Bahaya Kantong Kresek Hitam untuk Daging Kurban Jadi Sorotan

Bahaya Kantong Kresek Hitam untuk Daging Kurban Jadi Sorotan
Foto: Ilustrasi Bahaya Kantong Kresek Hitam untuk Daging Kurban Jadi Sorotan.

Kebiasaan membagikan daging kurban menggunakan kantong plastik kresek setiap tahunnya mulai mendapat perhatian serius. Meski dianggap praktis, penggunaan plastik sekali pakai ini menyimpan ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Masifnya penggunaan wadah plastik di tengah upaya pengurangan sampah global memicu dorongan agar masyarakat beralih ke alternatif yang lebih aman. Dilansir dari Cahaya, para ahli gizi mengingatkan bahwa material plastik tertentu dapat mencemari bahan pangan yang dibungkusnya.

Agung Nugroho, Ketua Program Studi Gizi Universitas ÔÇÿAisyiyah Yogyakarta, mengungkapkan bahwa kantong plastik hasil daur ulang memiliki risiko kesehatan yang tidak bisa diremehkan. Plastik kresek hitam seringkali berasal dari pengolahan limbah yang tidak jelas asal-usulnya.

Data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2019 menunjukkan bahwa mayoritas plastik kresek diproduksi dari daur ulang limbah kimia, pestisida, hingga produk pangan. Hal ini menyebabkan adanya kandungan zat berbahaya yang bisa berpindah ke daging.

"Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam," kata Agung pada Sabtu (9/5/2026).

Prediksi Lonjakan Sampah Plastik

Selain masalah kesehatan, volume sampah yang dihasilkan pasca-perayaan Idul Adha diprediksi akan mengalami peningkatan tajam. Penggunaan kantong kresek sekali pakai menjadi penyumbang utama timbulan sampah dalam waktu singkat.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, jumlah hewan kurban pada 2024 mencapai 1,97 juta ekor. Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengestimasi sampah plastik pada periode tersebut mencapai 608 ton dari sekitar 121,5 juta lembar kantong.

"Momentum Idul Adha seharusnya juga menjadi sarana edukasi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan," ujar Agung.

Perspektif Agama dalam Menjaga Alam

Kesadaran untuk menjaga ekosistem sebenarnya selaras dengan prinsip-prinsip dasar dalam ajaran Islam. Manusia memegang peranan sebagai khalifah yang bertanggung jawab atas kelestarian bumi dan dilarang melakukan perusakan.

Agung merujuk pada QS Ar-Rum ayat 41 yang memberikan peringatan mengenai kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia. Selain itu, QS Al-Qasas ayat 77 juga menjadi dasar perintah untuk berbuat baik dan menjauhi perilaku merusak lingkungan.

"Umat Islam harus menjadi aktor utama dalam gerakan penyelamatan lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari amanah agama," tutur Agung.

Solusi Wadah Ramah Lingkungan

Pemerintah melalui KLHK saat ini gencar mempromosikan penggunaan wadah reusable sebagai solusi distribusi daging kurban. Langkah ini bertujuan untuk menekan angka sampah plastik yang sulit terurai secara alami.

Masjid Quwatul Islam Perumnas Condongcatur menjadi salah satu contoh sukses yang telah menerapkan kebijakan ini sejak tahun 2004. Mereka menggunakan kontainer food grade dan wadah yang dapat dipakai berulang kali oleh warga sekitar.

Wadah-wadah tersebut diberikan label nama masing-masing warga agar dapat digunakan kembali pada tahun-tahun berikutnya. Inovasi ini terbukti efektif dalam meminimalkan timbulan sampah baik organik maupun anorganik di lokasi pembagian.

"Hasilnya luar biasa. Tidak ada lagi sampah plastik maupun sampah organik pembungkus daging kurban yang menumpuk di tempat sampah," kata Agung.

Artikel terkait

Rekomendasi