Dilema Secangkir Kopi di Jakarta antara Gaya Hidup dan Bertahan Hidup

Dilema Secangkir Kopi di Jakarta antara Gaya Hidup dan Bertahan Hidup
Foto: Ilustrasi Dilema Secangkir Kopi di Jakarta antara Gaya Hidup dan Bertahan Hidup.

JAKARTA, KOMPAS.com ÔÇö Di sudut-sudut kota yang tak pernah benar-benar sepi, secangkir kopi bisa berarti hal yang berbeda.

Di satu tempat, ia menjadi bagian dari gaya hidup. Di tempat lain, ia cukup untuk menemani dua hari percakapan.

ÔÇ£Kalau di kafe sekali duduk bisa habis Rp 50.000. Di sini uang segitu bisa buat dua hari,ÔÇØ kata Mulyadi (43), pemilik warkop ÔÇ£Kopi Bang YadiÔÇØ di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Pernyataan itu bukan sekadar perbandingan harga. Ia menggambarkan cara bertahan sebagian warga kota di tengah tekanan biaya hidup yang terus terasa.

Di Jakarta, kafe modern dengan desain estetik terus bermunculan. Mereka menawarkan kopi premium, ruangan berpendingin udara, serta interior yang dirancang untuk menarik perhatian di media sosial.

Namun, di balik ekspansi itu, warung kopi (warkop) kecil tetap bertahan bahkan tetap ramai.

Di warkop milik Mulyadi yang berukuran sekitar 4x3 meter, pelanggan datang silih berganti. Dari pengemudi ojek online, satpam, pegawai kantor, hingga anak muda yang baru pulang kerja.

ÔÇ£Kalau orang cuma cari kopi enak, ya mereka bisa ke mana saja. Tapi yang dicari di sini itu suasananya. Bisa duduk, bisa ngomong apa saja, tidak ada yang ngatur,ÔÇØ ujar Mulyadi.

Ia menyebut warkop menjadi semacam ÔÇ£ruang napasÔÇØ bagi pekerja kota. Tempat singgah tanpa tuntutan, tanpa harus menjaga citra.

ÔÇ£Di sini orang tidak harus jaga image,ÔÇØ katanya.

Ruang kecil, percakapan besar

Tak jauh dari sana, warkop lain berdiri di Kebon Sirih. Ukurannya hanya sekitar 3x3 meter, dengan meja kayu panjang dan bangku plastik yang berhimpitan.

Pemiliknya, H. Sumarno (55), mengatakan warungnya tak pernah benar-benar kosong.

ÔÇ£Warung saya kecil, cuma 3x3 meter. Tapi alhamdulillah yang datang macam-macam. Ada bapak-bapak, ada anak muda juga,ÔÇØ kata Sumarno.

Menurut dia, pelanggan generasi tua datang karena kebiasaan. Sementara anak muda mencari ruang santai yang murah dan tidak mengikat.

ÔÇ£Kalau yang tua itu sudah langganan. Mereka ngopi sambil ngobrol. Kalau anak-anak muda biasanya santai, ngopi, ngerokok, main HP,ÔÇØ ujar dia.

Di ruang sempit itu, jarak yang rapat justru menciptakan kedekatan.

ÔÇ£Kalau warung kecil begini, orang mau tidak mau duduknya dekat-dekat. Jadi gampang ngobrol. Kadang yang tadinya tidak kenal, jadi kenal,ÔÇØ katanya.

Harga menjadi alasan utama. Kopi dijual Rp 5.000, teh manis Rp 4.000, gorengan Rp 2.000.

ÔÇ£Banyak yang penghasilannya harian. Ojol, satpam, pekerja lepas. Kalau nongkrong di kafe tiap hari ya tidak kuat,ÔÇØ ucapnya.

Di tengah gempuran kafe

Di kawasan Gondangdia, Menteng, Yanto (47) mengelola warkop berukuran 4x3 meter. Di sekitarnya, kafe modern tumbuh pesat. Namun ia tidak merasa tersaingi secara langsung.

ÔÇ£Kalau di sini orang datang tidak mikirin outfit, tidak mikirin harus pesan menu mahal. Mau ngopi saja ya ngopi,ÔÇØ kata Yanto.

Ia melihat sebagian anak muda justru mulai mencari ruang yang lebih sederhana.

