi ibu baru sekaligus mengurus tesis," katanya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Ketekunan itu membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi. Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menyelesaikan studinya dengan prestasi gemilang yang membanggakan nama Indonesia di kancah internasional.
"Tanpa ekspektasi apapun dan hanya percaya pada prosesnya, Puji Tuhan, kurang lebih satu tahun aku menyelesaikannya. Bahkan waktu itu dapat Student of The Year dengan IPK tertinggi dan Best Thesis," ungkapnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Menembus Raksasa Teknologi
Langkah profesional Ruth dimulai saat ia bekerja di Amazon Belanda selama tiga tahun. Lingkungan kerja yang nyaman sempat membuatnya merasa berada di tempat yang tepat. Namun, situasi berubah ketika departemennya ditutup pada September 2025 lalu akibat kebijakan internal perusahaan.
"Aku bekerja di Amazon Belanda 3 tahun dan lingkungan pekerjaannya enak banget. Namun, departementku di shut down dan aku harus kena lay off," tuturnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Kehilangan pekerjaan bukan akhir dari perjalanannya. Ia kembali mengumpulkan keberanian untuk mencoba peluang baru, termasuk melamar ke Tesla Belanda yang dikenal memiliki standar rekrutmen tinggi.
"Aku sempat hampir hilang harapan, karena sudah 3 minggu tidak ada kabar, tapi ternyata dengan value dan kompetensi yang aku miliki, pihak mereka akhirnya mau menerima aku," katanya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.
Penantiannya pun berbuah manis, pada November 2025 ia diterima untuk bekerja di Tesla dan kini menikmati tanggung jawab barunya. Kini, ia pun aktif membagikan tips dan persiapan kuliah di luar negeri, serta bermimpi untuk membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat Indonesia. Perjalanan Ruth menjadi cerminan bagaimana peran orangtua dapat membentuk perempuan yang tangguh dan berdaya dalam menghadapi tantangan zaman.
"Jangan berkecil hati, tapi nikmati dan percaya pada setiap proses dalam kehidupan. Cintailah dirimu sendiri, karena dari situ akan muncul rasa percaya diri dan self esteem yang kuat," pungkasnya Ruth, Pekerja di Tesla Belanda.