JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat Tata Kota dari Universitas Indonesia (UI), Muh Azis Muslim menilai Jakarta perlu meniru Kota Milan, Italia, dalam mengubah kawasan bekas pabrik atau industri yang sudah tidak terpakai menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas untuk masyarakat.
Hal itu disampaikan Azis menanggapi kerja sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Kota Milan dalam program Leadership Exchange Programme JakartaÔÇôMilan pada 9-16 Mei 2026.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengikuti program kerja sama tersebut untuk membahas pengembangan budaya, seni kota, ruang publik, hingga ketahanan pangan perkotaan.
Menurut Azis, Milan berhasil memanfaatkan kawasan lama yang sudah terbengkalai agar bisa dinikmati kembali warganya.
ÔÇ£Nah ini yang bisa dipelajari Jakarta, bagaimana kawasan bekas pabrik atau area yang sudah tidak optimal bisa diubah menjadi ruang publik yang bermanfaat untuk masyarakat,ÔÇØ kata Azis saat dihubungi Kompas.com Minggu (17/5/2026).
Ilustrasi Piaza del Duomo di Milan, Italia, pada malam hari.
Ia menilai langkah tersebut penting karena ruang publik di Jakarta masih sangat minim.
Sedangkan kebutuhan masyarakat akan ruang yang bisa digunakan untuk berkumpul dan beraktivitas terus meningkat.
ÔÇ£Jakarta itu ruang publiknya sangat terbatas mungkin masih kurang dari 10 persen luas wilayahnya, artinya sangat minimalis. Ketika belajar di Milan, macam kawasan-kawasan yang tidak lagi beroperasi, tidak lagi beraktivitas itu bisa dimanfaatkan menjadi ruang-ruang publik yang memang menjadi salah satu sentra kegiatan masyarakat dan juga menjadi aktivitas ekonomi yang berkembang,ÔÇØ katanya.
Di sisi lain, ruang publik tidak hanya dijadikan tempat nongkrong. Masyarakat juga bisa memanfaatkannya untuk kegiatan seni, budaya, sampai ekonomi kreatif.
ÔÇ£Ruang publik itu penting bukan hanya untuk aktivitas ekonomi kreatif, tetapi juga untuk interaksi sosial dan tempat masyarakat melepas penat dari kepadatan kota,ÔÇØ ujarnya.
Selain soal ruang publik, Azis mengatakan Jakarta juga bisa belajar dari Milan terkait pengelolaan ketahanan pangan perkotaan.
Menurut dia, Milan memiliki kebijakan pengurangan sampah makanan (food waste) dan program urban farming yang bisa diterapkan di Jakarta.
ÔÇ£Nah ini menarik karena Jakarta saat ini menghadapi persoalan sampah. Program pengurangan food waste dan urban farming seperti di Milan bisa diadopsi,ÔÇØ ujarnya.
Azis menilai kerja sama antara Jakarta dan Milan menjadi langkah positif untuk mendukung Jakarta sebagai kota global.
Namun, menurut dia, kota global tidak cukup hanya memiliki gedung tinggi dan infrastruktur modern, tetapi juga harus memiliki identitas budaya dan ruang publik yang baik.
ÔÇ£Kota global juga harus punya identitas budaya yang kuat dan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat,ÔÇØ ujar Azis.
Ia pun mengingatkan agar kerja sama Jakarta dan Milan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial saja.
Menurut Azis, Pemprov DKI perlu membuat rencana kerja yang jelas serta melibatkan komunitas, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, hingga masyarakat agar hasil kerja sama bisa benar-benar diterapkan di Jakarta.
Sebelumnya, Rano Karno mengikuti Leadership Exchange Programme JakartaÔÇôMilan yang difasilitasi World Cities Culture Forum pada 9-16 Mei 2026.
Dalam program tersebut, Jakarta dan Milan bertukar pengalaman terkait pengembangan kebijakan budaya, seni publik, pengelolaan ruang kota, hingga ketahanan pangan perkotaan.
Rano mengatakan, Jakarta ingin belajar dari kota-kota dunia yang berhasil membuat seni dan budaya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
ÔÇ£Jakarta ingin menghadirkan ruang publik yang hidup melalui seni dan budaya, sekaligus membuka ruang kolaborasi kreatif bagi masyarakat dan seniman Jakarta. Kota global bukan hanya soal gedung tinggi dan infrastruktur modern, tetapi juga tentang bagaimana masyarakatnya memiliki ruang untuk berekspresi, berinteraksi, dan merasa bangga terhadap identitas kotanya,ÔÇØ kata Rano.