Food Cycle Indonesia Jembatani Penyaluran Makanan Surplus Secara Higienis

Food Cycle Indonesia Jembatani Penyaluran Makanan Surplus Secara Higienis
Foto: Ilustrasi Food Cycle Indonesia Jembatani Penyaluran Makanan Surplus Secara Higienis.

Persoalan makanan berlebih yang terbuang sia-sia menjadi isu serius di tengah gemerlap industri perhotelan dan kuliner. Di sisi lain, banyak kelompok masyarakat masih kesulitan mendapatkan akses pangan yang layak konsumsi.

Komunitas Food Cycle Indonesia hadir untuk mengatasi kesenjangan tersebut sejak November 2017. Dilansir dari Suara, organisasi ini berperan sebagai penghubung antara perusahaan pemilik makanan surplus dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan pangan.

Herman Andrianto bersama istrinya, Astrid Paramita, mendirikan komunitas ini untuk menghapus stigma negatif terhadap makanan surplus. Mereka menegaskan bahwa kategori tersebut bukanlah makanan sisa atau tidak layak, melainkan produk kelebihan produksi.

Kukuh Napaki, Business Development dan Marketing Food Cycle Indonesia, menjelaskan bahwa pihaknya membangun kepercayaan donatur melalui kerja sama dengan dasar hukum yang jelas. Setiap proses penyaluran dipastikan memiliki mitigasi risiko melalui Memorandum of Understanding (MOU).

"Donasi ke Food Cycle tidak sembarang sekadar memberikan makanan, ÔÇÿini ambil, habis itu silahkan distribusikan,ÔÇÖ enggak. Jadi kita ada perjanjian kerja sama yang mengikat antara bisnis satu dengan yang lainnya. Makanya kemudian donatur bisa percaya karena ada landasan hukum yang melindungi kita berdua," ujar Kukuh.

Sistem distribusi yang diterapkan menggunakan metode langsung tanpa transit demi meminimalkan risiko kontaminasi kuman. Untuk jenis makanan matang, pengiriman dilakukan sesegera mungkin agar kualitas nutrisi dan rasa tetap terjaga hingga sampai ke tangan penerima.

Edukasi mengenai konsep makanan surplus juga terus dilakukan agar masyarakat memahami perbedaan antara sisa makanan dan kelebihan produksi. Kukuh mencontohkan makanan hotel yang disiapkan untuk 100 tamu namun hanya dikonsumsi 70 orang sebagai bentuk surplus yang masih sangat layak.

"Kita tekankan berulang kali untuk menyematkan konotasi yang positif supaya orang tidak jijik untuk mendapatkan makanan yang kita sumbangkan. Oleh karena itu kita sebut ini surplus, kelebihan, bukan sisa," katanya.

Keanggotaan dalam Asosiasi Bank Makanan Global memperkuat reputasi internasional organisasi ini di mata perusahaan multinasional. Hal tersebut memberikan jaminan keamanan bagi korporasi besar untuk terlibat dalam program donasi pangan secara berkelanjutan.

Hingga saat ini, Food Cycle Indonesia tercatat telah menyelamatkan sekitar 1.680 ton makanan. Seluruh pasokan tersebut disalurkan secara terkontrol kepada lembaga sosial yang telah terverifikasi, mulai dari panti asuhan hingga komunitas pemulung.

Proses penyaluran dilakukan melalui koordinator atau lembaga pendamping untuk menjamin akuntabilitas distribusi. Langkah ini memastikan bahwa setiap donasi sampai kepada pihak yang benar-benar membutuhkan melalui pengawasan yang ketat.

"Food Cycle tidak salurkan langsung ke pemulung, tapi kita salurkan ke koordinatornya atau ke lembaga yang menangani mereka. Lembaga-lembaga ini kemudian bertanggung jawab pada akuntabilitas dan distribusi donasi dari Food Cycle," tambah Kukuh.

Artikel terkait

Rekomendasi