Grup musik Sheila On 7 resmi meluncurkan karya terbaru bertajuk Sederhana yang merefleksikan prinsip hidup para personelnya di tengah popularitas besar mereka. Peluncuran lagu ini menjadi manifestasi dari gaya hidup sehari-hari Duta, Eross, dan Adam yang tetap membaur dengan masyarakat di Yogyakarta sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Vokalis Sheila On 7, Duta, mengungkapkan bahwa preferensi hidup ketiga anggota band memiliki kemiripan meskipun sempat merasakan godaan duniawi pada masa awal karier. Penyesuaian gaya hidup tersebut akhirnya bermuara pada pemenuhan kebutuhan fungsional daripada sekadar mengikuti tren kemewahan selebritas di ibu kota.
"Selera dan cara menjalani hidup kami bertiga ini mirip-mirip. Zaman awal album pasti ada keingina, pas ke Jakarta lihat artis-artis lain pembawaannya seperti apa. Tapi akhirnya belanja kita lebih ke kebutuhan," kata Duta di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun para personel memiliki prioritas pengeluaran yang berbeda, mereka tetap memegang prinsip fungsionalitas. Duta menegaskan bahwa kesadaran tersebut muncul setelah mereka melewati berbagai fase sebagai figur publik.
"Secara industri mungkin penjualannya kurang (album Pejantan Tangguh) dibanding album sebelumnya, tapi secara kepuasan musik kami sangat puas," kata Duta.
Duta mengakui adanya sisi idealisme yang sangat kuat saat grup tersebut menginjak usia delapan tahun dalam berkarier. Hal ini merujuk pada keputusan band untuk mengesampingkan arahan label musik demi kepuasan artistik pribadi.
"Kami egois, gak mikirin pendengar," sambungnya.
Gitaris Sheila On 7, Eross Candra, turut menceritakan pengalaman pribadinya dalam memaknai kesederhanaan melalui proses pembelajaran dari kesalahan masa lalu. Ia mencontohkan bagaimana dirinya pernah membeli barang hanya atas dasar keinginan tanpa nilai guna yang nyata.
"Manusia beda-beda, tapi saya tipikal orang yang harus ngerasain jatuh dulu baru tahu kalau jatuh itu sakit. Dulu beli barang cuma karena pengin, tapi gak kepakai itu pernah," aku Eross.
Eross menjelaskan bahwa bertambahnya usia memberikan perspektif baru dalam menghadapi godaan materi dan proses kreatif dalam menciptakan lagu. Baginya, setiap kegagalan di masa lalu merupakan modal penting untuk menghasilkan karya yang memiliki kedalaman makna.
"Seiring berjalannya waktu, kalau keinginan datang lagi, saya lihat ke belakang. Saya bisa menulis tentang rasanya basah karena saya pernah jatuh ke sungai," ungkapnya.
Evaluasi terhadap masa lalu juga mencakup cara band menyikapi referensi musik mereka agar lebih bijak dalam proses produksi album di masa depan. Eross menekankan pentingnya bagi musisi generasi baru untuk mengambil hikmah dari pengalaman pahit yang pernah dialami senior mereka.
"Setelah itu baru kami belajar. 'Oh oke, referensi yang seperti ini bijak kalau dituangkan di album, yang itu mending gak usah'. Jadi buat musisi baru, belajarlah dari pengalaman," tutur Eross.