BANK Indonesia (BI) dinilai perlu mengambil langkah kebijakan moneter yang lebih tegas dengan menaikkan suku bunga acuan guna menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah. Langkah ini dipandang krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah gejolak pasar global.
Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Teuku Riefky, mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah mencerminkan besarnya tekanan eksternal yang dihadapi Indonesia, terutama akibat penguatan dolar AS. Meskipun inflasi domestik masih relatif terkendali, pelemahan nilai tukar berpotensi memicu imported inflation melalui kenaikan biaya impor bahan baku, pangan, dan energi.
ÔÇ£Secara khusus, Bank Indonesia sebaiknya menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang,ÔÇØ ujar Riefky dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Selasa (19/5).
Prioritas Stabilitas Nilai Tukar
Riefky menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk memperkuat daya tarik aset domestik dan menjaga arus modal asing (capital inflow). Meski kebijakan ini berisiko memperlambat pertumbuhan kreditÔÇöyang tercatat sebesar 8,93% (yoy) pada Maret 2026ÔÇölangkah tersebut dianggap layak demi menghindari dampak buruk pelemahan Rupiah yang berkepanjangan terhadap stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, inflasi headline Indonesia menunjukkan tren melandai ke level 2,42% (yoy) pada April 2026, turun dari 3,48% pada bulan sebelumnya. Angka ini masih berada dalam rentang target BI sebesar 1,5%ÔÇô3,5%. Namun, BI tetap harus waspada karena bank sentral telah menggelontorkan lebih dari US$10 miliar cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk melakukan intervensi pasar.
- Pertumbuhan Ekonomi: Ekspansi kuartalan terkuat dalam tiga tahun terakhir.
- Konsumsi Rumah Tangga: Tumbuh 5,52% (yoy).
- Belanja Pemerintah: Melonjak 21,81% (yoy), didorong program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan THR ASN.
- Investasi (PMTB): Tumbuh solid di angka 5,96% (yoy).
Pandangan Berbeda: Opsi "Hawkish Hold"
Berbeda dengan proyeksi LPEM UI, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menilai tekanan terhadap rupiah yang berada di level Rp17.700 per dolar AS belum cukup kuat untuk memaksa BI menaikkan suku bunga.
Mirae Asset memprediksi BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% melalui pendekatan hawkish hold. "Kami memperkirakan BI akan hold pada 4,75% sambil tetap agresif melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menjaga likuiditas," kata Rully.
Menurut Rully, efektivitas kenaikan suku bunga saat ini terbatas karena tekanan terhadap Rupiah lebih banyak dipicu faktor musiman, seperti repatriasi dividen dan kebutuhan valuta asing untuk musim haji yang diperkirakan mereda pada Juli-Agustus mendatang. Ia menekankan bahwa kebijakan non-suku bunga (non-rate measures) seperti SRBI, DNDF, dan intervensi cadangan devisa akan menjadi kunci utama stabilisasi pasar dalam jangka pendek.
| Indikator Ekonomi | Posisi/Capaian (2026) |
| --------------------------- | --------------------- |
| Inflasi Headline (April) | 2,42% (yoy) |
| Surplus Perdagangan (Maret) | US$3,32 Miliar |
| Pertumbuhan Kredit (Maret) | 8,93% (yoy) |
| Suku Bunga The Fed (FFR) | 3,50% - 3,75% |
Dengan dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan The Fed dan eskalasi geopolitik, keputusan RDG Bank Indonesia besok akan menjadi sinyal krusial bagi pelaku pasar dalam menentukan arah investasi di pasar keuangan domestik. (Ins/I-1)
- Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp17.600, Pakar: Butuh Orkestrasi Kebijakan Luas 18/5/2026 20:17 Rupiah tembus Rp17.600 per dolar AS. Pakar Unair sebut intervensi BI tak cukup, butuh sinergi fiskal dan sektor riil untuk stabilitas fundamental.
- BI Dinilai Harus Hawkish dan Naikkan Suku Bunga 18/5/2026 17:49 Ia menilai, dalam situasi tersebut, bank sentral tidak hanya berperan dalam mengendalikan inflasi, tetapi juga menjaga kepercayaan terhadap arah kebijakan secara keseluruhan.
- BI Tingkatkan Dosis Intervensi untuk Stabilkan Rupiah yang Tertekan 18/5/2026 17:27 Ia menjelaskan, intervensi tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga di pasar luar negeri. Langkah tersebut berdampak pada penurunan cadangan devisa sekitar US$10 miliar.
- BI: Temuan Uang Palsu Turun Drastis dalam Tiga Tahun Terakhir 13/5/2026 13:51 Bank Indonesia mencatat penurunan rasio temuan uang palsu dari 5 ppm pada 2023 menjadi 1 ppm pada April 2026 berkat penguatan unsur pengaman.
- BI dan Polri Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu Hasil Temuan sepanjang 2017-2025 13/5/2026 13:46 Bank Indonesia bersama Polri memusnahkan 466.535 lembar uang palsu untuk menjaga kedaulatan rupiah dan kepercayaan masyarakat.