Kerusakan ekosistem alami dalam rongga mulut akibat paparan zat kimia dari rokok konvensional maupun elektrik menjadi perhatian serius pakar kesehatan. Hal ini disampaikan oleh Founder JNJ Specialist Dental Centre, Dr. drg. Jeddy, Sp.KGA, pada pembukaan kliniknya di BSD City, Minggu (26/4), sebagaimana dilansir dari Kompas.
Jeddy menekankan bahwa penggunaan vape yang sering dianggap sebagai alternatif rokok tetap membawa risiko signifikan. Zat asam yang masuk ke dalam mulut dinilai sangat berbahaya karena mampu membunuh bakteri baik yang berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan mulut.
"Penggantinya rokok, walaupun vape, ya menurut saya sekarang beberapa negara juga memblok ya, tidak menggunakan vape. Jadi gigi itu malah goyang. Ternyata asam yang masuk itu harmful sekali untuk environment mulut. Jadi sama seperti alam, sama seperti ekosistem, menurut kita ini adalah sebuah ekosistem. Jadi tentunya kalau kita dengan merokok, dengan vape, yang merusak ekosistemnya, bakteri yang baik mati juga." tukas Jeddy, Founder dan Medical Director JNJ Specialist Dental Centre.
Dampak negatif ini meluas hingga ke kerusakan enzim alami yang berpotensi mengganggu kesehatan tubuh secara umum. Jeddy menyebutkan bahwa rusaknya pertahanan alami di mulut sering kali termanifestasi pada kondisi fisik gigi yang memburuk.
"Dan mungkin waktu enzim itu yang ada di mulut dilusak, pecah, otomatis untuk kesehatan kita secara umum. Ya, itu juga tidak baik kalau di kulut yang sering kita ketepui giginya gurunya." ujar Jeddy.
Selain masalah enzim, kebiasaan merokok juga berdampak buruk pada prosedur medis tingkat lanjut. Dokter mencontohkan adanya kegagalan pemasangan implan gigi pada pasien yang tidak menghentikan kebiasaan merokok pasca-tindakan.
"Bahkan beberapa pasien kita implant, contohnya waktu dia implant, dia masih merokok, karena kita sudah pesan, tidak boleh merokok, akhirnya implantnya fail. Sebagai contoh begini." jelas Jeddy.
Upaya untuk mengembalikan kondisi rongga mulut ke keadaan alami menjadi poin utama yang ditegaskan dalam edukasi kesehatan tersebut. Masyarakat diminta untuk lebih sadar dalam menjaga keberlangsungan ekosistem di dalam mulut mereka.
"Nah, itu juga tentunya kita kembali ke natural yang tetap bagus. Jadi, jangan berusaha ekosistem dalam roh kamu juga." tegas Jeddy.
Terkait kebersihan harian, Jeddy menyoroti kebiasaan menggunakan tusuk gigi yang berisiko melukai gusi. Ia menyarankan penggunaan benang gigi atau dental floss sebagai metode pembersihan celah gigi yang lebih aman dan efektif.
"Biasanya itu ketusuk gusinya, kalau tusuk gusinya enak Nah, sebenarnya kita tidak menganjurkan pakai tusuk gigi. Tapi data floss Benang gigi Ya, supaya membersihkan gigi di celahnya." kata Jeddy.
Klinik JNJ Specialist Dental Centre kini mengedepankan metode guided by therapy yang menggabungkan tindakan medis dengan edukasi mendalam bagi pasien. Pendekatan ini bertujuan agar pasien tidak hanya menerima perawatan, tetapi juga memahami cara pemeliharaan mandiri.
"Intinya para pasien bisa punya kesempatan untuk experience di JNJ, pembersihan, karena di kami itu bukan pembersihan. Kita itu lakukan yang namanya guided by therapy. Salah satunya di sana itu ada edukasinya, ada informasi, edukasi, bahkan ada motivasinya bagaimana pemeliharaan dalam rongga mulut." terang Jeddy.
Penerapan teknologi digital dentistry juga mulai diintegrasikan untuk meningkatkan akurasi diagnosis. Penggunaan pemindaian tiga dimensi hingga dokumentasi intraoral beresolusi tinggi menjadi standar baru dalam pelayanan pasien.
ÔÇ£Di JNJ Specialist Dental Centre, kami mengintegrasikan sistem digital sejak awal perjalanan pasien, mulai dari perekaman data, pencitraan radiologi 2D dan 3D, pemindaian rongga mulut dan wajah, hingga dokumentasi intraoral beresolusi tinggi untuk memastikan diagnosis yang komprehensif serta komunikasi yang lebih baik dengan pasien," ungkap Jeddy.
Teknologi ini juga memungkinkan prosedur pengerjaan mahkota gigi (crown) selesai dalam waktu yang jauh lebih singkat. Integrasi laser dan mikroskop menjadi pendukung utama dalam memberikan perawatan yang lebih presisi bagi pasien.
"Seluruh proses ini menjadi dasar perawatan yang lebih presisi, didukung teknologi terkini seperti mikroskop, laser, hingga konsep one-day dentistry yang memungkinkan pembuatan crown gigi dalam satu kali kunjungan, bahkan hitungan jam," tutup Jeddy.