Tim beregu putra Indonesia mencatatkan sejarah kelam setelah dipastikan gagal melangkah ke babak gugur Piala Thomas 2026. Peristiwa ini menjadi momen pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia di ajang prestisius tersebut di mana mereka harus terhenti sejak fase grup.
Langkah Fajar Alfian dan kawan-kawan terhenti setelah kalah bersaing dengan Thailand serta Perancis. Padahal, tim Merah Putih mengawali turnamen dengan catatan positif lewat kemenangan atas Aljazair dengan skor 5-0 dan Thailand dengan kedudukan 3-2.
Nasib buruk Indonesia ditentukan pada pertandingan terakhir fase grup saat berhadapan dengan Perancis. Meskipun secara matematis hanya membutuhkan skor kalah 2-3 untuk bisa lolos, tim putra Indonesia justru dipaksa menyerah dengan skor telak 1-4 oleh tim Negeri Mode tersebut.
Perancis yang secara historis tidak memiliki tradisi kuat dalam Piala Thomas berhasil mendominasi melalui sektor tunggal putra. Christo Popov, Alex Lanier, dan Toma Junior Popov secara beruntun sukses mengalahkan Jonatan Christie, Alwi Farhan, serta Anthony Sinisuka Ginting.
Satu-satunya kemenangan bagi Indonesia hanya diraih oleh pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri pada partai kelima. Namun, poin tersebut tidak lagi berpengaruh karena kekalahan sudah dipastikan setelah ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani tumbang di partai keempat.
Tragedi di Piala Thomas ini mengundang keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk Ketua Masyarakat Pemerhati Bulu tangkis Indonesia (MPBI), Kurniadi. Dilansir dari Kompas, ia menekankan perlunya langkah perbaikan menyeluruh baik dalam jangka pendek maupun panjang bagi PBSI.
Kurniadi menyoroti bahwa secara teknis, kualitas pemain pelatnas PBSI tidak perlu diragukan. Ia menilai sarana prasarana serta kualitas pelatih sudah sangat memadai, namun terdapat kendala besar pada aspek mental bertanding para atlet.
"Sedih sekali rasanya melihat Tim Thomas kita mencetak sejarah tidak masuk ke babak 8 besar," ucap Kurniadi saat dihubungi Kompas pada Minggu (3/5/2026).
"Pemain kita secara teknis itu tidak perlu diragukan lagi. Ditambah kualitas pelatih dan sarana-prasana mendukung. Masalahnya ada di mental," ujar Kurniadi.
Kritik mengenai mentalitas ini juga diperkuat oleh pengamatan pemain Perancis, Christo Popov, yang menilai para pemain Indonesia tampak kurang bersemangat saat di lapangan. Kurniadi meminta PBSI untuk menginvestigasi penyebab menurunnya motivasi para pemain agar masalah serupa tidak terulang di masa depan.
Selain faktor mental, masalah pembinaan di level akar rumput turut menjadi perhatian utama. Kurniadi menyoroti maraknya praktik pencurian umur yang dinilai merusak kualitas regenerasi atlet bulu tangkis nasional karena pemain menjadi tidak terbiasa dengan persaingan yang jujur sesuai kelompok usia.
"Praktik ini pencurian umur sangat membahayakan kelangsungan karier atlet. Intinya harus ada sinergi dari PBSI dan klub-klub di Indonesia," ungkap Kurniadi.
"Proses seleksi pemain nasional juga harus transparan, informasikan alurnya secara beruntun dari pusat sampai ke klub klub kecil di daerah," tutur Kurniadi.
"Begitu juga yang di luar PBSI untuk pemilihan atlet yang akan bertanding di pekan olahraga pelajar tingkat propinsi dan nasional sampai internasional," kata Kurniadi.
Ia berharap sinergi antara PBSI dan klub-klub di daerah dapat segera diperkuat untuk memberantas masalah di tingkat akar rumput demi mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia di tahun-tahun mendatang.
"PBSI harus punya energi besar untuk bersinergi dengan klub-klub dan mengatasi masalah-masalah akar rumput," kata Kurniadi.
"Saya sendiri masih optimistis Indonesia bisa membaik. Harapannya nanti 2028 kita kembali meraih juara Piala Thomas-Uber," tutup Kurniadi.