KOMPAS.com - Kehadiran artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT, Gemini, hingga Grok memang membuat banyak hal terasa lebih mudah.
Mulai dari mencari jawaban, menulis pesan, menyusun ide, sampai membantu mengambil keputusan sehari-hari.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran baru: apakah manusia perlahan kehilangan intuisi dan cara berpikir alaminya karena terlalu bergantung pada AI?
AI mulai memengaruhi cara manusia berpikir, berbicara, hingga mengambil keputusan.
Salah satu dampak yang paling disorot adalah berkurangnya kemampuan mengikuti intuisi pribadi.
AI Membuat Manusia Terlalu Mengandalkan Jawaban Instan
Tak sedikit orang yang kini cenderung menyerahkan proses pengambilan keputusan kepada AI karena dianggap lebih objektif, cepat, dan berbasis data.
Padahal, intuisi juga memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.
Kandidat PhD sekaligus peneliti kesehatan masyarakat, Aigerim Alpysbekova, menyebut bahwa belajar mendengarkan pesan intuitif dari tubuh dapat membantu pengambilan keputusan dan melindungi kesehatan seseorang.
"Belajar mendengarkan pesan intuitif tubuh Anda dapat meningkatkan pengambilan keputusan dan melindungi kesehatan Anda," ungkapnya dikutip dari Your Tango, Selasa (12/5/2026).
Intuisi sendiri bukan sekadar ÔÇ£perasaanÔÇØ tanpa dasar.
Dalam psikologi, intuisi sering dipahami sebagai kemampuan otak mengenali pola berdasarkan pengalaman, emosi, dan pengetahuan yang tersimpan secara tidak sadar.
Masalahnya, ketika seseorang terlalu sering meminta AI menentukan pilihan terbaik, lama-kelamaan kemampuan membaca sinyal internal bisa melemah.
Orang menjadi semakin ragu terhadap penilaiannya sendiri dan lebih percaya pada jawaban instan dari teknologi.
Cara Bicara dan Menulis Disebut Mulai Seragam
Fenomena ini juga terlihat dalam cara manusia berkomunikasi.
Banyak pengguna AI kini memakai pola bahasa yang semakin mirip satu sama lain karena terbiasa menggunakan bantuan chatbot untuk menulis pesan, email, atau unggahan media sosial.
Laporan dari TechRadar bahkan menyebut munculnya fenomena ÔÇ£AI Personality ShiftÔÇØ, ketika gaya komunikasi manusia perlahan terdengar lebih formal, aman, dan seragam seperti hasil tulisan AI.
Peneliti juga mulai mengamati bahwa penggunaan AI berlebihan bisa memengaruhi keberagaman cara berpikir manusia.
Studi yang dikutip TechRepublic menyebut AI berpotensi membuat tulisan, sudut pandang, dan proses penalaran menjadi semakin mirip antarindividu.
AI Sebaiknya Jadi Alat Bantu, Bukan Pengganti Pikiran
Meski demikian, bukan berarti AI harus dihindari sepenuhnya. Banyak pakar menilai teknologi ini tetap bermanfaat selama digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Dalam konteks sehari-hari, AI bisa membantu mempercepat pekerjaan dan memberi referensi tambahan.
Namun keputusan akhir tetap perlu melibatkan pertimbangan pribadi, pengalaman, dan intuisi manusia.
Sebab pada akhirnya, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan intuisi merupakan bagian penting yang membuat manusia berbeda dari mesin.