Kondisi internal Real Madrid dilaporkan sedang memanas akibat serangkaian insiden yang melibatkan para pemain bintang mereka di luar lapangan.
Klub raksasa Spanyol ini kini berada di ambang kegagalan meraih gelar juara untuk dua musim berturut-turut setelah performa yang tidak stabil.
Dilansir dari Detik Sport, situasi semakin sulit bagi Los Blancos setelah mereka tersingkir lebih awal dari ajang Liga Champions di tangan Bayern Munich pada babak perempat final.
Masalah internal klub ini mulai mencuat ke publik setelah pemecatan pelatih Xabi Alonso, yang kemudian diikuti oleh berbagai laporan mengenai perilaku pemain.
Kylian Mbappe menjadi salah satu sorotan utama karena memilih untuk berlibur saat dirinya seharusnya menjalani proses pemulihan cedera otot.
Meskipun Mbappe telah memberikan klarifikasi, tindakan tersebut tetap memicu kekecewaan di kalangan penggemar yang merasa sang pemain kurang berkomitmen.
Selain isu disiplin, keretakan di dalam skuad juga terlihat dari adanya perselisihan fisik antara beberapa pemain senior dan staf klub.
Laporan menyebutkan adanya ketegangan antara Antonio Rudiger dengan staf kepelatihan serta bek sayap Carreras yang memperkeruh suasana ruang ganti.
Konflik lain yang sangat disorot adalah perselisihan antara Aurelien Tchouameni dengan Federico Valverde yang mengakibatkan nama terakhir harus mendapatkan perawatan medis.
Terkait kondisi tersebut, Federico Valverde telah memberikan klarifikasi resmi bahwa tidak terjadi perkelahian sebagaimana rumor yang beredar di media.
Valverde menjelaskan bahwa luka di dahinya terjadi karena kepalanya tidak sengaja terbentur meja, yang kemudian mengharuskannya dibawa ke rumah sakit.
Pihak manajemen Real Madrid dikabarkan telah melakukan investigasi internal untuk meredam kekacauan yang terjadi di dalam tim tersebut.
Di tengah situasi yang memanas ini, publik kembali diingatkan pada pernyataan lama eks pelatih Carlo Ancelotti pada tahun 2024 silam.
Saat itu, Ancelotti baru saja sukses membawa Real Madrid mengawinkan gelar Liga Spanyol dan Liga Champions dengan komposisi pemain yang harmonis.
Ancelotti mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan timnya kala itu adalah ketiadaan ego yang berlebihan di antara para pemain bintang.
"Kami memenangkan liga karena tidak ada ego dalam tim ini. Viní Jr, Bellingham, Rodrygo, Kroos, Carvajal, Nacho, Modric, semuanya rendah hati, tanpa rasa iri. Hanya kerja sama tim dan rasa hormat yang murni," ujarnya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya sinergi antara pemain muda dan senior yang saling merangkul demi mencapai misi yang sama bagi klub.
"Pemain muda mendengarkan pemain senior, pemain senior merangkul pemain muda. Semuanya berjuang dalam misi yang sama," tegasnya.
Ancelotti juga sempat memperingatkan bahwa keberadaan rasa iri dan hilangnya kerendahan hati bisa menjadi batu sandungan bagi klub besar dalam meraih prestasi.
"I tidak tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang nanti, tapi yang penting jangan sampai ada rasa iri di dalam tim. Kerendahan hati begitu penting untuk bisa mendapat gelar juara," paparnya.