Melihat KaÔÇÖbah untuk pertama kali serta menyentuh Hajar Aswad menjadi momen spiritual yang mendalam bagi jamaah haji dan umrah. Berada langsung di hadapan kiblat umat Islam sering kali memicu rasa haru yang luar biasa bagi mereka yang selama ini hanya melihatnya melalui gambar.
Momentum berharga ini memiliki nilai ibadah yang tinggi, sehingga sangat dianjurkan untuk diiringi dengan zikir serta doa. Dilansir dari Cahaya, terdapat sejumlah riwayat hadis yang mencatat bacaan doa dari Rasulullah dan para ulama saat menghadapi momen tersebut.
Dalam kitab Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah, disebutkan doa yang dibaca Rasulullah ketika memandang KaÔÇÖbah:
Ϻ┘ä┘ä┘Ä┘æ┘ç┘Å┘à┘Ä┘æ Ï▓┘ÉÏ»┘Æ ┘ç┘ÄÏ░┘ÄϺ Ϻ┘ä┘ÆÏ¿┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘Ä Ï¬┘ÄÏ┤┘ÆÏ▒┘É┘è┘ü┘ïϺ ┘ê┘ÄϬ┘ÄÏ╣┘ÆÏ©┘É┘è┘à┘ïϺ ┘ê┘Ä┘à┘Ä┘ç┘ÄϺϿ┘ÄÏ®┘ïÏî ┘ê┘ÄÏ▓┘ÉÏ»┘Æ ┘à┘Ä┘å┘Æ Ï¡┘Äϼ┘Ä┘æ┘ç┘Å Ïú┘Ä┘ê┘É ÏºÏ╣┘ÆÏ¬┘Ä┘à┘ÄÏ▒┘Ä┘ç┘ŠϬ┘ÄÏ┤┘ÆÏ▒┘É┘è┘ü┘ïϺ ┘ê┘ÄϬ┘ÄÏ╣┘ÆÏ©┘É┘è┘à┘ïϺ ┘ê┘ÄϬ┘Ä┘â┘ÆÏ▒┘É┘è┘à┘ïϺ ┘ê┘ÄÏ¿┘ÉÏ▒┘ï┘æÏº
Artinya: ÔÇ£Ya Allah, tambahkanlah kepada rumah ini (KaÔÇÖbah) kemuliaan, keagungan, dan kewibawaan. Dan tambahkanlah kepada orang yang menunaikan haji atau umrah kepadanya kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kebaikan.ÔÇØ
Selain itu, terdapat doa lain dari tabiÔÇÖin SaÔÇÖid bin al-Musayyib saat memasuki Masjidil Haram yang juga tercatat dalam sanad sahih:
Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘æ┘Ä Ïú┘Ä┘å┘ÆÏ¬┘Ä Ïº┘äÏ│┘æ┘Ä┘ä┘ÄϺ┘à┘Å ┘ê┘Ä┘à┘É┘å┘Æ┘â┘Ä Ïº┘äÏ│┘æ┘Ä┘ä┘ÄϺ┘à┘ÅÏî ┘ü┘ÄÏ¡┘Ä┘è┘æ┘É┘å┘ÄϺ Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘Ä┘å┘ÄϺ Ï¿┘ÉϺ┘äÏ│┘æ┘Ä┘ä┘ÄϺ┘à┘É
Artinya: ÔÇ£Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari-Mulah segala keselamatan, maka hidupkanlah kami wahai Tuhan kami dengan keselamatan.ÔÇØ
Lafaz ini menekankan permohonan keselamatan yang menyeluruh, mulai dari iman, fisik, keluarga, hingga akhir hayat. Momen memandang KaÔÇÖbah menjadi kesempatan emas untuk memperkuat harapan tersebut kepada Allah SWT.
Doa Saat Menyentuh Hajar Aswad
Menyentuh atau memberi isyarat kepada Hajar Aswad merupakan bagian penting dalam rangkaian tawaf yang dilakukan sesuai sunnah Nabi. Beberapa riwayat menyebutkan bacaan zikir saat melakukan praktik ini.
Salah satu bacaan yang ringkas adalah:
Ï¿┘ÉϺÏ│┘Æ┘à┘É Ïº┘ä┘ä┘ç┘É ┘ê┘ÄϺ┘ä┘ä┘ç┘Å Ïú┘Ä┘â┘ÆÏ¿┘ÄÏ▒┘Å
Artinya: ÔÇ£Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar.ÔÇØ
Terdapat pula lafaz yang lebih lengkap sebagai bentuk pembenaran terhadap kitab suci dan mengikuti ajaran Rasulullah:
┘ä┘ÄϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ç┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å ┘ê┘ÄϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å Ïú┘Ä┘â┘ÆÏ¿┘ÄÏ▒┘ÅÏî Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘æ┘Ä Ï¬┘ÄÏÁ┘ÆÏ»┘É┘è┘é┘ïϺ Ï¿┘É┘â┘ÉϬ┘ÄϺϿ┘É┘â┘ÄÏî ┘ê┘ÄÏ│┘Å┘å┘æ┘ÄÏ®┘É ┘å┘ÄÏ¿┘É┘è┘æ┘É┘â┘Ä ÏÁ┘Ä┘ä┘æ┘Ä┘ë Ϻ┘ä┘ä┘ç┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É ┘ê┘ÄÏ│┘Ä┘ä┘æ┘Ä┘à┘Ä
Artinya: ÔÇ£Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, pernyataan ini sebagai pembenaran terhadap Kitab-Mu dan sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi-Mu.ÔÇØ
Imam SyafiÔÇÖi dalam kitab Al-Umm juga meriwayatkan bacaan yang menggabungkan zikir awal tawaf sebagai wujud keimanan. Seluruh bacaan ini bertujuan untuk mengagungkan Allah serta menunjukkan komitmen hamba dalam mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW.
Terkait niat dalam melafalkan doa ini, Imam Bukhari meriwayatkan sikap Umar bin Khattab terhadap batu hitam tersebut.
"Demi Allah, sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi SAW menyentuhmu, niscaya aku tidak akan menyentuhmu." kata Umar bin Khattab.
Riwayat tersebut menegaskan bahwa amalan mencium atau menyentuh Hajar Aswad dilakukan murni sebagai bentuk ketaatan pada sunnah, bukan karena keyakinan akan kekuatan magis dari batu itu sendiri.