Kampung Es Gentong Manggarai Bertahan di Tengah Tren Minuman Kekinian

Kampung Es Gentong Manggarai Bertahan di Tengah Tren Minuman Kekinian
Foto: Ilustrasi Kampung Es Gentong Manggarai Bertahan di Tengah Tren Minuman Kekinian.

Kawasan RW 07 Manggarai, Jakarta Selatan, tetap mempertahankan identitas khasnya sebagai pusat minuman tradisional di tengah maraknya gerai minuman modern. Fenomena ini membuat warga setempat menjuluki wilayah tersebut sebagai Kampung Es Gentong.

Es teh gentong merupakan minuman teh manis dingin yang disajikan secara sederhana dalam kemasan plastik. Seperti dikutip dari Megapolitan, aroma rebusan teh yang khas mulai memenuhi gang-gang di RW 07 sejak pukul 09.00 WIB setiap harinya.

Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional dengan mencampur air teh panas dan gula pasir di dalam ember plastik berukuran lima liter. Es batu yang telah dihancurkan kemudian disimpan dalam termos besar untuk menjaga suhu tetap dingin saat dijual ke pelanggan.

Identitas sebagai Kampung Es Gentong muncul karena hampir di setiap gang terdapat warga yang berjualan minuman ini. Jarak antar pedagang bahkan ada yang kurang dari 100 meter, namun mereka tetap memiliki pelanggan setianya masing-masing.

"Bisa jadi kampung es gentong hampir seluruh tiap gang, dari anak kecil, balita sampai orang tua hampir minumnya es teh," ungkap salah satu warga bernama Yati (53) ketika diwawancarai Megapolitan di lokasi, Rabu (28/4/2026).

Yati menceritakan bahwa keberadaan pedagang es teh ini sudah ada sejak dirinya kecil, jauh sebelum tren teh Solo atau kopi kekinian muncul. Dahulu, pedagang terkenal di kawasan ini menggunakan teh Golpara bubruk dan gula batu asli dari Cirebon.

Meskipun kini sebagian besar beralih menggunakan gula pasir, minat masyarakat tidak surut. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau, yakni Rp 2.000 per plastik ukuran setengah kilogram, naik dari harga awal yang dulunya hanya Rp 500.

Kisah Para Pedagang yang Bertahan Belasan Tahun

Salah satu sosok yang telah lama bergelut dalam usaha ini adalah Aas (51). Ia mengaku sudah berjualan es teh gentong selama lebih dari satu dekade di depan rumahnya yang terletak di gang utama.

"Sudah lama, sekitar 10 sampai 11 tahun," jelas Aas di lokasi, Rabu.

Awalnya, usaha tersebut dirintis oleh putrinya untuk mengisi waktu luang. Namun, tingginya permintaan dari pelanggan setia membuat Aas memutuskan untuk terus melanjutkan usaha tersebut hingga sekarang.

Kisah serupa dibagikan oleh Yuli Yanti (34), pedagang lain yang sudah berjualan selama delapan tahun. Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 50 plastik es teh dan mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 40.000 per hari.

"Sejak 2018 setelah menikah sampai akhirnya punya anak, sambil bantu perekonomian suami," ungkap Yuli ketika ditemui di kediamannya, Rabu.

Yuli mengaku tidak merasa terancam dengan persaingan minuman modern yang harganya lebih mahal. Ia tetap mengutamakan penggunaan gula asli dan teh yang dimasak sendiri untuk menjaga loyalitas konsumennya.

Tinjauan Kesehatan Terkait Konsumsi Es Teh

Kepopuleran es teh manis di masyarakat juga mendapat perhatian dari sisi medis. Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Pondok Indah, Liliana, menjelaskan bahwa konsumsi es teh aman dilakukan dengan syarat tertentu.

"Lalu, tidak dikonsumsi bersamaan atau sesudah mengonsumsi lauk hewani yang mengandung heme seperti daging sapi, kambing, babi," ungkap Liliana ketika dihubungi Megapolitan, Rabu.

Menurut Liliana, kebiasaan minum teh di Indonesia dipengaruhi oleh iklim yang panas dan lembap. Kandungan kafein dalam teh dapat meningkatkan fungsi kognitif, sementara polifenol berperan sebagai antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas.

Namun, Liliana mengingatkan bahwa suhu dingin dari es dapat memperlambat proses pencernaan karena penyempitan pembuluh darah. Meski demikian, kondisi ini umumnya tetap aman bagi orang yang tidak memiliki gangguan kesehatan lambung seperti GERD.

Artikel terkait

Rekomendasi