Pelatih Timnas Brasil Carlo Ancelotti memberikan respons positif terkait isu kembalinya Jose Mourinho ke Real Madrid dan mengenang sejarah taktik Seleccao pada Piala Dunia 1994 serta 2002. Pernyataan ini disampaikan Ancelotti saat menelaah pendekatan tim menjelang turnamen mendatang, sebagaimana dilansir dari Bola.
Ancelotti mengungkapkan kegembiraannya mendengar nama Mourinho kembali dikaitkan dengan klub raksasa Spanyol, Los Blancos. Menurut pelatih asal Italia tersebut, sosok Mourinho memiliki rekam jejak yang terbukti mampu memberikan dampak signifikan bagi setiap tim yang ditanganinya.
"Kembali ke Real Madrid, saya akan sangat senang untuknya (Mourinho)," kata Ancelotti.
Keyakinan tersebut didasari pada pengalaman panjang pelatih asal Portugal itu di level tertinggi sepak bola Eropa. Ancelotti memberikan penegasan bahwa kualitas manajerial Mourinho tidak perlu diragukan lagi.
"Dia bisa melakukan pekerjaan fantastis, seperti yang selalu dia lakukan di semua klub tempat dia pernah bermain," imbuh Ancelotti, eks pelatih Real Madrid.
Selain membahas isu manajerial, Ancelotti merefleksikan pengalamannya saat menjadi asisten pelatih Arrigo Sacchi di Timnas Italia pada Piala Dunia 1994. Ia mencermati struktur unik lini tengah Brasil yang saat itu berhasil meraih gelar juara meski tanpa mengandalkan pemain sayap murni.
"Namun saya tidak lupa bahwa pada tahun ÔÇÖ94, Brasil bermain dengan dua lini yang terdiri dari empat pemain, dengan empat bek tangguh dan empat gelandang bertahan tangguh: Mazinho, Dunga, Mauro Silva, Zinho," ujar Ancelotti.
Pengamatan teknis tersebut menyoroti bagaimana keseimbangan komposisi pemain menjadi faktor penentu. Ancelotti menjelaskan bahwa soliditas lini tengah Brasil saat itu menjadi pelayan bagi duet penyerang tajam di lini depan.
"Semuanya gelandang. Tidak ada pemain sayap. Empat gelandang, ditambah talenta besar di lini depan seperti Romario dan Bebeto," imbuhnya.
Evolusi strategi berlanjut pada pengamatan Ancelotti terhadap skuat Brasil tahun 2002 yang dipenuhi pemain berbakat di lini serang. Ia menyoroti perubahan formasi defensif yang dilakukan untuk mengakomodasi fleksibilitas penyerangan tim.
"Lalu, pada tahun 2002. Tak seorang pun melupakan Ronaldinho, Ronaldo, dan Rivaldo. Tapi saya tidak melupakan bahwa, untuk pertama kalinya di Piala Dunia, Brasil bermain dengan tiga bek tengah," lanjut Ancelotti.
Kombinasi antara disiplin pertahanan dan kreativitas individu menjadi fokus utama Ancelotti dalam menyusun kerangka tim saat ini. Upaya integrasi filosofi tersebut dilakukan guna mengembalikan performa dominan Brasil di kancah internasional.
"Kombinasi antara (organisasi) pertahanan dan bakat adalah kunci keberhasilan, dan kami sedang berupaya mewujudkannya," imbuhnya.