Infeksi saluran pernapasan berupa pneumonia atau radang paru-paru pada anak memerlukan perhatian serius karena risikonya yang dapat memburuk dalam waktu singkat. Penyakit ini menyerang jaringan paru-paru, terutama pada bagian kantung udara kecil atau alveoli.
Dilansir dari Lifestyle, peradangan yang terjadi menyebabkan kantung udara terisi cairan sehingga proses pertukaran oksigen dalam tubuh terhambat. Dampaknya, aliran oksigen ke darah menurun dan mengakibatkan anak kesulitan bernapas secara normal.
Gejala umum yang sering muncul meliputi napas yang menjadi lebih cepat, sesak, serta kondisi fisik anak yang tampak lemas dan kurang aktif. Selain itu, penderita biasanya mengalami demam, batuk, dan kehilangan nafsu makan yang signifikan.
Meskipun pneumonia dapat menyerang segala usia, bayi, balita, dan lansia merupakan kelompok yang paling rentan. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna atau justru sedang mengalami penurunan fungsi.
Dokter Spesialis Anak Sub Spesialis Neurologi Anak, dr. Attila Dewanti, memberikan penegasan bahwa pneumonia bukanlah sekadar gangguan batuk dan pilek biasa. Gangguan fungsi pernapasan akibat kondisi ini bersifat serius jika tidak segera mendapatkan tindakan medis.
"Pneumonia itu radang paru-paru yang menyebabkan oksigen sulit masuk ke dalam darah. Kalau sudah seperti ini, anak bisa sesak, lemas, bahkan berisiko mengalami komplikasi," kata dr. Attila Dewanti dalam acara Pekan Imunisasi Dunia 2026 di Jakarta.
Berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, hingga jamur dapat menjadi pemicu pneumonia saat masuk ke saluran napas. Salah satu penyebab yang paling sering terdeteksi adalah bakteri pneumokokus yang memiliki kemampuan memicu infeksi di organ tubuh lainnya.
Risiko komplikasi serius mengintai jika infeksi tidak ditangani tepat waktu, termasuk potensi penyebaran ke otak yang menyebabkan meningitis. Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet saat penderita bersin atau batuk, serta kontak dengan benda yang terkontaminasi.
Faktor lingkungan seperti kawasan padat penduduk dengan ventilasi rumah yang buruk turut meningkatkan risiko penularan. Selain itu, paparan asap rokok dari orang tua di lingkungan rumah menjadi faktor yang memperparah kondisi kesehatan anak.
Upaya pencegahan dapat dimulai dari langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun secara rutin selama 20 detik. Menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan pola hidup sehat dan aktif juga menjadi kunci utama dalam melindungi anak.
Kesadaran orang tua untuk mengenali gejala awal sangat krusial agar penanganan medis bisa dilakukan lebih dini. Langkah preventif yang komprehensif mencakup kebiasaan hidup bersih serta perlindungan melalui pemberian vaksinasi sejak usia dini.
"Pencegahan paling utama adalah vaksinasi dan pola hidup bersih. Banyak kasus berat terjadi karena orang tua terlambat membawa anak ke fasilitas kesehatan," ujar dr. Attila Dewanti.