Dokter Beatrix Isabella Ungkap Kesalahan Fatal Penggunaan Sunscreen

Dokter Beatrix Isabella Ungkap Kesalahan Fatal Penggunaan Sunscreen
Foto: Ilustrasi Dokter Beatrix Isabella Ungkap Kesalahan Fatal Penggunaan Sunscreen.

Dokter Estetika dr. Beatrix Isabella Tjahyana Dipl.AAAM memperingatkan masyarakat mengenai tingginya risiko kerusakan kulit akibat paparan sinar UV di tengah fenomena cuaca panas ekstrem El Nino Godzilla. Peringatan tersebut disampaikan dalam acara pengenalan teknologi kecantikan di Jakarta pada Kamis (30/4/2026).

Dilansir dari Suara, fenomena kemarau panjang ini menuntut perlindungan kulit yang lebih maksimal guna menghindari dampak buruk radiasi matahari. Namun, dr. Beatrix menemukan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan kesalahan mendasar saat menggunakan produk pelindung kulit seperti sunscreen maupun sunblock.

Pendiri BeArt Korean Skin Clinic tersebut menyoroti ketidaktahuan publik mengenai pentingnya mengaplikasikan ulang produk secara berkala. Hal ini menjadi temuan utama dalam praktik klinisnya saat berinteraksi dengan pasien yang mengeluhkan masalah kulit meskipun merasa sudah memakai pelindung.

"Yang paling banyak yang mereka tuh kaget dan nggak mengerti itu ternyata ada re-apply sunscreen atau sunblock," ujar dr. Beatrix, Dokter Estetika sekaligus Founder & CEO BeArt Korean Skin Clinic.

Kurangnya pemahaman mengenai durasi perlindungan produk menjadi faktor utama efektivitas sunscreen menurun drastis. dr. Beatrix menjelaskan bahwa keringat dan air dapat melunturkan lapisan pelindung yang telah diaplikasikan pada pagi hari.

ÔÇ£Banyak yang merasa sudah pakai dari pagi itu cukup sampai sore, padahal kenyataannya kita harus reapply tiap 2ÔÇô3 jam,ÔÇØ jelas dr. Beatrix.

Selain masalah aplikasi ulang, terdapat persepsi keliru bahwa penggunaan tabir surya dapat mencegah seluruh masalah pigmentasi secara total. Secara teknis, sunscreen bekerja menyerap sinar UV, sementara sunblock bertindak sebagai perisai yang memantulkan radiasi dari permukaan kulit.

ÔÇ£Sunblock itu didesain bukan untuk mencegah flek, tapi untuk mencegah sunburn. Jadi bukan berarti sudah pakai, pasti nggak akan muncul flek,ÔÇØ kata dr. Beatrix.

Penegasan mengenai batasan perlindungan SPF juga menjadi poin penting dalam edukasi tersebut. dr. Beatrix menyebutkan bahwa produk dengan SPF 50 hanya mampu memberikan proteksi sekitar 98 persen, sehingga risiko kerusakan tetap ada jika faktor lain diabaikan.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih selektif dalam memilih jenis kandungan produk, terutama bagi pemilik kulit sensitif yang rentan terhadap iritasi kimia. Penggunaan jenis physical sunscreen yang mengandung zinc oxide atau titanium dioxide dianggap lebih efektif untuk wilayah tropis.

ÔÇ£Sekarang lebih dianjurkan pakai yang physical sunscreen, karena dia langsung menangkal UV dan tidak membuat kulit lebih sensitif,ÔÇØ ujarnya.

Bagi warga yang beraktivitas di bawah paparan matahari tinggi di Indonesia, penggunaan produk dengan minimal SPF 50 sangat disarankan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko kulit terbakar yang menjadi pemicu utama kerusakan sel kulit jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi