Bisnis.com, JAKARTA - Perubahan lanskap konsumsi hiburan mendorong pelaku industri film Indonesia terus memikirkan ulang cara menarik perhatian. Salah satu yang mencolok adalah tren judul film yang kian panjang belakangan ini.
Fenomena ini terlihat jelas dari deretan film Indonesia dengan judul yang semakin panjang dan deskriptif. Misalnya, ÔÇ£Nanti Kita Cerita Tentang Hari IniÔÇØ, "Aku Tahu Kapan Kamu Mati", "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas", "Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah", dan masih banyak lagi.
Di tengah arus konten yang serba cepat, judul yang eksplisit seolah dianggap mampu memangkas waktu berpikir audiens, terutama untuk mendorong keputusan beli tiket dalam hitungan detik.
Menurut pakar forensik bahasa Wahyu Wibowo, maraknya judul film yang panjang dapat dibaca sebagai gejala era post-truth. Dalam fase ini, publik dinilai tidak lagi menempatkan kebenaran sebagai pijakan utama, sehingga bahasa, termasuk judul lebih diarahkan untuk memikat perhatian ketimbang menyampaikan makna yang presisi.
Di tengah kondisi ketika publik lebih mudah terpengaruh oleh daya tarik narasi, judul pun cenderung dibuat semakin ekspansif untuk menarik perhatian. Padahal, dahulu, judul diposisikan sebagai etalase yang merangkum inti cerita sekaligus alat promosi yang efektif. Kini, fungsi itu mulai bergeser, judul tak lagi harus ringkas atau langsung ke pokok persoalan, bahkan cenderung dibiarkan melebar.
"Dari sudut kebahasaan, judul yg panjang justru dipercaya akan melahirkan efek perlokusi, yakni kesan atau dampak yang seketika menimpa para pembaca judul yg panjang tersebut," katanya.
Dalam konteks era post-truth, kebenaran sebuah narasi tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada niat atau pesan yang ingin disampaikan pembuat film maupun penulis skenario. Sebaliknya, makna, tujuan, dan interpretasi film justru semakin ditentukan oleh konstruksi pemahaman masing-masing penonton, yang bebas menafsirkan cerita sesuai perspektif mereka, bahkan sejak dari judul.
Menurutnya, pendekatan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, judul panjang mampu memunculkan kesan secara instan kepada audiens, tetapi di sisi lain justru berpotensi menyimpang dari hakikat judul sebagai etalase dan alat promosi yang seharusnya ringkas, jelas, dan tepat sasaran.
Wahyu mengatakan penggunaan teknik kebahasaan yang spesifik di industri hiburan kerap kali seperti siklus. Dia menganalogikannya seperti tren mode pakaian yang datang dan pergi mengikuti selera publik.
Judul panjang bisa saja populer dalam satu periode, tetapi tak menutup kemungkinan meredup ketika preferensi audiens berubah, sebagaimana tren gaya yang silih berganti.