Pelatih Amir Ghalenoei mengusung misi besar bagi Timnas Iran untuk mencatatkan sejarah baru pada ajang Piala Dunia 2026. Target revolusioner telah ditetapkan, yakni membawa tim berjuluk Team Melli tersebut melaju ke babak sistem gugur untuk pertama kalinya.
Ekspektasi tinggi ini mencuat lantaran Iran belum pernah sekalipun lolos dari fase grup dalam enam edisi sebelumnya. Seperti dikutip dari Suara, Ghalenoei meyakini bahwa aspek mental dan teknis skuad saat ini mampu mematahkan tren negatif tersebut.
Dominasi yang ditunjukkan Iran di level Asia dipandang sebagai modal krusial untuk bersaing dengan negara-negara elit dunia tahun ini. Sang pelatih veteran menekankan bahwa para pemainnya telah menunjukkan dedikasi luar biasa sepanjang masa kualifikasi yang melelahkan.
"Kami menghadapi banyak masalah baru-baru ini, tetapi para pemain mencoba yang terbaik dan berkorban. Mereka bekerja sangat keras [melalui kualifikasi] dan banyak berkorban, jadi tugas saya adalah berterima kasih kepada mereka," ujar Ghalenoei.
Kepercayaan diri Ghalenoei didasarkan pada performa impresif timnya yang menjadi negara ketiga tercepat mengamankan tiket ke putaran final. Meski berada di grup yang menantang bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, tren positif Iran terus terlihat dari hasil uji coba.
Kemenangan telak dengan skor 5-0 atas Kosta Rika menjadi sinyal kuat bahwa lini serang Iran memiliki ketajaman yang patut diwaspadai. Ghalenoei juga memuji fokus anak asuhnya yang tetap terjaga meskipun kompetisi liga domestik sedang terhenti.
"Mereka bisa melakukan sesuatu yang epik di Piala Dunia. Mereka bisa melakukannya, mereka memiliki potensi teknis untuk menjadikan ini Piala Dunia yang patut diingat," tutur Ghalenoei.
Bagi pria berusia 62 tahun ini, sepak bola memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar pertandingan di lapangan. Ia memandang olahraga ini sebagai instrumen untuk menyatukan masyarakat yang tengah didera konflik internal.
Ia memimpikan sepak bola sebagai proyek global yang bisa merekatkan hubungan antarnegara, meniru pengaruh besar yang dimiliki oleh Brasil atau Argentina. Kesuksesan di lapangan hijau diharapkan bisa memberikan kebahagiaan bagi seluruh warga Iran di manapun mereka berada.
"I'm very proud of this team for many reasons, because we faced a difficult situation with all the problems and concerns, one of which was not being able to host matches, but we were one of the first teams to qualify for the World Cup," ungkapnya.
Visi besar Ghalenoei juga mencakup penggunaan momentum turnamen sebagai pesan perdamaian dunia. Ia yang telah berkecimpung di sepak bola Iran selama hampir 50 tahun memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan perkembangan olahraga di negaranya.
Strategi yang diusung bukan sekadar bertahan demi hasil akhir, melainkan menuntut permainan berkualitas tinggi untuk menghibur suporter. Pelajaran berharga dari partisipasi di edisi-edisi sebelumnya kini diimplementasikan pada skuad senior yang ia pimpin.
"Iran memiliki bakat khusus di mana di masa sulit kami menemukan atau menciptakan solusi. Kami berhasil mencapai level ini meskipun dalam situasi yang sulit. Saat ini, ada dua bulan tersisa hingga Piala Dunia, tetapi kita berada dalam momen yang sangat sulit," tambah Ghalenoei.
Langkah Iran menuju Amerika Utara diiringi semangat kebersamaan yang menjadi bahan bakar utama untuk menciptakan identitas baru di mata internasional. Ghalenoei pun memberikan penghormatan tinggi kepada dukungan moral yang diberikan oleh para suporter selama ini.
"Pandangan saya adalah melalui sepak bola kita dapat membawa kegembiraan bagi keluarga dan masyarakat Iran, baik di dalam maupun di luar negeri. Sepak bola adalah konsep atau proyek yang dapat mendekatkan negara dan bangsa. Itu bisa bersifat nasional atau global, seperti Argentina atau Brasil yang memiliki penggemar di mana-mana," kata Ghalenoei.
Timnas Iran akan mencoba peruntungan mereka untuk memutus kutukan fase grup setelah kegagalan pada edisi 1978, 1998, 2006, 2014, 2018, dan 2022. Turnamen ini menjadi pembuktian ketangguhan Iran di tengah bayang-bayang penangguhan liga domestik dan tantangan logistik.