Tottenham Hotspur kini menghadapi ancaman degradasi dari Liga Primer Inggris setelah menelan kekalahan 1-2 dalam pertandingan melawan Chelsea di Stadion Stamford Bridge pada Rabu, 20 Mei 2026.
Hasil buruk ini, seperti dilansir dari Media Indonesia, memaksa kubu London Utara tersebut untuk melakoni laga penentuan yang krusial melawan Everton pada pekan terakhir kompetisi mendatang.
Klub berjuluk Spurs ini sebenarnya masih memegang kendali atas nasib mereka sendiri di kompetisi tertinggi, karena hasil imbang melawan Everton sudah cukup untuk memastikan mereka bertahan.
Posisi Spurs saat ini diuntungkan oleh keunggulan selisih gol yang cukup jauh atas West Ham United yang berada di zona merah.
Namun, jika Spurs menelan kekalahan dari Everton dan pada saat yang sama West Ham United berhasil memetik kemenangan atas Leeds United, Spurs dipastikan bakal turun kasta ke Divisi Championship.
Pertandingan melawan Chelsea sendiri menyisakan kontroversi besar setelah wasit Stuart Attwell tidak memberikan penalti kepada Spurs menjelang akhir laga, meski bek Chelsea Marc Cucurella terlihat menjatuhkan Micky van de Ven di kotak terlarang.
VAR kemudian memastikan bahwa pelanggaran tersebut terjadi sebelum bola berada dalam permainan, sehingga hukuman penalti tidak bisa diberikan kepada tim tamu.
Sebelum insiden tersebut, Chelsea sempat unggul terlebih dahulu lewat gol dari Enzo Fernandez dan Andrey Santos, yang kemudian sempat diperkecil oleh gol balasan dari penyerang Spurs, Richarlison.
Menanggapi situasi krusial ini, pelatih Tottenham Hotspur Robert de Zerbi memilih untuk tidak memperpanjang polemik mengenai keputusan wasit maupun VAR.
"Urusan saya adalah fokus mempersiapkan pertandingan berikutnya dan meraih poin yang kami butuhkan karena hari Minggu adalah laga final bagi kami," ujar Robert de Zerbi dilansir dari BBC.
De Zerbi menilai laga penentuan pada akhir pekan nanti memiliki urgensi yang sangat tinggi bagi masa depan dan martabat seluruh elemen klub.
"Pertandingan ini penting, lebih dari sekadar memperebutkan trofi. Musim lalu berakhir dengan bermain untuk memperebutkan trofi. Kami bermain untuk sesuatu yang lebih penting daripada trofi karena kebanggaan dan sejarah klub," kata Robert de Zerbi.
Ancaman turun kasta ini menjadi akumulasi dari performa buruk Spurs yang telah menelan 17 kekalahan di liga musim ini, setelah pada musim lalu mencatat 22 kekalahan saat masih ditangani Ange Postecoglou.
Kondisi ini membuat Tottenham Hotspur berpotensi terdegradasi untuk pertama kalinya sejak tahun 1977 jika mereka gagal meraih hasil maksimal dalam pertandingan penentuan melawan Everton.