Aktris Happy Salma mengungkapkan tantangan fisik dan emosional yang dihadapinya selama masa transisi perimenopause, termasuk fenomena gangguan kognitif atau brain fog, dalam sebuah acara diskusi kesehatan di Jakarta pada Jumat, 17 April 2026.
Dilansir dari Wolipop, perempuan berusia 46 tahun ini mengaku baru mulai memahami tahapan perubahan tubuh tersebut seiring bertambahnya usia, mengingat informasi mengenai fase ini masih minim didapatkan di masa lalu.
"Sekarang usia 46 tahun. Kakak saya 51 dan 56, dan dulu kami tidak benar-benar paham tentang fase ini. Seperti apa tahapannya, perubahan tubuhnya seperti apa. Padahal menopause itu sesuatu yang tidak terhindarkan," ujar Happy Salma, Aktris.
Pemeran film Pangku tersebut menjelaskan bahwa gejala perimenopause tidak hanya menyerang aspek fisik, tetapi juga memperkuat sensitivitas emosional dibandingkan periode pra-menstruasi (PMS) biasa.
"Dulu PMS mungkin cuma bikin lebih sensitif, sekarang rasanya bisa jauh lebih sensitif," ungkap Happy Salma, Aktris.
Selain perubahan suasana hati, Happy menyoroti kemunculan brain fog yang mulai mengganggu aktivitas profesionalnya, terutama dalam hal daya ingat dan konsentrasi saat bekerja di dunia seni peran.
"Saya bekerja dengan menghafal naskah, tapi sekarang sering mengalami brain fog, jadi mudah lupa. Hal-hal seperti itu berubah," kata Happy Salma, Aktris.
Meski menghadapi berbagai hambatan kognitif, Happy memandang fase perimenopause sebagai periode penting untuk melakukan refleksi diri dan meningkatkan kualitas spiritualitas maupun penghargaan terhadap hidup.
"Ini fase untuk lebih mengenal diri sendiri, momen yang justru baik untuk meningkatkan kualitas hidup," tutur Happy Salma, Aktris.
Happy meyakini bahwa pemahaman yang mendalam terhadap diri sendiri dapat membawa kebahagiaan bagi perempuan meskipun sedang berada di tengah fluktuasi hormon transisional.
"Kita jadi lebih romantis kepada Sang Pencipta, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih mengapresiasi hidup. Seperti kesempatan kedua untuk 'glowing' dari dalam. Saya percaya, banyak perempuan justru lebih bahagia di usia ini karena lebih memahami diri, lebih banyak berdialog, dan merenungi diri," lanjut Happy Salma, Aktris.
Guna mengatasi kelelahan dan stres, ia kini rutin mencari informasi serta menjalani terapi khusus yang membantunya menjaga ketenangan mental di tengah jadwal yang padat.
"Dengan terapi Mindlift by Exomind saya bisa lebih rileks, punya waktu untuk diri sendiri, dan beristirahat. Rasanya sulit dijelaskan, tapi terasa lebih tenang," ujar Happy Salma, Aktris.
dr. Arini Astasari, SpDVE, FINSDV, selaku pendiri klinik Dermalogia, mengonfirmasi bahwa fluktuasi hormon merupakan penyebab utama gangguan emosi, insomnia, hingga kecemasan pada perempuan perimenopause.
"Dengan pendekatan yang tepat seperti terapi Mindlift by Exomind, kita bisa lebih mindful, menurunkan stres, dan berfungsi lebih baik dalam keseharian," jelas Arini Astasari, Dokter Spesialis.
Menurutnya, penggunaan teknologi neuromodulasi memerlukan konsistensi untuk membangun koneksi saraf baru di dalam otak agar hasil yang dirasakan bisa lebih maksimal.
"Prosesnya singkat, sekitar 20 menit tanpa downtime. Untuk hasil optimal, biasanya dibutuhkan beberapa sesi karena tubuh juga perlu waktu untuk membangun koneksi neuron yang baru," tutup Arini Astasari, Dokter Spesialis.