Dilema Trump: Akhiri Perang AS-Iran dengan Kesepakatan tidak Memuaskan
HARAPAN terbaik untuk mengakhiri perang yang dinilai kurang terencana dengan Iran kini tampaknya bergantung pada perdamaian yang tidak memuaskan. Konflik yang dimulai dengan konsultasi minim terhadap Kongres maupun rakyat Amerika Serikat ini berisiko meninggalkan isu-isu kritis yang belum terselesaikan, sembari memperdalam perpecahan politik di Washington.
Presiden Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan untuk menghentikan konflik sudah sangat dekat. Namun, klaim terbaru mengenai kerangka perjanjian dengan Teheran disambut dengan skeptisisme luas. Baik kelompok konservatif garis keras maupun Partai Demokrat khawatir bahwa Trump berada di ambang menyerah pada kesepakatan yang buruk.
Sinyal Diplomatik dan Pembukaan Selat Hormuz
Desas-desus diplomatik menunjukkan kemungkinan akomodasi untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melonggarkan blokade AS terhadap kapal serta pelabuhan Iran. Terobosan ini diharapkan menjadi titik awal pembicaraan untuk menghambat ambisi nuklir Iran yang tersisa.
Kesepakatan konkret di luar gencatan senjata yang rapuh saat ini akan disambut baik secara global. Hal ini membawa harapan bagi pemulihan krisis energi dan ekonomi yang dipicu oleh perang serta penutupan selat strategis tersebut. Namun, detail yang muncul menunjukkan bahwa Washington mungkin harus mencairkan aset Iran dan membongkar blokade secara bertahap, langkah yang dianggap memvalidasi posisi tawar Republik Islam tersebut.
Konteks Ekonomi: Analis dari JPMorgan memperkirakan harga minyak akan tetap berada di rata-rata US$97 per barel sepanjang sisa tahun ini, meskipun ada potensi pembukaan kembali jalur perdagangan.
Tekanan dari Internal Republik dan Demokrat
Trump menghadapi tekanan dari dua sisi. Senator Republik seperti Thom Tillis dan Roger Wicker menyatakan kekhawatiran bahwa AS akan terlihat lemah jika membiarkan material nuklir tetap berada di Iran. Senator Lindsey Graham juga memperingatkan bahwa kontrol Iran atas Selat Hormuz dapat menggeser keseimbangan kekuatan regional.
Di sisi lain, politisi Demokrat seperti Cory Booker dan Chris Van Hollen mengkritik keras strategi Trump. Booker menyebut Trump dipermainkan karena kesepakatan yang diusulkan tidak secara tuntas menangani program nuklir sejak awal. Van Hollen menilai perang ini sebagai kesalahan besar (blunder) dan menyarankan agar pemerintah berhenti memperburuk situasi.
Dilema Politik Menjelang Midterms
Dengan mendekatnya Memorial Day dan pemilihan paruh waktu (midterms), Trump berada dalam posisi sulit. Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika menentang perang. Namun, mengakhiri perang dengan syarat yang dianggap menguntungkan Iran juga dapat merusak reputasi politiknya.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio membela posisi pemerintah dengan menyatakan bahwa tidak masuk akal jika Presiden akan menyetujui kesepakatan yang membuat posisi nuklir Iran lebih kuat. Meski demikian, Trump sendiri menginstruksikan perwakilannya untuk tidak terburu-buru dengan mengeklaim, "Waktu berada di pihak kita."
Pertanyaan besar yang tersisa yaitu apakah kesepakatan yang dihasilkan akan lebih kuat daripada pakta tahun 2015 yang sebelumnya dibatalkan oleh Trump dan apakah pengorbanan nyawa serta biaya miliaran dolar dalam konflik ini benar-benar menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang lebih baik terhadap Iran. (CNN/I-2)
- Pengorbanan Prajurit Perempuan AS Tertinggi dalam Perang Iran: Kisah Ashley Pruitt dan Nicole Amor 24/5/2026 23:15 Proporsi prajurit perempuan yang gugur dalam konflik dengan Iran meningkat tajam. Simak kisah haru Ashley Pruitt dan Nicole Amor yang gugur di medan tugas.
- Trump Klaim Damai dengan Iran, Pasar Ragukan Pembukaan Selat Hormuz 24/5/2026 22:40 Presiden Trump mengeklaim perdamaian dengan Iran segera terwujud. Namun, tantangan logistik dan teknis membayangi pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Liburan Batal, Pemerintahan Trump Siapkan Serangan Militer ke Iran 23/5/2026 14:08 Pemerintahan Trump siapkan serangan militer ke Iran meski diplomasi berlanjut. Simak perkembangan terbaru konflik AS-Iran dan dampaknya pada pasar energi global.
- Emirat Arab Bersama Saudi dan Qatar Desak Trump tidak Mulai Perang 22/5/2026 22:08 Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar bersatu mendesak Presiden AS Donald Trump untuk mengutamakan diplomasi guna mengakhiri perang dengan Iran demi stabilitas ekonomi Teluk.
- Laporan Kongres AS: 42 Pesawat Militer Hancur dalam Perang Iran 22/5/2026 15:47 Laporan Kongres AS mengungkap kerugian besar Operation Epic Fury, termasuk hancurnya F-35 dan F-15 dengan estimasi biaya penggantian mencapai US$7 miliar.
- Diplomasi AS-Iran kian Intensif, Proposal Washington Diklaim Kurangi Kesenjangan 21/5/2026 21:15 Upaya diplomatik intensif dilakukan untuk memecah kebuntuan AS-Iran. Pakistan berperan sebagai mediator di tengah ancaman militer Donald Trump.
- Emoh Terburu-buru, Donald Trump Minta Negosiator AS Tak Asal Sepakat dengan Iran 25/5/2026 08:36 Negosiasi AS dan Iran dilaporkan mencapai kemajuan signifikan terkait nuklir hingga Selat Hormuz. Namun, Presiden Donald Trump tegaskan ogah buru-buru tanda tangan.
- Trump Klaim Damai dengan Iran, Pasar Ragukan Pembukaan Selat Hormuz 24/5/2026 22:40 Presiden Trump mengeklaim perdamaian dengan Iran segera terwujud. Namun, tantangan logistik dan teknis membayangi pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Trump Finalisasi Kesepakatan Selat Hormuz dengan Iran, Israel dan Teluk Waspada 24/5/2026 22:30 Pemerintahan Trump mengupayakan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz dengan Iran. Israel dan negara Teluk khawatir akan dampak keamanan jangka panjang.
- Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Rampung, Selat Hormuz Bakal Dibuka 24/5/2026 05:20 Hubungan AS-Iran mendadak cair. Donald Trump sebut draf perjanjian damai 14 poin hampir final, termasuk rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Liburan Batal, Pemerintahan Trump Siapkan Serangan Militer ke Iran 23/5/2026 14:08 Pemerintahan Trump siapkan serangan militer ke Iran meski diplomasi berlanjut. Simak perkembangan terbaru konflik AS-Iran dan dampaknya pada pasar energi global.