Skandal besar mengguncang jagat sepak bola Italia setelah terungkapnya jaringan prostitusi kelas atas yang melibatkan banyak pemain Serie A. Investigasi mendalam yang dipimpin oleh Kejaksaan Milan berhasil membongkar praktik ilegal ini yang beroperasi di balik kedok agensi promosi acara.
Dilansir dari Detik Sport, perusahaan yang menjadi pusat penyelidikan ini berbasis di Cinisello Balsamo. Agensi tersebut diketahui menjalankan jaringan prostitusi mewah dengan menyasar kalangan klien berpenghasilan tinggi sebagai target utama mereka.
Modus operandi yang dijalankan adalah dengan menawarkan paket hiburan malam di berbagai klub malam serta hotel berbintang. Layanan ini mencakup jasa seksual berbayar dari pekerja seks profesional dengan tarif fantastis yang mencapai ribuan euro per malam.
Penyidik menemukan bahwa jaringan ini memiliki sistem yang sangat terorganisir, mulai dari proses perekrutan wanita melalui petugas hubungan masyarakat hingga pengaturan logistik yang ketat. Semua dilakukan demi menjamin kerahasiaan serta privasi para klien eksklusif mereka.
Dalam penggerebekan tersebut, pihak berwenang juga menemukan indikasi penggunaan gas tertawa dalam beberapa sesi layanan hiburan. Kejaksaan Milan telah menetapkan empat orang sebagai tersangka atas dugaan membantu dan mendukung praktik prostitusi tersebut.
Selain penangkapan, petugas menyita aset senilai 1,2 juta euro atau setara dengan Rp 24 miliar. Uang tersebut diyakini merupakan hasil dari aktivitas ilegal yang telah dijalankan oleh agensi tersebut selama menjalankan operasinya.
Data yang diperoleh penyelidik menunjukkan bahwa pelanggan tetap jaringan ini mencakup pengusaha hingga puluhan pesepakbola ternama. Beberapa pemain dilaporkan menggunakan layanan ini segera setelah pertandingan berakhir melalui acara yang disusun secara khusus.
Berdasarkan laporan dari Gazzetta dello Sport melalui unggahan akun @TouchlineX pada 21 April 2026, setidaknya terdapat 50 pemain Serie A dan seorang pembalap F1 yang teridentifikasi dalam jaringan ini. Agensi tersebut diketahui mengambil komisi sebesar 50 persen dari setiap transaksi klien.
Laporan dari Sassuolo News bahkan menyebutkan angka yang lebih besar, yakni sekitar 70 pemain dari berbagai klub papan atas Italia. Nama-nama pemain dari Inter Milan, AC Milan, Juventus, Sassuolo, hingga Verona disebut-sebut muncul dalam dokumen dokumentasi agensi tersebut.
Meskipun puluhan nama pemain muncul dalam daftar klien, hingga saat ini belum ada pesepakbola yang secara resmi masuk dalam status penyelidikan. Nama mereka sejauh ini hanya tercatat sebagai pengguna jasa dalam dokumen yang disita oleh pihak kepolisian.