Desainer ternama Elie Saab menegaskan komitmennya untuk terus berkarya di tanah kelahirannya, Lebanon, di tengah tekanan krisis geopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Wolipop, meskipun Lebanon menjadi sasaran serangan dalam beberapa bulan terakhir, perancang busana ini menolak untuk meninggalkan negaranya.
Nama Elie Saab telah lama dikenal di panggung mode internasional melalui deretan gaun glamor yang menjadi langganan bintang Hollywood. Salah satu pencapaian ikoniknya terjadi pada tahun 2002, saat Halle Berry mengenakan gaun burgundy rancangannya ketika memenangkan piala Oscar sebagai aktris utama terbaik.
Kisah loyalitas Elie Saab terhadap Beirut bermula sejak tahun 1982, saat ia mendirikan labelnya di tengah situasi perang saudara. Walaupun kini bisnisnya telah merambah hingga ke Lugano, Swiss, sang desainer tetap menjadikan Beirut sebagai pusat operasional dan rumah utamanya.
"Mirisnya, kami sudah terbiasa dengan situasi ini. Bagi saya, fashion memiliki makna untuk mengubah sesuatu yang buruk menjadi indah. Itulah misi saya sejak awal," ujar pria berusia 61 tahun itu kepada The New York Times.
Saat ini, jenama tersebut dikelola bersama putranya, Elie Saab Jr., dan mempekerjakan sekitar 700 staf di Beirut. Meskipun banyak karyawan yang terdampak secara pribadi oleh konflik, semangat untuk mempertahankan industri fashion tetap kuat di antara mereka.
Elie Saab Jr. menceritakan dedikasi luar biasa dari tim mereka yang tetap bekerja meski dalam kondisi sulit. Ia mengungkapkan bahwa ada anggota tim yang tetap datang ke kantor tepat waktu meskipun kediaman mereka baru saja hancur akibat serangan rudal.
"Ada beberapa orang kami yang rumahnya terkena ledakan rudal. Mereka kehilangan rumah, tapi tetap muncul di kantor jam 8 pagi keesokan harinya. Mereka bilang, 'Kami ingin fokus ke hal lain dan fokus pada masa depan bersama'," tutur Elie Saab Jr.
Keinginan untuk tetap bertahan di Beirut seringkali memicu pertanyaan dari banyak pihak, mengingat Elie Saab merupakan anggota Chambre Syndicale de la Haute Couture. Banyak yang menyarankan agar ia memindahkan seluruh workshop ke lokasi yang lebih stabil seperti Milan atau Paris.
"I justru merasa lebih baik di sini, terutama saat hari-hari sulit. Saya tidak mau pergi ke luar negeri," kata Elie Saab menanggapi saran tersebut.
Elie Saab Jr. mendukung penuh keputusan ayahnya dengan mengenang masa kejayaan Beirut sebagai pusat mode di kawasan tersebut. Ia berharap Lebanon dapat kembali ke era keemasannya seperti pada tahun 1960-an, ketika kota itu dijuluki sebagai Parisnya Timur Tengah.