Jennifer Saputra Ungkap Enam Kesalahan Umum dalam Tradisi Sangjit

Jennifer Saputra Ungkap Enam Kesalahan Umum dalam Tradisi Sangjit
Foto: Ilustrasi Jennifer Saputra Ungkap Enam Kesalahan Umum dalam Tradisi Sangjit.

Pemilik Sangjit Couture, Jennifer Saputra, memaparkan sejumlah kekeliruan yang sering dilakukan calon pengantin dalam prosesi sangjit saat ditemui di Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2026). Tradisi seserahan adat Tionghoa ini memerlukan pemahaman mendalam mengenai aturan dan filosofi agar makna simbolisnya tidak hilang.

Kesalahan yang paling menonjol berkaitan dengan aspek teknis seperti jumlah baki hantaran dan pemilihan angka nominal seserahan. Dilansir dari Lifestyle, banyak pihak keluarga yang masih bingung menentukan standarisasi jumlah kotak yang harus dibawa dalam seremoni tersebut.

ÔÇ£Sebenarnya tradisi sangjit itu banyak sekali dengan cara yang berbeda-beda. Sehingga butuh bantuan WO untuk jadi perantara dan mengarahkan tata cara yang benar,ÔÇØ kata Jennifer Saputra, Owner Sangjit Couture.

Jennifer menjelaskan bahwa jumlah baki biasanya mengikuti aturan adat keluarga masing-masing, namun umumnya menggunakan angka genap sebagai simbol keseimbangan. Ketidakpahaman mengenai isi baki juga sering membuat keluarga hanya mengikuti tren semata.

ÔÇ£Kesalahan umumnya itu di jumlah baki dan isinya, banyak orang yang bingung dengan aturan itu. Kami biasanya menggunakan 8 baki untuk mempelai perempuan dan 2 untuk pria,ÔÇØ jelas Jennifer.

Pemilihan angka nominal uang juga menjadi poin krusial karena terdapat kepercayaan tertentu terkait angka keberuntungan dan kesialan. Angka delapan sangat dianjurkan sementara angka empat harus dihindari dalam pemberian angpao maupun jumlah barang.

ÔÇ£Angka atau nominal juga paling penting, karena disarankan tidak boleh ganjil, tidak boleh angka empat. Dianjurkan angka delapan karena dianggap bagus,ÔÇØ jelas Jennifer.

Mengenai tata letak, baki untuk pihak pria sering kali salah ditempatkan karena keluarga terlalu fokus pada rombongan pembawa baki wanita. Padahal, kotak untuk mempelai pria memiliki aturan penempatan tersendiri sejak dimulainya acara.

ÔÇ£Baki untuk mempelai pria itu juga sudah diletakan di depan sejak awal acara, jadi tidak dibawa masuk berbarengan dengan baki perempuan,ÔÇØ katanya.

Jennifer juga meluruskan persepsi mengenai kriteria pembawa baki yang selama ini dianggap harus sudah menikah. Menurutnya, orang yang masih melajang diperbolehkan berpartisipasi sebagai bentuk doa agar segera menyusul ke jenjang pernikahan.

ÔÇ£Pembawa baki juga kerap keliru, biasanya hanya yang sudah menikah dan pernikahannya tidak bercerai yang boleh bawa, tapi sebetulnya yang single juga boleh,ÔÇØ ujar Jennifer.

Keterlibatan sahabat atau saudara yang belum menikah justru menjadi bagian dari harapan baik dalam prosesi tersebut. Jennifer menambahkan bahwa keterlibatan mereka adalah hal yang lumrah dalam praktik modern saat ini.

ÔÇ£Ini sebagai bentuk doa agar mereka yang single juga cepat menyusul ke jenjang pernikahan,ÔÇØ lanjut Jennifer.

Terakhir, perhiasan dalam sangjit ditegaskan bukan sekadar formalitas atau pamer materi, melainkan tanda keseriusan pria. Minimal pemberian berupa kalung, namun bisa berkembang menjadi satu set lengkap tergantung kesepakatan.

ÔÇ£Untuk perhiasan itu minimal kalung. Tapi beberapa orang juga memberikan satu set perhiasan lengkap, seperti anting, cincin, gelang, bahkan ada logam mulia juga,ÔÇØ ungkap Jennifer.

Artikel terkait

Rekomendasi