Ruang Sempit Kamar Kos Tingkatkan Risiko Stres ASN saat WFH

Ruang Sempit Kamar Kos Tingkatkan Risiko Stres ASN saat WFH
Foto: Ilustrasi Ruang Sempit Kamar Kos Tingkatkan Risiko Stres ASN saat WFH.

Kebijakan bekerja dari rumah atau WFH pada hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) memicu risiko peningkatan stres dan burnout akibat keterbatasan ruang gerak di kamar indekos. Fenomena ini dialami pegawai muda yang harus menyatukan fungsi ruang kerja, tempat makan, hingga area istirahat dalam satu petak ruangan yang sama pada Selasa (5/5/2026).

Kondisi fasilitas tempat tinggal yang tidak merata menciptakan disparitas kenyamanan antara pegawai dengan rumah luas dan mereka yang menetap di kos sempit. Dilansir dari Lifestyle, lingkungan fisik yang tertutup dan kecil memengaruhi kinerja otak dalam menghadapi tumpukan beban pekerjaan kantor sehari-hari.

Psikolog Klinis Clement Eko Prasetio, M.Psi., menjelaskan bahwa jarak pandang yang terhalang tembok di dalam kamar kos dapat membuat pikiran seseorang ikut menyempit saat menghadapi emosi negatif.

"Ruang sempit di kos-kosan memang bisa berdampak juga pada tingkat stres dan burnout ya, karena pandangan kita tuh juga 'menyempit'," ujar Clement, Psikolog yang berpraktik di Indopsycare.

Keterpautan pada detail masalah menjadi konsekuensi logis ketika visi otak tidak mampu melihat gambaran besar akibat keterbatasan lingkungan fisik. Hal ini diperparah jika beban tugas atau tekanan pekerjaan dari instansi memang sudah berada pada level yang tinggi.

"Kalau lagi stres tuh, otak kita juga akan cenderung lebih menyempit 'vision'-nya, jadi hanya melihat hal-hal secara terlalu detail," tutur Clement.

Meskipun ruangan sempit bukan pemicu tunggal kelelahan mental, faktor lingkungan seperti suhu udara yang panas di dalam kos dapat memperburuk kondisi psikis pegawai. Penentuan titik spesifik untuk bekerja menjadi solusi guna memisahkan antara area profesional dan area istirahat pribadi.

"Meskipun bukan kosan sempit sebagai faktor utama penyebab dari burnout ya, biasanya hanya memperburuk kondisi saja, apalagi kalau kosannya panas," ujar Clement.

Penggunaan meja kecil di sudut tertentu dapat membantu otak mengasosiasikan benda tersebut dengan mode kerja profesional. Kedisiplinan dalam menetapkan batas fisik ini krusial agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan aspek kesehatan mental pegawai.

"Kita di kos-kosan pun ada sudut ruangan tertentu lah ya yang bisa kita taruh meja. Ya udah di situ aja untuk kita kerja," kata Clement.

Asosiasi lokasi tertentu dengan aktivitas pekerjaan menjadi metode pemrograman otak yang efektif di lingkungan terbatas. Clement juga menekankan pentingnya masa transisi atau jeda setelah jam operasional kantor berakhir agar pikiran tidak terus terbebani tanggung jawab pekerjaan.

"Kita perlu mengasosiasikan suatu benda atau suatu lokasi tertentu di ruangan kita dengan bekerja sebenarnya," kata Clement.

Pegawai disarankan untuk berpindah tempat atau sekadar keluar mencari udara segar guna memperluas jarak pandang setelah seharian menatap layar laptop. Relaksasi sederhana ini berfungsi memutus ketegangan sebelum memasuki rutinitas pribadi di malam hari.

"Awalnya kita berada di sudut kiri ruangan kita dengan meja itu, berarti transisinya pindah tempat aja ke sudut ruangan yang lain sambil buka HP," imbau Clement.

Artikel terkait

Rekomendasi