Rose Mini Ingatkan Dampak Psikologis Jangka Panjang Kekerasan di Daycare

Rose Mini Ingatkan Dampak Psikologis Jangka Panjang Kekerasan di Daycare
Foto: Ilustrasi Rose Mini Ingatkan Dampak Psikologis Jangka Panjang Kekerasan di Daycare.

Penanganan yang tepat harus segera diberikan kepada anak-anak yang menjadi korban dugaan kekerasan dan diskriminasi di tempat penitipan anak atau daycare. Langkah cepat ini diperlukan guna mengantisipasi efek buruk pada kondisi psikis mereka di masa mendatang.

Dikutip dari Lifestyle, psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, memberikan perhatian khusus pada kasus kekerasan di salah satu daycare wilayah Yogyakarta. Ia menilai pengalaman pahit di usia dini dapat memicu trauma mendalam bagi sang buah hati.

Risiko yang menghantui anak korban kekerasan meliputi terganggunya perkembangan emosi, hilangnya rasa aman, hingga merosotnya kepercayaan diri. Rose menjelaskan bahwa tanpa intervensi yang benar, dampak negatif tersebut berpotensi terbawa hingga usia dewasa.

"Anak yang mengalami kekerasan dapat memunculkan kecemasan sejak dini dan berpotensi berkembang menjadi trauma hingga dewasa," katanya.

Konsep diri seorang individu mulai terbangun sejak masa kanak-kanak melalui interaksi dengan lingkungannya. Rose menyebut anak yang mendapatkan kepercayaan serta ruang eksplorasi akan tumbuh menjadi pribadi aktif, namun hal sebaliknya terjadi pada korban diskriminasi.

Intensitas kejadian dan tahapan usia perkembangan menjadi faktor penentu seberapa berat efek kekerasan yang dirasakan anak. Rose merujuk pada teori perkembangan Erik Erikson untuk menjelaskan fase-fase kritis pembentukan karakter anak tersebut.

Anak usia 0 hingga 1,5 tahun berada pada fase trust versus mistrust, di mana mereka mulai belajar membangun rasa percaya terhadap orang-orang terdekat. Perlakuan yang menyakitkan atau kemarahan yang sering diterima anak dapat memicu munculnya kecurigaan yang permanen.

Kecenderungan untuk merasa terancam akan tumbuh jika lingkungan tidak memberikan dukungan emosional yang stabil. Sebaliknya, kasih sayang yang konsisten akan membentuk karakter anak yang penuh rasa percaya diri sejak bayi.

Tahapan Kemandirian dan Inisiatif

Memasuki usia 1,5 hingga 3 tahun, anak mulai memasuki fase autonomy versus shame and doubt untuk belajar mandiri dalam membuat pilihan. Rose menegaskan bahwa dukungan lingkungan sangat krusial agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang peragu.

Anak yang sering dibentak atau disalahkan dalam fase ini berisiko memiliki rasa malu yang berlebihan. Hal ini tentu menghambat proses pembentukan kemandirian yang seharusnya matang pada rentang usia balita tersebut.

Selanjutnya, pada usia 3 sampai 6 tahun, anak berada pada tahap inisiatif versus rasa bersalah yang memengaruhi rasa kompetensi mereka. Kebebasan untuk mengambil keputusan dan memulai aktivitas baru akan merangsang munculnya daya inisiatif yang kuat.

Jika kesempatan tersebut tertutup oleh pola asuh yang keras, anak cenderung diliputi rasa bersalah dan rendah diri. Namun, Rose menekankan bahwa kondisi psikologis yang terganggu akibat kekerasan ini sebenarnya masih bisa diperbaiki.

"Akan tetapi, kondisi ini masih dapat diperbaiki, tergantung pada dampak yang dialami anak. Kuncinya juga terletak pada dukungan dan perhatian dari lingkungan sosial," imbuhnya.

Rose Mini mendorong adanya peningkatan pengawasan terhadap operasional daycare dan fasilitas serupa untuk mencegah kasus berulang. Ia berharap seluruh proses penanganan terhadap anak yang sudah terdampak dapat dilakukan secara maksimal oleh pihak terkait.

Artikel terkait

Rekomendasi