Pasangan Shindy Samuel dan Rendy Samuel menghadiri sidang cerai perdana di Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada Rabu (6/5/2026). Dilansir dari Detik Hot, proses mediasi yang dijalani keduanya belum membuahkan kesepakatan penuh, terutama mengenai persoalan hak asuh anak.
Kuasa hukum Shindy Samuel, Ardik Putra Pratama, menjelaskan bahwa mediasi hanya menyepakati sebagian poin gugatan, sementara sisanya akan berlanjut ke persidangan. Fokus utama pihak Shindy saat ini adalah memenangkan hak asuh atas buah hati mereka.
"Dari beberapa poin yang ada ini, baru sebagian yang disepakati. Untuk nafkah iddah tadi sebagian. Tapi yang lain-lain belum. Karena hak asuh anak pun kita masih akan bertarung di pengadilan," tambah Ardik Putra Pratama selaku kuasa hukum Shindy Samuel.
Upaya hukum untuk memperoleh hak asuh anak tersebut didasarkan pada aturan hukum Islam mengenai batas usia anak. Ardik menegaskan bahwa secara regulasi, anak yang belum dewasa secara hukum seharusnya berada di bawah pengawasan ibunya.
"Kalau di KHI (Kompilasi Hukum Islam), sebelum anak berumur 12 tahun itu masih di bawah asuhan ibunya. Jadi, kami akan memperjuangkan hak asuh anak di pengadilan," jelasnya.
Ardik juga menyatakan bahwa kliennya berkomitmen untuk menjamin seluruh kebutuhan pendidikan anak tanpa mengkhawatirkan aspek finansial. Shindy disebut siap memberikan fasilitas terbaik demi masa depan sang buah hati.
"Intinya, Kak Shindy ini mau dari sekolah, dari semuanya mau yang terbaik lah buat anaknya. Tidak peduli biaya. Sampai detik ini Kak Shindy masih sanggup untuk membiayai," ujarnya.
Sementara itu, Shindy Samuel mengungkapkan rasa sedihnya ketika membahas kondisi anak dalam hubungannya dengan Rendy. Ia menyoroti adanya perbedaan mendasar mengenai prinsip pola asuh yang diterapkan oleh suaminya.
"Karena kan beliau mungkin cara mendidik anaknya beda, and memang bersikeras itu adalah cara mendidik," tutur Shindy.
Shindy menyatakan keberatan atas metode pengasuhan tertentu yang dianggapnya membatasi ruang gerak anak. Selain itu, terdapat pula perbedaan pendapat terkait pemilihan sekolah, di mana Shindy menginginkan anak tetap di sekolah saat ini.
"Saya tidak terima sih yang namanya seorang ibu kan anaknya sering dididik kurungan, kayak dikurung gitu," ungkap Shindy.
Kesiapan finansial untuk membiayai sekolah yang berkualitas ditekankan oleh Shindy sebagai bentuk tanggung jawabnya. Ia menegaskan kemandirian ekonominya selama ini menjadi modal utama dalam menjamin kesejahteraan anak.
"Sanggup, karena selama ini aku yang kerja," tegasnya.
Perselisihan mengenai pola asuh ini menjadi perhatian serius bagi Shindy, mengingat kondisi perkembangan anaknya yang membutuhkan penanganan khusus. Shindy menyebut sang anak sempat mengalami keterlambatan bicara sehingga memerlukan perhatian ekstra dalam proses pendidikannya.