Hambatan psikologis untuk berkomitmen sering muncul dalam hubungan asmara baru meskipun seseorang sudah memiliki kematangan emosional dan finansial, sebagaimana dilansir dari Lifestyle pada Minggu (3/5/2026). Pakar menyebut kondisi ini dapat bersumber dari trauma masa lalu atau minimnya pengalaman dalam menjalin hubungan serius.
Pencomblang profesional dan dating coach Thalia Ouimet menjelaskan bahwa ketidakhadiran pasangan dalam rencana masa depan menjadi indikasi kuat adanya ketakutan akan keterikatan permanen.
"Seseorang yang tidak memikirkan pasangannya saat membuat rencana adalah tanda yang jelas bahwa mereka mungkin memiliki ketakutan akan komitmen, atau tingkat ketertarikan mereka pada pasangannya rendah," kata Ouimet, mengutip Brides, Minggu (3/5/2026).
Ouimet menegaskan bahwa seseorang yang benar-benar jatuh cinta secara alami akan menyertakan pasangannya dalam setiap rencana yang disusun. Keengganan untuk melibatkan pasangan dalam rencana jangka panjang sering kali ditutupi dengan alasan kesibukan karier demi menghindari tanggung jawab.
"Jika kamu mendapati dirimu tidak berkomitmen pada rencana dengan pasanganmu, itu adalah indikator utama bahwa kamu tidak cukup tertarik untuk menjalin hubungan dengan pasanganmu," ucap Ouimet.
Kecenderungan untuk menjaga jarak secara emosional ini juga berkaitan erat dengan gaya kelekatan tertentu yang dimiliki oleh seseorang dalam menghadapi sebuah hubungan.
"Seseorang yang tidak mempertimbangkan pasangannya saat membuat rencana masa depan mungkin takut akan komitmen jangka panjang, yang dapat menunjukkan gaya kelekatan 'menghindar'," sambung dia.
Tanda lain yang terlihat adalah perilaku manipulatif seperti membatalkan janji secara sepihak atau memutus komunikasi secara tiba-tiba tanpa memberikan alasan yang jelas kepada pasangan.
"Mengingkari janji adalah tanda seseorang yang mungkin memiliki ketakutan akan komitmen. Seseorang yang terus-menerus menunjukkan sikap tidak menepati janji bisa jadi seorang yang menghindar dalam semua aspek kehidupannya," jelas Ouimet.
Tindakan menghilang tanpa kabar ini menunjukkan kurangnya empati terhadap perasaan pasangan karena adanya keinginan untuk menciptakan jarak demi keamanan emosional pribadi.
"Mereka mungkin mencoba mengambil langkah mundur untuk menciptakan jarak di antara mereka, yang merupakan indikator lain bahwa orang ini mungkin takut akan komitmen," terang Ouimet.
Munculnya kepanikan saat menghadapi gagasan mengenai ikatan monogami juga menjadi sinyal kuat bahwa seseorang merasa terkekang oleh komitmen eksklusif.
"Tidak ada yang lebih buruk daripada merasa tidak bahagia dan terjebak, tetapi ini mudah diperbaiki jika semua pihak yang terlibat ingin membantu membuat hubungan itu berhasil," ucap Ouimet.
Jika perasaan cemas berlebih muncul saat harus setia pada satu orang, Ouimet menyarankan untuk mencari bantuan profesional guna menelusuri akar permasalahan tersebut.
"Jika kamu cemas tentang berpacaran dengan satu orang dan berkomitmen pada satu orang itu, temui terapis untuk melihat apakah ini terkait dengan masa kecilmu, atau ketidaksukaan umum terhadap monogami," tutur Ouimet.
Selain menutup diri, sabotase hubungan sering dilakukan dengan mencari kesalahan sepele pada pasangan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengakhiri hubungan sebelum menjadi lebih serius.
"Ketika kamu mencintai seseorang dengan sepenuh hati, dan kamu berpikir jangka panjang, maka kamu mempertimbangkan kebutuhan mereka pertama kali, dan kamu ingin memastikan bahwa kebutuhan mereka terpenuhi," kata Ouimet.