Terapis anak dan keluarga Meri Wallace menjelaskan bahwa ledakan amarah atau tantrum pada anak usia dini terjadi akibat keterbatasan kemampuan bahasa untuk mengungkapkan perasaan, sebagaimana dilansir dari Lifestyle pada Senin (27/4/2026).
Kondisi ini diperparah dengan kesulitan anak kecil dalam menahan dorongan batin mereka sehingga muncul reaksi fisik saat merasa frustrasi. Fenomena tersebut merupakan bentuk protes utama anak ketika kebutuhan mereka tidak terpenuhi secara instan.
"Mereka akan menangis dan menjerit, meronta-ronta, atau menendang-nendangkan kaki mereka," kata Wallace, menyadur Parents, Senin (27/4/2026).
Wallace menekankan bahwa bagi balita, keinginan mereka bersifat sangat mendesak. Hal ini memicu reaksi emosional yang kuat ketika ekspektasi mereka tidak segera terealisasi oleh orang tua.
"Balita melihat keinginan dan hasrat mereka sebagai sesuatu yang mendesak," tambah Wallace.
Guna menghadapi situasi tersebut, orang tua disarankan untuk melakukan validasi dan menerima perasaan anak. Mengakui kemarahan sebagai emosi alami dapat membantu menurunkan intensitas ledakan amarah dibandingkan dengan menyalahkan perasaan mereka.
Langkah selanjutnya adalah melatih anak untuk mengomunikasikan emosi melalui kata-kata secara perlahan agar orang tua dapat memahami bantuan yang dibutuhkan sang anak.
"Ketika anak merasa marah, anak harus menggunakan kata. Sampaikan, 'Ayah atau ibu ingin mendengar apa yang membuatmu kesal. Jika kamu menggunakan kata-kata, kami akan lebih mengerti dan bisa membantu'," tutur Wallace.
Strategi lain yang dianjurkan meliputi pemberian solusi nyata, kompromi positif, hingga pengambilan jeda sejenak sebelum merespons amukan. Jika tantrum terjadi di ruang publik, memindahkan anak ke lokasi yang lebih tenang menjadi prioritas untuk meredakan ketegangan.
Meskipun kemarahan adalah hal wajar, Wallace menegaskan bahwa perilaku agresif tetap memerlukan batasan yang tegas agar anak memahami bahwa tindakan menyakiti orang lain tidak diperbolehkan.
"Tegur dengan jelas, 'tidak apa-apa untuk marah. Kemarahanmu tidak masalah, tetapi memukul itu tidak boleh'," ujar Wallace.
Penegasan tersebut harus diikuti dengan panduan positif yang konsisten mengenai aturan dasar berinteraksi sosial tanpa kekerasan fisik.
"Lanjutkan dengan panduan positif yang tegas, 'Kita tidak memukul atau menendang siapa pun', serta 'Memukul itu menyakitkan. Kita tidak menyakiti siapa pun', pungkas dia.