Dokter Ungkap Kebiasaan Sehari-hari yang Picu Munculnya Kista Ovarium

Dokter Ungkap Kebiasaan Sehari-hari yang Picu Munculnya Kista Ovarium
Foto: Ilustrasi Dokter Ungkap Kebiasaan Sehari-hari yang Picu Munculnya Kista Ovarium.

Kista ovarium sering kali dianggap sebagai gangguan kesehatan yang muncul secara mendadak. Padahal, kemunculannya kerap berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara tidak sadar.

Masalah kesehatan ini pada awalnya sering tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, jika tidak segera ditangani, kista dapat memicu rasa nyeri hingga gangguan pada siklus menstruasi bagi penderitanya.

Dilansir dari Detik Health, dr Med. Firman Santoso, SpOG, dokter spesialis Obstetri & Ginekologi dari Brawijaya Hospital, menjelaskan bahwa secara umum perempuan memiliki dua jenis kista ovarium, yakni fungsional dan disfungsional.

Menurut dr Firman, setiap wanita dalam masa subur atau fase reproduksi sebelum menopause dipastikan memiliki kista fungsional yang dipengaruhi oleh faktor hormonal.

"Jadi setiap wanita, dalam fase reproduksi atau fase subur sebelum mereka menopause, mereka pasti akan memiliki kista fungsional atau hormonal. Setiap bulan ketika mereka mengalamu siklus menstruasi, itu kan selalu dihasilkan sel telur yang matang ya," kata dr Firman.

Kista fungsional ini bersifat normal dan terus berlangsung sepanjang siklus hidup perempuan hingga mencapai masa menopause.

"Nah itu kita sebutnya kita yang fungsional, yang come and gone terus berlangsung sepanjang umur hidupnya sampai pasien ini menopause. Baru nanti kista fungsional tidak akan ada lagi," sambungnya.

Berbeda dengan jenis tersebut, terdapat pula kista disfungsional atau kista tidak normal. Jenis inilah yang dinilai dapat mengganggu kualitas hidup pasien karena sifatnya yang patologis.

Dokter yang memiliki pengalaman internasional selama 14 tahun ini menyebutkan bahwa jenis kista tidak normal sangat beragam, namun endometriosis adalah yang paling sering ditemukan.

"Kemudian ada juga kista jenis dermoid, yang merupakan kista bawaan. Jadi isinya itu rambut, gigi, tulang. Jadi kalau menurut masyarakat kita kayak disantet, padahal bukan," katanya.

Selain itu, terdapat jenis lain seperti mucinous cystadenoma dan serous cystadenoma. Bahkan, ada kista yang bercampur dengan komponen tumor jinak seperti fibroma yang isinya berupa jaringan padat.

"Kemudian ada jenis kista-kista yang lain, seperti jenis mucinous cystadenoma, serous cystadenoma. Kemudian kista jenis lain yang bercampur dengan komponen tumor jinak, misalnya fibroma itu isinya bukan lagi cairan tapi merupakan tumor padat," lanjutnya.

Faktor Gaya Hidup sebagai Pemicu Utama

Risiko mengalami kista disfungsional mengintai perempuan di rentang usia remaja hingga dewasa, tepatnya antara umur 20 hingga 50 tahun.

Berdasarkan pengamatan dr Firman, faktor gaya hidup menjadi kontributor utama munculnya kondisi medis ini pada pasien usia produktif.

"Yang paling sering kami temukan itu gaya hidup sih. Artinya kalau pola hidupnya tidak sehat, mereka terlalu gemuk, tidak pernah berolahraga, pola makannya terlalu banyak high sugar, terlalu tinggi karbo, lack of protein," kata dr Firman.

Kebiasaan pola makan buruk dan kurangnya aktivitas fisik tersebut dapat meningkatkan kecenderungan seseorang menderita kista jenis endometriosis maupun cystadenoma.

"Nah itu bisa menyebabkan mereka cenderung menderita kista yang jenis endometriosis atau mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, dan lain-lain," sambungnya.

Meskipun kista ovarium banyak ditemukan pada usia subur, dr Firman memberikan penegasan khusus bagi perempuan yang sudah lanjut usia.

Ia mengingatkan bahwa kista yang ditemukan pada perempuan usia 60 tahun ke atas wajib diwaspadai sebagai indikasi awal adanya kanker ovarium.

Teknologi Laparoskopi dalam Pengobatan Kista

Dunia medis saat ini telah memiliki teknologi canggih untuk menangani kasus kista, salah satunya melalui metode laparoskopi yang bersifat minimal invasif.

Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan kamera khusus melalui satu hingga tiga sayatan kecil di perut untuk mengangkat kista dengan waktu pemulihan yang relatif cepat.

"Bahkan kalau misalnya ada kanker ovarium, kalau stadiumnya sangat awal, kami benar-benar bisa tangani dengan baik. Bahkan metode operasinya seperti yang dilihat tadi, dengan laparoskopi," katanya.

Metode ini dianggap lebih menguntungkan pasien karena tidak memerlukan pembukaan dinding perut secara lebar seperti operasi konvensional.

"Tidak buka perut. Jadi bayangin, kamu cuma bikin 3-4 lubang kecil, masing-masing 5 mm, setengah cm bayangkan. Jadi operasi, 1-2 hari pasien sudah boleh pulang," tutur dr Firman.

Artikel terkait

Rekomendasi