Tim putra Indonesia mencatat sejarah kelam setelah tersingkir di fase grup Piala Thomas 2026 di Forum Horsens, Denmark, menyusul kekalahan telak 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D. Dilansir dari Suara, hasil ini menjadi kegagalan pertama bagi Indonesia untuk melaju ke fase gugur sepanjang sejarah keikutsertaan mereka.
Pengamat bulu tangkis Indonesia, Mohamad Kusnaeni, memberikan peringatan keras kepada PP PBSI atas penurunan prestasi ini. Ia menilai kekalahan tersebut menjadi sinyal adanya perubahan peta kekuatan pada level internasional yang harus segera direspons oleh federasi secara cepat.
"Kegagalan kali ini harus dimaknai secara serius karena ini pertanda telah bergesernya peta kekuatan bulu tangkis dunia," kata Kusnaeni saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Indonesia sebenarnya menurunkan jajaran pemain terbaiknya di sektor tunggal maupun ganda untuk turnamen kali ini. Namun, performa skuad Merah Putih dianggap tidak konsisten, terutama setelah sempat menang tipis 3-2 atas Thailand sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Prancis.
"Padahal tim Thomas Cup Indonesia datang ke Denmark dengan skuad terkuat. Hampir semua pemain terbaik kita di sektor tunggal maupun ganda ikut berangkat," ujarnya.
Sorotan tajam tertuju pada sektor tunggal putra setelah Alwi Farhan kalah dari pemain dengan peringkat lebih rendah, serta ketidakstabilan Jonatan Christie yang menyerah di tangan Kunlavut Vitidsarn dan Christo Popov. Kusnaeni menegaskan perlu adanya peninjauan ulang secara menyeluruh terkait hasil buruk ini.
"Tentunya harus ada evaluasi menyeluruh dari PP PBSI atas kegagalan ini," katanya.
Kusnaeni menambahkan bahwa level persaingan di fase grup seharusnya belum seberat tantangan di babak gugur. Ia menekankan bahwa kegagalan menghadapi lawan seperti Prancis dan kesulitan melawan Thailand menunjukkan posisi Indonesia yang tidak lagi dominan.
"Padahal, kita belum bertemu dengan lawan berat sekelas China, Korea Selatan, atau Denmark. Tekanan bermain di fase grup sesungguhnya juga belum seberat di fase gugur nanti," ujarnya.
Sebagai langkah solutif, Kusnaeni mendorong PP PBSI untuk mempercepat proses regenerasi dengan mengorbitkan nama-nama baru seperti Ubaidillah atau pasangan Indra Gunawan dan Joaquin. Langkah ini dinilai mendesak mengingat pemain senior seperti Anthony Sinisuka Ginting segera memasuki masa transisi.
"Tapi kita harus berani mengambil langkah regenerasi ini demi masa depan bulu tangkis Indonesia. Korea Selatan, Malaysia, bahkan China sudah lebih dulu berani melakukan hal itu dan sekarang mulai memetik hasilnya," kata Kusnaeni.