Gabriele Gravina Mundur Usai Timnas Italia Gagal ke Piala Dunia 2026

Gabriele Gravina Mundur Usai Timnas Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
Foto: Ilustrasi Gabriele Gravina Mundur Usai Timnas Italia Gagal ke Piala Dunia 2026.

Mantan Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, secara resmi menanggalkan jabatannya setelah tim nasional Italia dipastikan absen dari putaran final Piala Dunia 2026. Keputusan pengunduran diri tersebut disampaikan Gravina pada Kamis (30/4/2026) menyusul kegagalan Gli Azzurri di babak play-off, sebagaimana dilansir dari Bola.

Langkah ini diambil setelah Italia menelan kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina pada babak final play-off akhir Maret lalu. Hasil minor tersebut memastikan juara Eropa 2020 itu harus absen dalam tiga edisi Piala Dunia secara berturut-turut.

Dalam keterangannya pada acara 'Otto e mezzo' di saluran La7, sosok berusia 72 tahun ini menegaskan bahwa keputusannya murni bersifat pribadi. Ia merasa perlu bertanggung jawab karena tidak mampu memenuhi ekspektasi publik untuk membawa Italia kembali ke turnamen bergengsi tersebut.

"Saya tidak dipaksa untuk mengundurkan diri, sama sekali tidak. Itu adalah pilihan pribadi saya," kata Gravina dikutip dari Football Italia, Kamis (30/4/2026).

Gravina juga menepis adanya tekanan dari pihak luar yang memengaruhi sikapnya. Ia mengaku ingin menjaga kondusivitas institusi di tengah kegaduhan yang sedang terjadi di tingkat birokrasi sepak bola Italia.

"Saya telah berjanji kepada penggemar sepak bola Italia bahwa kami akan lolos ke Piala Dunia dan sayangnya saya tidak dapat menepati janji ini," lanjut Gravina.

Mantan petinggi federasi tersebut menyatakan bahwa pengunduran dirinya merupakan bentuk pengabdian terakhir bagi FIGC. Ia menilai institusi tidak boleh terus terekspos oleh tekanan negatif akibat kegagalan prestasi tim nasional.

"Mengundurkan diri adalah hal yang tepat, sebuah isyarat cinta dan tanggung jawab," tambah Gabriele Gravina.

Gravina menjelaskan bahwa dirinya tetap tenang dalam mengambil keputusan krusial ini. Baginya, stabilitas federasi jauh lebih penting daripada mempertahankan posisi jabatan di tengah situasi histeria publik.

"Saya bukan tipe orang yang mudah tertekan, saya berpikir dengan kepala dan dengan tenang. Ini adalah tindakan tanggung jawab terhadap federasi," kata Gabriele Gravina.

Ia juga menyoroti kondisi atmosfer sepak bola Italia yang menurutnya sedang mengalami gejolak yang tidak sehat. Gravina memilih menyingkir agar federasi tidak semakin menjadi sasaran kritik publik.

"Ada histeria institusional yang terjadi di mana-mana, dan bagus untuk tidak membiarkan FIGC terlalu terekspos," tutur Gravina.

Meskipun mundur karena kegagalan tim nasional pria senior, Gravina tetap mempertahankan rekam jejak kinerjanya selama memimpin. Ia menolak anggapan bahwa seluruh proyek pengembangan sepak bola yang dijalankannya dianggap sebagai sebuah kegagalan kolektif.

"Saya rasa saya tidak gagal," tegas Gravina.

Pria kelahiran Castellaneta tersebut merujuk pada pengakuan internasional terhadap federasi Italia sebagai bukti keberhasilan manajerial. Ia meminta publik melihat pencapaian federasi secara menyeluruh, bukan hanya dari satu aspek hasil pertandingan.

"Jika kita berbicara tentang insiden kecil, tentu saja saya gagal, tetapi jika kita ingin berbicara tentang aktivitas dalam segala bentuknya dan semua proyek yang telah kita laksanakan, federasi kita termasuk yang paling dihargai di Eropa dan di dunia," jelas Gravina.

Selain membahas pengunduran dirinya, Gravina juga mengecam isu liar yang menyebut Italia berpotensi menggantikan posisi Iran di Piala Dunia 2026. Ia menilai spekulasi tersebut tidak menghormati integritas olahraga dan perasaan para pendukung.

"Menurut saya itu adalah ide yang mengada-ada dan memalukan. Kami bernegosiasi untuk mendapatkan dukungan dari para penggemar Italia, yang merupakan satu-satunya yang pantas untuk pergi ke Piala Dunia," pungkas Gravina.

Agenda pemilihan untuk menentukan suksesor kursi pimpinan FIGC dijadwalkan akan berlangsung pada 22 Juni mendatang. Nama Giovanni Malago dan Giancarlo Abete saat ini mencuat sebagai kandidat kuat yang diprediksi akan bersaing mengisi posisi lowong tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi