Aparatur Sipil Negara (ASN) pusat mulai beradaptasi dengan tantangan multitasking sejak diterapkannya kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) setiap Jumat mulai 1 April. Kebijakan ini menuntut pegawai tetap produktif menyelesaikan urusan kantor sekaligus menangani kebutuhan domestik secara bersamaan.
Arisha, seorang ASN pusat berusia 31 tahun sekaligus ibu dua anak, mengungkapkan bahwa skema kerja ini mengharuskannya lebih piawai membagi fokus. Dilansir dari Lifestyle, ia tetap harus mengurus dua anaknya yang masih balita di tengah tanggung jawab profesionalnya dari rumah.
"Biasanya sambil mengurus anak-anak juga, seperti zoom meeting sambil menjaga anak bermain atau menyuapi anak," kata Arisha, ASN.
Penyesuaian jam kerja menjadi salah satu aspek yang paling terasa bagi para pekerja yang menjalani sistem ini. Arisha sering kali harus menyelesaikan tugas kantor secara paralel dengan aktivitas rumah tangga lainnya, seperti memasak atau merapikan kebutuhan anak-anaknya.
"WFH cukup mengurangi beban kelelahan di perjalanan," ujar Arisha.
Meskipun beban fisik akibat kemacetan Jakarta dan transportasi umum yang padat berkurang, tantangan emosional justru meningkat. Arisha merasakan adanya tekanan untuk menjaga konsentrasi di tengah tuntutan anak yang bisa muncul sewaktu-waktu.
"Tantangan terbesar tentu menyeimbangkan pikiran, tenaga, dan emosi di tengah mengerjakan pekerjaan kantor sambil mengasuh toddler," katanya.
Analisis pribadi Arisha menunjukkan adanya pergeseran jenis kelelahan dari fisik ke mental. Kondisi siaga penuh untuk urusan pekerjaan dan pengasuhan anak dinilai lebih menguras energi pikiran dibandingkan perjalanan dinas ke kantor.
"Kalau untuk fisik sudah berkurang karena tidak perjalanan jauh, tapi mental lebih lelah karena harus bersamaan mengurus toddler dan pekerjaan kantor," ujar dia.
Selain masalah konsentrasi, batas waktu kerja saat WFH dirasakan menjadi semakin tidak jelas. Kecepatan merespons komunikasi melalui pesan singkat atau telepon menjadi tolok ukur kehadiran pegawai bagi pihak kantor.
"Iya banget, kalau tidak gercep respons chat atau telepon, biasanya langsung ditelepon berkali-kali," kata Arisha.
Fleksibilitas sistem WFH tetap dianggap sebagai solusi terbaik untuk menjaga keseimbangan hidup bagi perempuan bekerja. Arisha mengapresiasi kemampuan multitasking yang dilakukan para ibu dalam menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya.
"Perempuan memang hebat sih, bisa handle secara multitasking, tetap terselesaikan semua," ujar Arisha.