Atlet panjat tebing putri Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, menargetkan pemecahan rekor baru saat berlaga di Asian Beach Games 2026 Sanya, China pada 22 hingga 30 April mendatang. Penegasan tersebut disampaikan Desak di sela sesi latihan rutin di Pelatnas Panjat Tebing, Bekasi, pada Jumat (17/4/2026).
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) mengirimkan total delapan atlet terbaik ke kejuaraan multievent tersebut, termasuk Desak Made Rita. Dilansir dari Detik Sport, selain Desak, delegasi Indonesia diperkuat oleh Aditya Tri Syahria, Amanda Narda Mutia, Antasyafi Robby Al Hilmi, Kadek Adi Asih, Puja Lestari, Raharjati Nursamsa, dan Ramaski Aswin Kristanto.
Target besar ini dicanangkan Desak setelah dirinya tampil dominan di ajang Asian Championship yang berlangsung di Meishan, China, pada awal April 2026. Di kompetisi tersebut, atlet yang juga merupakan Olimpian Paris 2024 ini sukses meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor Asia.
"Target saya di sana ingin mempertahankan medali (Asian Championship) dan kalau bisa pecah rekor," kata Desak.
Pada partai final sebelumnya, Desak mencatatkan waktu 6,07 detik untuk mengalahkan wakil tuan rumah, Zhou Yafei, yang finis dengan waktu 6,47 detik. Meskipun berhasil mengunci posisi pertama, atlet asal Bali ini mengaku belum sepenuhnya puas dengan torehan waktu yang ia raih di papan panjat.
"Kalau catatan waktu memang menargetkan diri bisa di bawah enam detik. Itu sedikit lagi, dan berharapnya tahun ini (bisa mencapai) di bawah itu," tutur Desak.
Desak menjelaskan bahwa performanya di Asian Championship sebenarnya sudah maksimal, namun ada aspek teknis dan waktu yang dirasa belum mencapai titik optimal. Ia menceritakan bagaimana dirinya berusaha tetap rileks selama proses pemanjatan di kejuaraan sebelumnya.
"Kemarin (Asian Championship) itu kan catatannya lebih ke waktu pemanjatan maksimal, sudah berusaha serileks mungkin, tapi memang belum keluar saja," kata Desak.
Perasaan bahwa performa terbaiknya belum sepenuhnya muncul menjadi motivasi tambahan bagi Desak untuk mengejar catatan waktu di bawah enam detik. Ia merasa kontrol pemanjatannya baru mulai terasa lepas ketika memasuki babak empat besar hingga ke final.
"Kemarin itu saya merasa masih ke kontrol saja manjatnya dan mulai empat besar mulai lepas, 'bisa nih catatan waktu terbaik.' Pas sudah final, sudah tepuk, ternyata belum (catatan waktu terbaik). Jadi kalau sudah maksimal sudah, tapi memang waktunya yang belum," tegas Desak.