Kebiasaan menutup mulut dengan telapak tangan saat batuk atau bersin sering dianggap lumrah. Namun, tindakan refleks tersebut ternyata berisiko tinggi mempercepat penyebaran virus dan bakteri ke orang lain.
Penyakit flu dan berbagai infeksi saluran pernapasan menyebar melalui percikan cairan kecil atau droplets. Hal ini seperti dilansir dari Media Indonesia berdasarkan informasi dari Halodoc.
Droplets yang keluar saat seseorang batuk atau bersin dapat meluncur hingga sejauh 1,8 meter jika tanpa penutup. Kuman di dalam percikan tersebut mampu bertahan di udara selama beberapa jam dan hidup di permukaan benda hingga 48 jam.
Menutup batuk dengan telapak tangan justru mempermudah perpindahan kuman ke fasilitas umum. Tangan yang terkontaminasi akan menyentuh gagang pintu, meja, ponsel, tombol lift, hingga pegangan transportasi umum.
Kuman penyebab infeksi pernapasan kemudian berpindah ke orang lain yang memegang permukaan benda tersebut. Penyakit juga mudah masuk saat tangan yang kotor menyentuh mata, hidung, atau mulut sendiri.
Penerapan etiket batuk yang benar menjadi langkah krusial untuk meminimalkan penularan penyakit di masyarakat. Gunakan tisu untuk menutup area mulut dan hidung agar percikan cairan tidak menyebar ke udara bebas.
Gunakan siku bagian dalam untuk menghalau droplets apabila tidak tersedia tisu di dekat Anda. Langkah ini dinilai jauh lebih aman dan bersih daripada menggunakan telapak tangan.
Tisu yang telah dipakai harus segera dibuang ke tempat sampah tertutup agar tidak menjadi agen penyebar kuman baru. Gunakan pula masker saat sedang sakit untuk mengurangi emisi droplets ke udara terbuka, terutama di area keramaian.
Bersihkan tangan memakai sabun dan air mengalir atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen setelah batuk. Jaga kebersihan tangan secara rutin, khususnya setelah dari toilet, sebelum makan, dan usai memegang benda di ruang publik.
Hindari menyentuh area wajah sebelum memastikan tangan benar-benar steril. Batasi kontak fisik seperti berjabat tangan, berpelukan, atau berciuman ketika kondisi tubuh sedang kurang sehat.
Pembatasan kontak fisik ini sangat penting dilakukan terhadap bayi dan lansia yang memiliki sistem kekebalan tubuh lebih rentan. Ganti masker secara berkala jika sudah terasa lembap dan jangan memakai ulang masker sekali pakai.
Lepaskan masker dari bagian tali belakang tanpa menyentuh sisi depannya untuk menjaga higienitas. Selain itu, terdapat beberapa catatan kesehatan penting lainnya dari berbagai pakar.
Dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria mengingatkan pentingnya nutrisi dan imunitas menghadapi ancaman El Nino Godzilla yang diprediksi BMKG terjadi pada 2026. Antibiotik juga tidak selalu diperlukan untuk menangani kasus batuk biasa.
Dinas Kesehatan Bojonegoro mengimbau masyarakat untuk menghindari kebiasaan mencium dan mencubit bayi saat Lebaran guna mengantisipasi penyebaran penyakit menular. Beberapa penyakit yang diwaspadai meliputi campak, batuk rejan, herpes, difteri, varicella, dan parotitis.
Batuk dan demam berulang pada anak juga perlu diwaspadai karena bisa menjadi indikator awal Penyakit Jantung Bawaan. Sementara itu, durasi batuk selama dua pekan menjadi kunci penting dalam mendeteksi gejala awal TB pada anak dan dewasa.