Mikel Arteta akhirnya buka suara mengenai keputusannya menunjuk Gabriel Magalhaes sebagai salah satu eksekutor penalti Arsenal. Hal ini menyusul kegagalan bek asal Brasil tersebut dalam laga krusial final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain (PSG).
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Puskas Arena pada Sabtu (30/5) tersebut harus diselesaikan lewat drama adu penalti. PSG berhasil keluar sebagai juara musim 2025/2026 setelah menumbangkan The Gunners dengan skor tipis 4-3.
Alasan Penunjukan Gabriel Sebagai Eksekutor
Keputusan Arteta menempatkan Gabriel sebagai penendang kelima memicu banyak pertanyaan di kalangan pendukung Arsenal. Pasalnya, sang pemain tercatat belum pernah mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor penalti bagi klub sebelumnya.
Dalam sesi konferensi pers setelah laga berakhir, Mikel Arteta memberikan penjelasan singkat terkait pilihannya tersebut. Pelatih asal Spanyol itu menegaskan bahwa faktor mental dan keinginan pribadi sang pemain menjadi pertimbangan utama.
Berikut adalah pernyataan resmi Mikel Arteta mengenai pemilihan penendang penalti :
- Kemauan Pemain: Arteta menyatakan bahwa Gabriel secara pribadi bersedia dan ingin mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor.
- Kesiapan Mental: Sang pelatih percaya bahwa keberanian pemain untuk maju adalah modal penting dalam situasi tertekan.
- Kebutuhan Tim: Mengingat laga berlangsung hingga adu penalti, tim membutuhkan pemain lain di luar daftar eksekutor reguler.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pemilihan Gabriel bukanlah keputusan sepihak, melainkan berdasarkan komunikasi di lapangan. Arteta menghargai keberanian beknya tersebut meski hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan tim.
Daftar Eksekutor Penalti Utama Arsenal
Biasanya, Arsenal memiliki daftar nama tetap yang ditugaskan untuk mengambil tendangan dari titik putih. Namun, dinamika di lapangan dan kelelahan setelah perpanjangan waktu memaksa tim pelatih untuk merombak susunan pemain yang maju.
Arteta memaparkan urutan penendang yang biasanya menjadi andalan The Gunners :
| Peringkat Prioritas | Nama Pemain | Status Eksekutor |
|---|---|---|
| 1 | Bukayo Saka | Pilihan Utama |
| 2 | Martin Odegaard | Pilihan Utama |
| 3 | Kai Havertz | Pilihan Utama |
| 4 | Gabriel Magalhaes | Pilihan Tambahan |
Tabel di atas menunjukkan bahwa dalam kondisi normal, Gabriel bukanlah prioritas utama untuk mengeksekusi penalti. Namun, situasi di final Liga Champions menuntut pemain lain untuk berani mengambil risiko demi memenangkan gelar.
Kegagalan Sejarah dan Kontroversi
Banyak pihak menilai masih ada nama lain yang lebih mumpuni untuk mengambil penalti kelima tersebut. Beberapa analis menyebut Noni Madueke atau Martin Zubimendi seharusnya lebih layak dipercaya dibandingkan Gabriel.
Kegagalan ini terasa sangat menyakitkan bagi Arsenal karena mereka gagal menyamai prestasi klub Inggris lainnya musim ini. Jika menang, Arsenal akan melengkapi dominasi Inggris di kancah Eropa bersama Aston Villa dan Crystal Palace.
Kekalahan ini juga membangkitkan memori pahit 20 tahun lalu saat Arsenal tumbang di tangan Barcelona pada final 2006. Harapan untuk mencetak sejarah baru di kompetisi tertinggi antarklub Eropa pun harus tertunda kembali.
Meskipun Gabriel menjadi sasaran kritik karena tendangannya melambung di atas mistar, Arteta tetap membela anak asuhnya. Bagi sang manajer, kekalahan ini adalah tanggung jawab kolektif seluruh tim yang telah berjuang maksimal di lapangan.