Proses menentukan pilihan merupakan aktivitas rutin yang dilakukan manusia setiap hari, mulai dari urusan sepele hingga keputusan besar mengenai masa depan. Namun, dilansir dari Lifestyle, banyak individu yang kerap merasa menyesal setelah mengambil sebuah pilihan meski awalnya merasa sudah sangat tepat.
Kondisi ini tidak selalu dipicu oleh minimnya data atau kelemahan logika seseorang. Psikolog Eric Solomon Ph.D menjelaskan bahwa terdapat faktor internal yang sering diabaikan, yaitu bagaimana perasaan sesaat mendominasi cara pandang kita terhadap suatu masalah.
Data penelitian membuktikan bahwa emosi sering kali menjadi fondasi utama saat seseorang memutuskan sesuatu, termasuk ketika perasaan itu tidak berkaitan dengan masalah yang ada. Dalam dunia psikologi, fenomena ini disebut sebagai konsep affect as information.
Kecenderungan ini membuat manusia menjadikan suasana hati sebagai referensi utama dalam menilai situasi. Suasana hati yang positif dapat membuat sebuah opsi terlihat jauh lebih menarik dan menjanjikan bagi seseorang.
Sebaliknya, kondisi tubuh yang letih atau perasaan yang sedang buruk cenderung membuat opsi yang sama terlihat meragukan. Solomon menegaskan bahwa banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa keputusan mereka bersifat rasional, padahal faktor situasional yang tidak relevan sangat dominan.
Distorsi Penilaian Akibat Faktor Situasi
Kesalahan penilaian ini dapat muncul dalam interaksi sederhana, seperti menilai lingkungan kerja baru. Seseorang bisa saja memiliki persepsi negatif terhadap sebuah perusahaan hanya karena sesi wawancara dilakukan saat ia sedang merasa sangat lelah secara fisik.
Terdapat pula istilah misattribution of arousal, yaitu kondisi di mana seseorang salah dalam mengidentifikasi asal usul emosinya. Reaksi fisik seperti jantung yang berdebar kencang bisa saja dianggap sebagai sinyal ketertarikan, padahal itu hanyalah bentuk respons terhadap rasa cemas.
Ketidakmampuan membedakan sumber emosi ini membuat seseorang menjadi lebih rentan terjebak dalam pilihan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai jangka panjang mereka. Hal ini diperparah dengan kebiasaan mengandalkan intuisi tanpa melakukan evaluasi diri secara mendalam.
Langkah Memperbaiki Kualitas Keputusan
Guna meminimalisir kesalahan dalam memilih, setiap individu perlu membangun kesadaran terhadap kondisi internalnya sebelum bertindak. Memastikan diri sedang tidak dalam kondisi lapar, lelah, atau di bawah tekanan emosional yang hebat adalah langkah preventif yang krusial.
Strategi lain yang sangat dianjurkan adalah dengan memberikan jeda waktu sebelum memberikan jawaban atau keputusan final. Meninjau kembali pilihan tersebut dalam suasana hati yang berbeda memungkinkan seseorang mendapatkan sudut pandang yang lebih netral.
Fokus pada faktor-faktor yang secara langsung relevan dengan tujuan akhir juga akan sangat membantu meningkatkan objektivitas. Dengan memahami pengaruh emosi terhadap mekanisme berpikir, peluang untuk menghasilkan keputusan yang lebih bijak serta terukur akan semakin terbuka lebar.