Manajemen AS Roma secara resmi memberhentikan Claudio Ranieri dari jabatannya sebagai penasihat senior klub pada Jumat (24/4/2026). Keputusan ini mengakhiri masa bakti sosok veteran tersebut setelah sempat menjabat sebagai pelatih sementara pada musim sebelumnya.
Dilansir dari Detik Sport, klub ibu kota Italia tersebut menyampaikan apresiasi atas dedikasi Ranieri selama masa transisi yang sulit. Namun, dalam pernyataan resminya, pihak manajemen menegaskan fokus penuh pada arah baru klub di bawah kendali teknis saat ini.
"Klub ingin mengucapkan terima kasih kepada Claudio atas kontribusinya yang signifikan kepada Roma. Ia memimpin tim melewati masa yang sangat menantang dan kami akan selalu berterima kasih atas usahanya," bunyi pernyataan Roma.
Pihak manajemen menambahkan bahwa stabilitas visi menjadi prioritas utama organisasi dalam menatap persaingan mendatang.
"Saat kami menatap masa depan, arah kami jelas. Klub ini kuat, dengan kepemimpinan yang solid dan visi yang terdefinisi. Roma akan selalu menjadi prioritas utama," lanjut pernyataan resmi klub.
Penegasan dukungan juga diberikan kepada pelatih kepala yang baru menjabat musim ini untuk membawa prestasi bagi tim.
"Kami memiliki keyakinan penuh pada jalan yang akan ditempuh di bawah kepemimpinan Gian Piero Gasperini, dengan tujuan bersama untuk tumbuh, berkembang, dan memberikan hasil yang layak untuk sejarah kita," tulis pernyataan tersebut.
Ranieri sebelumnya sempat membawa Roma finis di posisi kelima klasemen akhir Serie A musim lalu setelah bergabung pada November 2024. Meskipun mendapat tawaran melatih Timnas Italia, ia memilih bertahan di Olimpico sebagai eksekutif sebelum hubungan dengan pelatih kepala memanas.
Ketegangan bermula ketika Ranieri mengkritik pernyataan Gasperini mengenai manajemen transfer dan staf medis klub. Menanggapi pemberhentiannya, Ranieri menyebut bahwa keputusan ini diambil secara sepihak oleh organisasi.
"Berakhirnya tugas saya sebagai penasihat senior disebabkan oleh keputusan sepihak dari klub," bunyi pernyataan Ranieri kepada kantor berita Italia, ANSA.
Mantan pelatih Leicester City itu menegaskan bahwa prinsip profesionalisme dan kecintaan terhadap klub menjadi alasan utamanya dalam bertindak selama ini.
Ia menekankan bahwa kepergiannya disebabkan oleh "kewajiban terhadap transparansi, kejelasan dalam tindakan pribabdi, kesetiaan dan kebenaran fakta, serta kecintaan pada seragam yang terasa seperti kulit kedua."
Meski tidak menyebut nama Gasperini dalam salam perpisahannya, Ranieri menyampaikan apresiasi kepada pemilik klub dan para pendukung setia Giallorossi.
"(Saya) mengucapkan terima kasih kepada keluarga Friedkin (pemilik Roma), tim, karyawan, dan seluruh pendukung Giallorossi atas kasih sayang luar biasa yang telah mereka tunjukkan selama bertahun-tahun, yang selalu dibalas sepenuhnya. Forza Roma sempre," kata Ranieri.
Di sisi lain, Gian Piero Gasperini memberikan respons terkait situasi tersebut dalam sesi konferensi pers pada hari yang sama. Ia menyatakan tetap fokus pada tanggung jawabnya di tim tanpa merasa berselisih secara pribadi.
"Pengumuman itu menyoroti dua hal: Kepercayaan (pada saya), yang tak pernah kurang sejak hari pertama, dan juga bahwa Roma adalah yang terpenting," kata Gasperini.
Gasperini juga mengaku tidak ambil pusing dengan pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh Ranieri sebelumnya terkait posisinya di klub.
"Saya sendiri juga terkejut mengetahui saya tak memiliki perasaan apapun terhadap apa yang ia (Ranieri) katakan," ujar Gasperini.
Ia menutup tanggapannya dengan menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan manajemen terkait nasib Ranieri.
"Saya tak melakukan apapun. Jangan menempatkan saya di posisi yang sama, saya tak melakukan apapun terhadap siapapun," jelas Gasperini.