Apakah mengundang mantan ke hari pernikahan kita adalah bentuk kedewasaan dan keikhlasan?

Apakah mengundang mantan ke hari pernikahan kita adalah bentuk kedewasaan dan keikhlasan?
Foto: Ilustrasi Apakah mengundang mantan ke hari pernikahan kita adalah bentuk kedewasaan dan keikhlasan?.

Apakah mengundang mantan ke hari pernikahan kita adalah bentuk kedewasaan dan keikhlasan?

Boleh dibilang, saya cukup beruntung menghabiskan masa muda dengan berkarier sebagai public and media relations di sebuah perusahaan multinasional.

Sebagai PR, saya dituntut untuk selalu mobile dan siap bekerja kapan sajaÔÇöbaik hari kerja maupun akhir pekan.

Perusahaan tempat saya bekerja kala itu punya anggaran besar untuk kegiatan pemasaran dan CSR.

Konser, event olahraga, hingga peresmian pabrik hampir selalu jatuh di akhir pekan. Di situlah letak ÔÇ£keberuntunganÔÇØ saya: memiliki alasan yang terdengar sahih setiap kali harus menolak undangan pernikahan mantan.

ÔÇ£Wah, nikahnya Sabtu ini ya? Sayang sekali, saya sedang business trip ke Manado.ÔÇØ

ÔÇ£Aturannya sudah saya terima, terima kasih. Tapi minggu ini ada acara pembukaan pabrik di Jogja. Maaf belum bisa hadir, semoga lancar ya.ÔÇØ

Kurang lebih, begitu pola alasannya.

Tidak datang bukan berarti gagal move on, apalagi karena takut. Sebagai karyawan korporasi, absensi bukan pilihan. Titah atasanÔÇöyang auranya sedikit mengingatkan pada Miranda Priestly di The Devil Wears Prada harus dijalankan. Jadi, ketidakhadiran itu lebih soal keadaan, bukan soal perasaan.

Karena cukup banyak tulisan tentang datang ke pernikahan mantan, rasanya adil jika saya mengambil sudut pandang sebaliknya: bagaimana jika justru kita yang mengundang mantan ke pernikahan kita sendiri?

Ide ini muncul setelah menonton video klip lagu Titik Nadir yang dibawakan Kahitna bersama Monita Tahalea.

Adegan sepasang pengantin yang berbahagia, dengan kehadiran mantan sang mempelai perempuan di tengah resepsi, terasa begitu menusuk. Liriknya pun terasa getir, seolah mewakili perasaan yang tak terucap.

Melihat adegan itu, ingatan saya melayang ke pernikahan yang terjadi hampir dua dekade silam. Perasaan campur aduk yang mungkin dialami sang mantan dalam video klip tersebut, terasa dekat.

Senyum yang dipaksakan, tatapan yang berusaha tegar, dan perasaan yang harus disimpan rapi di tengah kebahagiaan orang lain.

Mudah bagi publik untuk menghakimi. Di kolom komentar, sang mempelai perempuan kerap dicap tega dan tidak berperasaan.

Padahal, benarkah kita tahu apa yang ada di hatinya? Apakah mengundang mantan selalu berarti pamer kebahagiaan di atas luka orang lain?

Mengundang mantan ke pernikahan sejatinya bukan perkara ringan. Dibutuhkan keberanian besar atau mungkin kenekatan terutama jika hubungan di masa lalu kandas bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena faktor eksternal seperti restu keluarga.

Saat itu, saya sendiri diliputi kebimbangan. Haruskah undangan tetap dikirim, atau lebih baik tidak?

Ibu, dengan nada datar, berkata, ÔÇ£Kirim saja. Biar dia datang bersama teman-teman kantornya. Supaya tidak menyimpan harapan lagi.ÔÇØ

Undangan pun terkirim. Tak lama kemudian, pesan-pesan datangÔÇöcampuran antara ucapan selamat dan ketidakpercayaan atas keputusan menikah yang terasa begitu cepat.

Saya selalu menaruh hormat pada mereka yang memilih datang ke pernikahan mantan. Termasuk Mas N, yang hadir bersama rekan-rekan satu kantornya. Senyumnya tak selebar dulu, tetapi cukup untuk menunjukkan itikad baik.

Ia naik ke pelaminan, menjabat tangan kami, dan mengucapkan selamat dengan tenang. Ia juga menyapa ibu sayaÔÇöyang dulu tidak menyetujui hubungan kamiÔÇödengan sikap yang tetap sopan. Barangkali hatinya masih menyimpan ganjalan, tetapi ia memilih bersikap dewasa.

Saya bisa membayangkan candaan teman-temannya, upaya menghibur dengan cara mereka sendiri. Di titik itu, kehadiran Mas N terasa bukan sebagai gangguan, melainkan penutup satu bab kehidupan yang pernah penting.

Dua puluh tahun berlalu, memori itu kembali terbuka karena sebuah lagu. Mantan, bagaimanapun, adalah bagian dari masa lalu yang turut membentuk diri kita hari ini. Perpisahan yang baik tidak selalu berarti tanpa rasa sakit, tetapi memberi ruang agar luka tidak menetap terlalu lama.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk pulih. Mas N, misalnya, menemukan pelariannya lewat maraton. Berlari jauh membantunya melepas gundah, hingga akhirnya ia bertemu pasangan hidup yang sefrekuensi dengannya.

Begitulah hidup bekerja dengan caranya sendiri. Jalan takdir jarang lurus, sering berbelok, dan penuh kejutan. Jodoh, rezeki, dan perpisahan adalah bagian dari misteri yang kita jalani sambil belajar menerima.

Pada akhirnya, mengundang atau tidak mengundang mantan ke pernikahan bukan soal benar atau salah. Ia adalah soal kesiapan hati, empati, dan kejujuran pada diri sendiri.

Sebab kedewasaan bukan hanya tentang melangkah maju, tetapi juga tentang berdamai dengan masa lalu tanpa harus menyakiti siapa pun, termasuk diri kita sendiri.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Perlukah Mengundang Mantan Datang ke Kawinan Kita?"

Artikel terkait

Rekomendasi