Albert Yonathan Gelar Pameran Tunggal Hypnagogia Tracing Time di Jakarta

Albert Yonathan Gelar Pameran Tunggal Hypnagogia Tracing Time di Jakarta
Foto: Ilustrasi Albert Yonathan Gelar Pameran Tunggal Hypnagogia Tracing Time di Jakarta.

Deretan karya seni tanah liat menghiasi dinding Galeri Ara Contemporary Jakarta dalam pameran tunggal bertajuk Hypnagogia, Tracing Time. Eksibisi ini menampilkan sebanyak 21 karya dari seniman Indonesia, Albert Yonathan Setyawan, yang dikenal pernah mewakili tanah air di ajang Venice Biennale.

Seperti dikutip dari Media Indonesia, karya-karya persegi panjang tersebut memperlihatkan pola geometris tiga dimensi menyerupai undakan tangga yang disusun berulang. Repetisi material tanah liat yang dirangkai satu per satu ini berhasil menghadirkan ritme visual yang terasa hidup bagi para pengunjung.

Sang seniman menjelaskan bahwa pameran tunggalnya kali ini terinspirasi langsung dari gagasan mengenai ruang dan waktu.

ÔÇ£Jadi ada dua topik sebetulnya dalam pameran ini, yang saya bagi menjadi dua. Di lantai atas saya bicara tentang ruang, sementara di lantai bawah tentang waktu. Maksud ruang di sini lebih spesifik pada ruang perkotaan atau lanskap,ÔÇØ ujar Albert dalam pembukaan pameran, Jumat (22/5).

Gagasan tersebut mendorong Albert untuk menghadirkan bentuk geometris repetitif, mulai dari undakan tangga hingga bentuk menyerupai jendela dan atap bangunan khas Jepang.

ÔÇ£Kemudian kenapa bentuk-bentuk ini hadir secara repetitif, gagasan awalnya dimulai ketika saya melihat bangunan. Saya selalu tertarik membayangkan, jika sebuah bentuk diposisikan seperti ini akan seperti apa hasilnya. Atau ketika pintu dan jendela hadir dalam jumlah banyak di sebuah bangunan, bagaimana hubungan satu dengan lainnya,ÔÇØ terang Albert.

Pada ruang pameran yang lain, Albert menyajikan karya berjudul Ancica yang terdiri dari 300 patung kecil yang disusun mengelilingi ruangan. Setiap patung dicetak menggunakan cetakan yang sama, namun susunannya sengaja diurutkan berdasarkan urutan nomor pencetakan untuk menyoroti transisi waktu.

ÔÇ£Kalau dilihat, di bawah patung ini sebenarnya ada nomornya. Saya menyusunnya berurutan dari cetakan pertama sampai ke-300. Kalau dicermati, meski menggunakan cetakan yang sama, hasilnya ternyata berubah dari patung pertama hingga terakhir. Ini mendefinisikan waktu, bahwa dunia selalu berada dalam transisi dan terus bergerak, tidak pernah benar-benar statis,ÔÇØ jelasnya.

Konsep mengenai waktu juga dituangkan Albert melalui karya lain yang berjudul Tracing Time. Dalam karya ini, ia mengikuti pola bunga sakura kering yang diteruskan secara memutar tanpa putus di atas kanvas berukuran besar.

Garis-garis yang awalnya tampak rapi tersebut perlahan berubah menjadi bentuk yang tidak lagi mengikuti pola awal. Melalui perubahan pola visual ini, Albert memberikan gambaran mengenai dunia yang selalu berada dalam transisi dan terus bergerak.

Masyarakat dapat mengunjungi seluruh rangkaian karya seni milik Albert Yonathan Setyawan ini secara gratis di Ara Contemporary mulai 25 Mei hingga 27 Juni 2026. Galeri ini membuka kunjungan pameran setiap hari Selasa sampai Minggu, mulai pukul 11.00 hingga 17.00 WIB.

Artikel terkait

Rekomendasi