ÔÇ£Anak-anak muda sekarang banyak juga yang capek sama yang estetik-estetik. Mereka ingin nongkrong yang biasa saja, tapi tetap enak buat ngobrol,ÔÇØ ujarnya.

Warkopnya mulai ramai sejak sore hari. Banyak pengunjung duduk berjam-jam setelah pulang kerja.

ÔÇ£Saya pakai kursi kayu biar orang betah,ÔÇØ katanya.

Harga tetap menjadi pembeda utama.

ÔÇ£Kalau ke kafe sekali duduk bisa habis Rp 50.000. Kalau seminggu tiga kali, ya berat juga,ÔÇØ ujar Yanto.

Bukan saling menggantikan

Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai bertahannya warkop bukan hal yang mengejutkan.

ÔÇ£Dalam kondisi daya beli tertekan, warkop menjadi pilihan rasional karena menawarkan harga murah, akses mudah, dan fungsi sosial tanpa biaya tambahan,ÔÇØ kata Rizal saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/5/2026).

Menurut dia, warkop dan kafe modern melayani segmen yang berbeda.

ÔÇ£Jadi, bukan sekadar kesenjangan daya beli, tetapi diferensiasi nilai yang ditawarkan, antara produk versus pengalaman,ÔÇØ ujarnya.

Ia menilai tren kafe didorong konsumsi simbolikÔÇödi mana orang membeli pengalaman, estetika, dan identitas sosial.

Namun, ekspansi kafe tidak menghilangkan warkop. Justru mempertegas adanya dualisme pasar konsumsi di kota besar.

ÔÇ£Tetapi pergeseran itu tidak menggantikan warkop, melainkan mempertegas dualisme pasar konsumsi,ÔÇØ kata Rizal.

Antara kebutuhan dan gaya hidup

Bagi sebagian pekerja, pilihan antara kafe dan warkop bukan soal mana yang lebih baik, melainkan kapan dan untuk apa.

Arief (27), pegawai administrasi di Menteng, mengaku tetap pergi ke kafeÔÇötetapi hanya saat akhir pekan.

ÔÇ£Kalau kafe itu biasanya Sabtu atau Minggu. Kalau weekday tidak mungkin tiap hari, mahal juga,ÔÇØ ujarnya.

Saat hari kerja, ia lebih memilih warkop.

ÔÇ£Kalau jam makan siang kan mepet. Di warkop tinggal duduk, pesan kopi sama gorengan atau mie, tidak ribet,ÔÇØ katanya.

Hal serupa disampaikan Nadya (30), pekerja perbankan.

ÔÇ£Saya suka kafe karena nyaman dan tempatnya bagus. Tapi paling pas weekend saja,ÔÇØ kata Nadya.

ÔÇ£Kalau di warkop itu ramai, campur. Rasanya lebih Jakarta,ÔÇØ ujarnya.

Lebih dari sekadar kopi

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai perbedaan warkop dan kafe mencerminkan perubahan budaya perkotaan.

Menurut dia, warkop adalah ruang sosial yang egaliter.

ÔÇ£Nilai utamanya adalah kedekatan, keterjangkauan, dan kebiasaan. Habitual space,ÔÇØ kata Rakhmat.

Sementara kafe menjadi ruang pengalaman.

ÔÇ£Estetika visual, kenyamanan, konektivitas seperti wifi, dan desain interior menjadi faktor penting,ÔÇØ ujarnya.

Meski demikian, warkop tetap memainkan peran penting sebagai ruang interaksi lintas kelas.

ÔÇ£Di warung kopi batas antara kelas sosial, profesi bahkan usia menjadi lebih cair,ÔÇØ kata dia.

Ia mengingatkan, jika warkop hilang, yang lenyap bukan hanya tempat minum kopi murah.

ÔÇ£Pergantian warung kopi dengan kafe modern bukan sekadar perubahan fisik, tapi juga transformasi makna ruang. Dari ruang sosial menjadi ruang konsumsi,ÔÇØ ujarnya.

Di tengah perubahan kota yang cepat, keduanya tampaknya akan tetap berdampinganÔÇödengan perannya masing-masing.

Bagi sebagian orang, kopi adalah gaya hidup. Bagi yang lain, ia cukup untuk bertahan dua hari.

Artikel terkait

Rekomendasi