Masyarakat Tetap Belanja Hadiah Kecil untuk Diri Sendiri Saat Rupiah Melemah

Masyarakat Tetap Belanja Hadiah Kecil untuk Diri Sendiri Saat Rupiah Melemah
Foto: Ilustrasi Masyarakat Tetap Belanja Hadiah Kecil untuk Diri Sendiri Saat Rupiah Melemah.

Nilai tukar rupiah yang terus merosot dan lonjakan harga barang membuat masyarakat kini semakin selektif dalam mengatur keuangan. Dilansir dari Lifestyle, mata uang rupiah saat ini berada di kisaran Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS), yang memicu peningkatan biaya hidup sehari-hari.

Meski situasi ekonomi tidak menentu, banyak individu yang tetap mengalokasikan dana untuk membeli barang atau layanan kecil. Perilaku konsumen ini dinilai mampu memberikan kenyamanan psikologis sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.

Kecenderungan untuk tetap mengonsumsi barang menyenangkan berharga terjangkau di kala krisis dikenal sebagai istilah lipstick effect. Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Leonard Lauder dari perusahaan kosmetik Est├®e Lauder, yang mencatat lonjakan penjualan lipstik saat ekonomi melemah.

Fenomena ini senada dengan laporan Forbes yang menyebutkan bahwa konsumen cenderung mencari kebahagiaan kecil di tengah situasi keuangan yang sulit. Salah satu pelaku yang merasakan dampak ini adalah Nadhifah Azhar (28), seorang sales manager yang berdomisili di Yogyakarta.

Nadhifah mengaku harus memperketat anggaran belanja akibat biaya hidup yang terus merangkak naik.

"Dulu sekitar 30 persen gaji masih bisa masuk tabungan. Sekarang porsinya mengecil karena biaya hidup naik, sementara gaji nggak ikut naik," ujar Nadhifah kepada Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Kendati memangkas beberapa jenis pengeluaran, Nadhifah masih mempertahankan alokasi anggaran untuk kebutuhan makanan serta wisata. Bagi dirinya, kedua aspek tersebut berfungsi sebagai pemantik motivasi dan sumber inspirasi dalam beraktivitas.

"Makan enak, beli kopi, itu semacam stimulus supaya kerja lebih optimal. Travelling juga bikin aku lebih semangat kerja dan sering menghasilkan inspirasi baru setelah pulang," katanya.

Demi menjaga kesehatan mental dan produktivitas, Nadhifah secara konsisten menyediakan ruang khusus dalam perencanaan keuangannya untuk kebutuhan apresiasi diri. Selain kuliner dan liburan, ia juga sesekali melakukan window shopping serta membeli produk mode.

"Menurutku sekarang self reward itu sudah jadi kebutuhan. Alhasil aku memang punya pos khusus untuk itu," ujarnya.

Setiap bulan, persentase pendapatan yang dialokasikan Nadhifah untuk memanjakan diri berkisar antara 10 hingga 15 persen dari total gajinya. Apabila anggaran tersebut memiliki sisa di akhir bulan, dana akan dialihkan langsung ke tabungan khusus perjalanan.

Kebiasaan membelikan hadiah untuk diri sendiri ini diakui Nadhifah berkaitan erat dengan pengalaman masa kecilnya yang sempat dibahas bersama psikolog. Ia merasa ada kepuasan emosional tersendiri ketika berhasil mewujudkan keinginan yang dahulu sulit dicapai.

"Nah, akhirnya nggak sedikit juga barang-barang yang kubeli di saat aku tidak bisa membelinya waktu kecil dulu, dan itu rasanya puas banget jadinya," bebernya.

Nadhifah tetap memandang pentingnya pengelolaan uang secara bijak di tengah impitan ekonomi. Namun, ia menilai pemenuhan kebutuhan self reward tetap krusial untuk menjaga stabilitas mental dari tekanan pekerjaan.

Artikel terkait

Rekomendasi