CEO Kelme Sports Indonesia Kevin Wijaya memberikan klarifikasi resmi terkait insiden terlepasnya nama punggung pada jersey Tim Nasional Indonesia saat turnamen FIFA Series pada Maret lalu. Penjelasan ini disampaikan setelah pihak perusahaan melakukan investigasi mendalam terhadap proses produksi batch pertama, sebagaimana dilansir dari Bola.
Hasil penyelidikan internal menunjukkan adanya kendala teknis pada proses penempelan identitas pemain ke kain jersey. Kevin Wijaya menyebutkan bahwa perbedaan spesifikasi mesin pemanas menjadi faktor utama yang memicu cacat pada produk yang digunakan skuat Garuda di lapangan.
"Mungkin banyak yang beranggapan, kok tidak langsung klarifikasi atau buka suara dari Kelme. Perlu diketahui, kami harus melakukan investigasi terlebih dahulu, apakah yang error itu SOP, bahan, atau cara pressing," ujar Kevin dalam Kelme Media Session.
Pihak manajemen menekankan bahwa kualitas bahan dasar maupun material nama punggung sebenarnya telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Namun, kesalahan terjadi pada tahap eksekusi akhir di mana perlakuan terhadap setiap mesin tidak disamakan.
"Material bahan sudah kami nyatakan aman, kualitas name set juga sudah sesuai standar internasional. Tetapi ada satu hal yang kami lewatkan, tidak setiap mesin pressing itu sama dan membutuhkan perlakuan berbeda. Ini yang kami miss, dan kami mohon maaf," tegas Kevin.
Pihak Kelme juga mengidentifikasi adanya potensi kesalahan manusia dalam operasional alat produksi tertentu. Hal ini didasarkan pada perbandingan hasil produksi di beberapa lokasi berbeda yang menunjukkan tingkat keberhasilan yang bervariasi.
"Jadi kemungkinan ada human error pada salah satu blok saat proses pressing. Mesin yang lebih portabel memiliki potensi error lebih besar," jelas Kevin.
Kolektor Jersey Timnas Indonesia (KJTI) turut memberikan pandangan mengenai fungsionalitas seragam tersebut di lapangan. Gerardo Gusti menekankan bahwa kenyamanan pemain tetap menjadi prioritas utama meski terjadi kendala pada atribut visual.
"Sejauh ini belum ada pemain yang mengeluhkan jersey dari Kelme. Hanya saja sangat disayangkan kejadian name set yang lepas," ujar Gerardo.
Fahri Rauzi Idrus dari KJTI menambahkan bahwa perdebatan mengenai estetika atau desain pakaian tim nasional merupakan hal yang wajar di kalangan pendukung. Ia menilai ketertarikan publik terhadap detail desain seperti kerah bersifat sangat personal.
"Banyak yang mengeluhkan desain, seperti motif atau tidak adanya kerah. Menurut saya itu subjektif," kata Fahri.
Kedua perwakilan kolektor tersebut juga menanggapi keluhan masyarakat mengenai harga jersey versi pemain yang dinilai cukup tinggi bagi sebagian kalangan. Mereka menyarankan para penggemar untuk mempertimbangkan opsi versi lain yang lebih ekonomis.
"Kami sarankan untuk membeli versi supporter atau replika jika ingin harga lebih terjangkau," ujar Gerardo dan Fahri.
Kelme Indonesia kini telah menyiapkan tim ahli untuk meninjau ulang seluruh prosedur operasional standar guna mencegah terulangnya kesalahan serupa pada batch produksi berikutnya. Perusahaan juga telah mengaktifkan layanan pelanggan daring khusus untuk menangani keluhan pembeli produk orisinal.